Semenanjung Kampar, Riau, Indonesia.
Organisasi lingkungan global menandai pembukaan perundingan
dengan memasang patung setinggi tiga meter (1) yang menggambarkan
bumi berada dalam ambang kehancuran akibat 'gelombang besar' CO2.
Patung tentang 'Planet Bumi: Titik Tak-Terpulihkan' atau tipping
point, memperlihatkan planet yang rapuh terpuruk di bawah
'gelombang' raksasa yang terbuat dari kayu dan batu bara. Patung
Ini akan tetap berada disana sebagai pengingat para juru runding
setiap hari bahwa taruhan mereka tidak boleh lebih tinggi.
"Dampak perubahan iklim ternyata melebihi perkiraan para ilmuan"
ungkap Arief Wicaksono, Penasehat Politik Greenpeace Asia Tenggara,
"Namun kepemimpinan dalam perundingan ini masih belum terlihat.
Seperti halnya peserta lain, pemerintah Indonesia harus memahami
kegentingan dari krisis dan serius untuk mengambil tindakan."
Tahun lalu, setelah para ilmuan merampungkan laporan yang
mengejutkan(2) menggambarkan masa depan yang suram di bawah
pengaruh perubahan iklim, pemerintah negara-negara peserta
Konferensi Perubahan Iklim PBB di Bali berjanji untuk merampungkan
perjanjian pada Desember 2009 di Kopenhagen untuk menyelamatkan
iklim. Satu tahun berlalu, emisi gas rumah kaca akan terus
meningkat dan lelehnya es baik di kutub selatan maupun utara telah
melebihi skenario terburuk para ilmuan. Namun belum ada kemajuan
yang jelas pada perundingan. Secara harafiah, jutaan kehidupan
berada dalam resiko, bersama dengan konsekuensi kehancuran ekonomi
dan kepunahan spesies.
Di Poznan, para pemerintah harus menyepakati:
- "Visi Iklim' yang akan memenuhi ambang yang disepakati ilmu
pengetahuan: Emisi global mencapai puncak pada tahun 2015
- membuat rancangan perjanjian dan memulai perundingan pada bulan
Maret
- Rencana kerja yang detail untuk dirampungkan pada saat
Kopenhagen pada Desember 2009 dan
- Negara maju harus menyetujui target pengurangan gas rumah kaca
hingga diatas batas 25-40%, seperti yang diidentifikasi oleh
IPCC
Saat ini Indonesia kehilangan hutan lebih cepat dari negara
pemilik hutan lainnya. Menurut FAO(2006) Sedikitnya Indonesia
kehilangan 1.8 juta hektar pertahun, menempatkan Indonesia salah
satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar. Sumber utama emisi
rumah kaca Indonesia adalah penggundulan hutan dan pengeringan
lahan gambut yang kaya akan karbon.
Pada bulan Juli 2008 di pertemuan G8 di Hokaido, Presiden
Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono membuat komitmen untuk
mengurangi emisi gas rumah kaca di Indonesia dari penggundulan
hutan pada tahun 2009. "enam bulan setelah komitmen Hokaido, kami
melihat sedikit tindakan untuk mengurangi penggundulan hutan yang
membabi buta ini. Kami mendesak Presiden Yudhoyono untuk segera
menerapkan moratorium atas semua konversi hutan, termasuk
perluasan perkebunan kelapa sawit, industri perkayuan dan hal lain
yang mengarah pada penggundulan hutan," tambah Wicaksono.
"Delegasi Indonesia di Poznan harus melakukan tindakan yang
bertanggung jawab dengan mendukung tata kelola hutan yang
berkelanjutan dan rehabilitasi hutan, tidak hanya mengejar 'dana
kompensasi'yang hanya memberi keuntungan untuk industri perkayuan
dan kelapa sawit, dan tidak melakukan apapun untuk menurunkan
emisi" tegas wiicaksono
Greenpeace memperingatkan bahwa di Kopenhagen tahun depan
perjanjian global harus dicapai untuk menyelamatkan iklim. Ini
artinya kesepakatan yang memastikan emisi gas rumah kaca tertinggi
pada tahun 2015, dan diturunkan secara dramatis.
Untuk memperlihatkan keseriusan mereka pada pengurangan emisi,
Greenpeace mendesak pemerintah untuk mengambil langkah awal yang
mudah dengan menerapkan moratorium segera atas seluruh konversi
hutan, termasuk perluasan perkebunan kelapa sawit dan industri
perkayuan serta hal lain yang menyebabkan penggundulan hutan.
Sebagai anggota yang bertanggung jawab dari komunitas
internasional, Indonesia perlu mengurangi emisinya yang berasal
dari penggundulan hutan, dikombinasikan dengan menghentikan
penggunaan batu bara, mendorong investasi energi terbarukan dan
melakukan program efisiensi energi skala besar.
(1) Patung terbuat dari kayu (mewakili pengrusakan hutan tropis
yang sedang terjadi yang menyumbang sekitar 20% emisi global) dan
batu bara muda (batu bara menyumbang hingga 30% dari emisi C02),
dibuat oleh seniman Belanda Ruut Evers. (2) Laporan keempat The
Intergovernmental Panel on Climate Change dirampungkan pada bulan
2007. http://www.ipcc.ch Photos/video akan tersedia
Katakan Kepada Presiden Indonesia!
Ayo, bergabung bersama kami untuk mendesak Presiden menetapkan secepatnya moratorium deforestasi!
Dukung Kami!
Yup, Greenpeace adalah organisasi kampanye independen. Dukungan finansial dari individu-individu seperti anda adalah tulang punggung untuk kampanye-kampanye Greenpeace