Pernyataan manis dua tahun lalu ternyata tidak ada realisasi apa pun. Bahkan, deforestasi (pembabatan hutan) makin meningkat, dan pemerintah terus mengeluarkan kebijakan yang mendukung perusakan hutan dan kawasan lahan gambut. Presiden SBY telah mengecewakan 60.000 penanda tangan petisi ini, serta jutaan orang Indonesia lain yang peduli terhadap hutan.
Indonesia tercatat sebagai negara ketiga terbesar di dunia yang menyumbang emisi gas rumah kaca dari sektor deforestasi. Beberapa waktu belakangan, setiap tahunnya pemerintah Indonesia memberi izin untuk melakukan pembabatan 1,8 juta hektar hutan – sama besarnya dengan lima kali luas Pulau Bali. Pada saat bersamaan, Indonesia termasuk negara paling rentan terkena dampak buruk perubahan iklim, saat ini pun Indonesia sudah terkena berbagai bencana seperti banjir, kenaikan permukaan air laut, longsor, dan gagal panen produk-produk pertanian.
Menjelang ajang pemilihan Presiden dan pertemuan iklim yang sangat penting di Bonn, Jerman, lebih dari 60.000 warga Indonesia ini meminta langkah nyata. Greenpeace juga meminta akuntabilitas.
Pekan lalu, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Laut Dunia, yang membicarakan mengenai peran laut dalam menstabilkan perubahan iklim.
Perlindungan laut sangat penting untuk perlindungan keragaman hayati, dan laut adalah penyerap karbon yang cukup besar. Tetapi, Pemerintah Indonesia memalingkan perhatian dari sumber krisis utama. Karena dengan penghentian pembabatan hutan adalah cara paling murah dan efektif untuk menghindari dampak mengerikan dari perubahan iklim. Indonesia masih berharap menuai keuntungan dari gerakan internasional menurunkan emisi global, yakni dana pelindungan hutan dari negara-negara maju. Tetapi dana itu tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak melakukan langkah penting, yakni mengeluarkan moratorium atau penghentian sementara penebangan hutan.