Skip navigation.
25 August, 2008: Greenpeace ship, Esperanza, is welcomed into Port 
Morseby by traditional dance groups and mudmen to begin the Forest for 
Climate ship tour. The Paradise Forests of Indonesia and Papua New 
Guinea are disappearing at a faster rate than any other forests on the 
planet. Deforestation releases huge amounts of greenhouse gas, 
contributing to dangerous climate change.

Para awak Kapal Greenpeace Esperanza, mendapat sambutan di pelabuhan Port Moresby, Papua Nugini

Besarkan Gambar

Port Moresby, Papua nugini — Greenpeace melakukan pelayaran untuk perlindungan hutan dan iklim dengan sambutan yang luar biasa di Papua Nugini. Kapal Greenpeace, Esperanza akan melakukan pelayaran di beberapa wilayah untuk melindungi hutan dan memperlihatkan betapa kerusakan hutan akan sangat mempengaruhi perubahan iklim.

Beberapa foto kedatangan Esperanza 

Masyarakat adat adalah masyarakat  mayoritas di dataran Papua Nugini(PNG). Mereka mempunyai keanekaragaman budaya yang  sangat luar biasa dengan lebih dari 800 bahasa daerah yang ada. Mereka mempunyai kepercayaan tinggi terhadap hutan mereka, yang merupakan rumah dimana mereka tinggal, tempat mencari kebutuhan hidup, obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan air. Tetapi mereka kehilangan semuanya karena keresakahan perusahaan penebangan kayu  

Penebangan di Hutan 

Kerusakan hutan surgawi yang ada di Indonesia dan Papua Nugini mengalami kerusakaan lebih cepat dibandingan dengan hutan-hutan lain di dunia. Kerusakan hutan juga membinasakan masyarakat, budaya dan keaneka ragaman hayati yang ada.   

Penggundulan hutan telah menyumbang 20% emisi gas rumah kaca (GRK) setiap tahunnya, Penyebab perubahan iklim. Hutan tropis dapat menangkap karbon di tanah dan pepohonan. Seperti spon/busa mereka menyerap karbon dioksida yang dilepaskan ketika manusia membakar bahan bakar fosil untuk energi. 

Kita harus menjaga luasan hutan untuk “meredam” emisi gas rumah kaca (GRK) dan melawan perubahan iklim. 

Pelayaran “Forest for Climate” Greenpeace

Kapal Esperanza dengan membawa spanduk bertuliskan “Banisim bus abrusim klaimet senis” bahasa Pidgin (sebutan untuk bahasa Papua Nugini) artinya “Stop Penghancuran hutan stop Penghancuran iklim“ 

Greenpeace akan melakukan pelayaran di wilayah hutan surgawi, dan akan mempertanyakan pemerintah untuk melakukan  STOP Pengundulan Hutan di tahun 2015  

Pada saat kedatangan Esperanza di Port Moresby, langsung di sambut oleh Gubernur Powes Pakop, yang memuji Greenpeace dengan mengatakan Esperanza membawa harapan untuk Papua Nugini. Beliau menekankan bahwa dampak dari perubahan iklim akan menjadi suatu penderitaan, dan menegaskan “ Saatnya untuk bertindak, Kita tidak perlu menunggu Perjanjian Kyoto untuk melakukan sesuatu”