Saat ini di seluruh dunia sudah terbukti bahwa industri tenaga
nuklir tengah mengalami kejatuhan, walaupun para pelaku industri
tetap gencar melakukan kampanyenya. Pada kenyataannya saat ini
industri tenaga nuklir blum dapat mengatasi masalah yang sudah ada
sejak 40 tahun lalu. dari 435 rekator yang kini beroperasi
kenyataannya sangat jarang pembangunan di lakukan tepat waktu dan
biaya pembangunan yang jauh dari rencana semula. Sejak tahun 2008
tidak ada reaktor baru beroperasi di dunia. di bandingkan dengan
pembagunan pembangkit listrik tenaga angin yang sedang gencar di
bangun hingga kapasitas 27 megawatt.
Pada April lalu, Susilo Bambang Yudhoyono pada kampanyenya
menyatakan tidak akan membangun reaktor nuklir selama energi
alternatif masih tersedia. Juni lalu, Perusahaan Listrik Negara
tidak melihat tenaga nuklir adalah bagian pengembangan enegi di
Indonesia.
Indonesia mempunyai cadangan energi geothermal terbesar di dunia
yang belum digunakan, meski sudah ada rencana untuk mensuplai 5
gigawatt pada 2014. Greenpeace mendesak pemerintah untuk
meningkatkan target energi terbarukan, terutama geothermal, angin,
matahari dan mikrohidro, dengan cara memperbaiki hukum dan
regulasi, yang selama ini menjadi hambatan utama dalam pengembangan
energi terbarukan. Hambatan terhadap pengembangan energi terbarukan
ini membuat Indonesia masih terus bergantung pada energi fosil
kotor dan melirik energi nuklir yang berbahaya.
Indonesia saat ini baru memanfaatkan kurang dari 5% potensi
energi terbarukannya. Greenpeace menekankan perlunya kepemimpinan
yang kuat untuk segera menerapkan peraturan guna memanfaatkan
sumber energi terbarukan yang ada. Indonesia harus mencontoh negara
tetangga Filipina, yang pada akhir 2008 pemerintahnya menerapkan
Undang-Undang Energi Terbarukan yang mampu mendorong negara ini
menuju masa depan energi bersih, dan membawa keuntungan secara
ekonomi serta mengurangi emisi karbon.