Saat ini produksi minyak kelapa sawit adalah penyebab utama
pembabatan hutan di Asia Tenggara, proses pembukaan area dan
pembakaran hutan tropis dan lahan gambut untuk dijadikan lahan
kelapa sawit juga menyebabkan pelepasan karbon dioksida dalam
jumlah besar. Dampaknya, Indonesia kini menjadi negara terbesar
ketiga penyumbang emisi gas rumah kaca di dunia (2). Deforestasi
besar-besaran ini juga menyebabkan beberapa spesies seperti Orang
Utan dan Harimau Sumatra terancam punah.
Greenpeace mendesak Pemerintah Finlandia menggunakan wewenangnya
untuk menghentikan penggunaan minyak sawit oleh Neste Oil, dan
mencegah mereka menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar
di masa mendatang. Cara paling signifikan untuk mengurangi emisi
adalah membuat efisiensi energi pada mobil-mobil, dan membangun
sistem transportasi rendah karbon dan hemat energi.
Neste Oil menggunakan minyak kelapa sawit sebagai komponen utama
diesel NExBTL mereka dan memasarkannya sebagai alternatif yang
lebih ramah lingkungan dibanding minyak yang bersumber dari fosil.
Marketing "Hijau" ini bertolak belakang dengan hasil penelitian
banyak ilmuwan yang dirilis tahun lalu, yang menyatakan ladang
kelapa sawit yang dibangun dengan melakukan deforestasi ternyata
berlipat-lipat dampaknya dalam menghancurkan iklim dibanding
pemakaian minyak konvensional (3).
Baru-baru ini Neste Oil mengumumkan rencana mereka untuk
melakukan peningkatan produksi secara drastis dan membangun kilang
NExBTL di Finlandia, Singapura dan Belanda, yang rencananya akan
dimulai pada 2009, 2010, dan 2011 (4). Jika rencana ini terwujud,
maka perusahaan ini akan menggunakan paling tidak 1,5 juta metrik
ton minyak sawit per tahun, membuat perusahaan ini akan jadi
konsumen minyak sawit terbesar di dunia. Berdasarkan kalkulasi,
kenaikan permintaan ini akan menyebabkan paling tidak penambahan
325.000 hektar lagi ladang kelapa sawit, atau lebih besar dari
keseluruhan wilayah negara Luksemburg.
"Biodiesel minyak sawit bukanlah solusi untuk perubahan iklim,
dan justru menambah parah, karena akan semakin banyak hutan tropis
yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan minyak sawit sebagai bahan
bakar kendaraan bermotor. Greenpeace juga mendesak pemerintah
Indonesia untuk segera mengimplementasikan moratorium penebangan
hutan, termasuk menghentikan pembukaan lahan gambut menjadi
industri minyak sawit. Negara-negara maju harus mengurangi emisi
mereka dan mendanai negara berkembang seperti Indonesia dalam upaya
memelihara dan melindungi hutan, karena ini adalah solusi
sesungguhnya untuk perubahan iklim" ujar Joko Arif, Jurukampanye
Hutan Greenpeace Asia Tenggara.
"Jika Pemerintah Finlandia serius mengatasi masalah perubahan
iklim ini, mereka harus menghentikan investasi pada perusakan
hutan, dan mulai memberikan dana secara signifikan untuk program
perlindungan hutan, serta berinvestasi pada pengembangan energi
terbarukan, seperti bahan mentah berbasis sampah," imbuh Maija
Suomela, jurukampanye Minyak Kelapa Sawit Greenpeace
Skandinavia.
Neste Oil menyatakan bahwa sumber minyak kelapa sawit yang
digunakan berasal dari perkebunan kelapa sawit di Malaysia yang
sudah berjalan. Tetapi kepada Greenpeace perusahaan itu tidak bisa
menyajikan bukti dari pernyataan itu. Mereka juga gagal menunjukkan
bukti dari mana mereka akan mendapatkan minyak kelapa sawit untuk
peningkatan produksi ini. Perusahaan gas Swedia, OKQ8 juga telah
menolak menjual produk dari Neste Oil ini.
Greenpeace juga mendesak Finlandia untuk memberi dana 1 miliar
Euro per tahun hingga 2020, kepada negara berkembang termasuk
Indonesia, sehingga negara-negara ini bisa menyusun program
mengatasi masalah perubahan iklim dengan melindungi hutan dan
mengembangkan energi bersih.
Dana ini termasuk dari keseluruhan 110 miliar Euro yang harus
diberikan Uni Eropa dan negara-negara maju lain, sebagai bagian
dari persetujuan yang harus disepakati pada pertemuan iklim di
Kopenhagen Desember mendatang.
(1) Pemerintah Finlandia kuasai 50,1 % saham Neste Oil.
http://nesteoil.com/default.asp?path=1;41;540;1259;1261;2357;4401
(2) World Resources Institute, The Climate Analysis Indicators Tool
(3) Fargione, J., Hill, J., Tilman, D., Polasky, S., Hawthorne, P.
2008. Land Clearing and the Biofuel Carbon Debt, Science 1235-1238.
(4) www.nesteoil.com (5) Deforestation causes a fifth of global
greenhouse gas emissions, more than the entire transport sector in
the world. IPCC A R 4 (2007): WGIII Ch1 (6) Untuk melihat berapa
banyak negara Uni Eropa seharusnya memberikan dana, lihat
http://www.greenpeace.org/financing-eu-responsibility.