Anda di sini:
Para awak Kapal Greenpeace Esperanza, mendapat sambutan di pelabuhan Port Moresby, Papua Nugini
Besarkan GambarSuara gendang dan lagu-lagu tradisional bersautan mengiringi Kapal Esperanza yang berlabuh di pelabuhan Tropical heat, Port Morseby. Para awak kapal disambut dengan tarian tradisonal suku Huli, Kairuku dan tarian Oro yaitu tarian manusia lumpur yang berasal dari dataran pantai dan pegunungan. Para penari dengan berbusana tradisional yang berasal dari serat pohon kayu manis dan daun pandan, dedaunan, bulu-bulu burung dan lumpur.
Beberapa foto kedatangan Esperanza
Masyarakat adat adalah masyarakat mayoritas di dataran Papua Nugini(PNG). Mereka mempunyai keanekaragaman budaya yang sangat luar biasa dengan lebih dari 800 bahasa daerah yang ada. Mereka mempunyai kepercayaan tinggi terhadap hutan mereka, yang merupakan rumah dimana mereka tinggal, tempat mencari kebutuhan hidup, obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan air. Tetapi mereka kehilangan semuanya karena keresakahan perusahaan penebangan kayu
Penebangan di Hutan
Kerusakan hutan surgawi yang ada di Indonesia dan Papua Nugini mengalami kerusakaan lebih cepat dibandingan dengan hutan-hutan lain di dunia. Kerusakan hutan juga membinasakan masyarakat, budaya dan keaneka ragaman hayati yang ada.
Beberapa Testimoni dari hutan(Versi: Inggris)
Penggundulan hutan telah menyumbang 20% emisi gas rumah kaca (GRK) setiap tahunnya, Penyebab perubahan iklim. Hutan tropis dapat menangkap karbon di tanah dan pepohonan. Seperti spon/busa mereka menyerap karbon dioksida yang dilepaskan ketika manusia membakar bahan bakar fosil untuk energi.
Kita harus menjaga luasan hutan untuk “meredam” emisi gas rumah kaca (GRK) dan melawan perubahan iklim.
Pelayaran “Forest for Climate” Greenpeace
Kapal Esperanza dengan membawa spanduk bertuliskan “Banisim bus abrusim klaimet senis” bahasa Pidgin (sebutan untuk bahasa Papua Nugini) artinya “Stop Penghancuran hutan stop Penghancuran iklim“
Greenpeace akan melakukan pelayaran di wilayah hutan surgawi, dan akan mempertanyakan pemerintah untuk melakukan STOP Pengundulan Hutan di tahun 2015
Pada saat kedatangan Esperanza di Port Moresby, langsung di sambut oleh Gubernur Powes Pakop, yang memuji Greenpeace dengan mengatakan Esperanza membawa harapan untuk Papua Nugini. Beliau menekankan bahwa dampak dari perubahan iklim akan menjadi suatu penderitaan, dan menegaskan “ Saatnya untuk bertindak, Kita tidak perlu menunggu Perjanjian Kyoto untuk melakukan sesuatu”