Berita - 10 Desember, 2009
Greenpeace hari ini memaparkan bukti-bukti baru yang membongkar kegiatan pembabatan hutan ilegal Sinar Mas Grup di Kalimantan dan meminta Presiden Republik Indonesia untuk melakukan pencabutan sementara izin semua perusahaan di bawah Sinar Mas Grup. Sinar Mas juga telah dikenal dalam keterlibatannya membabat hutan ilegal melalui perusahaan subsider mereka Asia Pulp and Paper (APP).
Greenpeace melakukan aksi di depan kantor SINAR MAS di jakarta
Laporan baru Greenpeace menunjukkan bagaimana operasi
perusahaan ini di Kalimantan melangar hukum dan juga melanggar
beberapa prinsip Perkumpulan Perusahaan Minyak Kelapa Sawit
Berkelanjutan - Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), dimana
Sinar Mas menjadi anggotanya dengan cara membabat hutan dan
mengeringkan serta mengkonversi lahan gambut dalam tanpa Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan yang menyeluruh serta izin yang
benar.
Sebelumnya di tahun ini, Gandi Sulistiyanto, salah satu direktur
Sinar Mas menyatakan kepada Reuters: "Kami harus ditahan jika
terbukti pernah terlibat dalam deforestasi".
"Dengan bukti baru yang kita
beberkan ini, Presiden SBY harus bertindak mencabut sementara semua
izin mereka. Kami juga langsung mendesak perusahaan-perusahaan
multinasional tidak melakukan bisnis dengan penjahat," ujar Joko
Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.
Indonesia adalah satu negara dengan
tingkat deforestasi tercepat di dunia. Kerusakan hutan lahan gambut
di negara ini saja tercatat sebagai 4% penyumbang emisi gas rumah
kaca dunia , menjadikan Indonesia sebagai negara terbesar ketiga
penyumbang emisi global setelah Amerika Serikat dan China.
"Bukti ini jelas-jelas menunjukkan
bahwa membeli minyak kelapa sawit dari anggota RSPO tidak
melindungi konsumen dari pembelian yang terhubung dengan perusakan
hutan dan iklim. Satu-satunya solusi adalah menerapkan moratorium
seluruh pembabatan hutan dan lahan gambut dari semua produsen
kelapa sawit," tegas Joko.
Greenpeace juga mendesak Presiden
Yudhoyono untuk mengimplementasikan segera moratorium (penghentian
sementara) untuk mencegah kerusakan hutan dan lahan gambut
Indonesia lebih lanjut. Presiden mempunyai dasar ideal untuk
mewujudkan komitmen ini saat menghadiri Pertemuan Iklim Penting PBB
di Kopenhagen, dimana perlindungan hutan untuk mengurangi emisi
global sedang dibahas. Greenpeace merekomendasikan terbentuknya
dana global untuk menghentikan deforestasi di negara seperti
Indonesia dan Brasil, dimana negara maju harus menginvestasikan
dana 45 miliar US$ pertahun untuk perlindungan hutan.
Dukung Kami
Greenpeace adalah organisasi kampanye independen. Dukungan finansial dari individu-individu seperti anda adalah tulang punggung untuk kampanye-kampanye Greenpeace