Ulah polisi ini menyusul aksi Greenpeace yang membentangkan
banner raksasa di daerah hutan yang sedang dirusak bertuliskan:
"Obama: Anda Bisa Menghentikan Ini" dan aktivis lain merantai diri
mereka sendiri di tujuh eksavator APRIL. Aktivis bertekad tidak
akan menghentikan aksi sampai APRIL, salah satu perusahaan pulp dan
kertas terbesar di Indonesia, mengumumkan kepada publik bahwa
mereka akan berhenti menghancurkan hutan di lahan gambut. Aksi juga
bertujuan untuk mengingatkan para pemimpin dunia, terutama Presiden
Amerika Serikat Barrack Obama dan Presiden Indonesia Susilo Bambang
Yudhoyono, bahwa mereka tinggal punya beberapa minggu lagi untuk
melakukan sesuatu guna menghindarkan bencana iklim dengan cara
menghentikan perusakan hutan di sini dan di belahan dunia lain.
"Sangat mengejutkan bahwa aparat Indonesia memilih untuk
menindak Greenpeace dan masyarakat yang sedang mempertahankan
hutan, dibanding menindak penjahat hutan sebenarnya seperti APRIL
yang secara tamak dan ilegal merusak hutan gambut kita yang
berharga, mengorbankan masyarakat Indonesia dan iklim. Kegiatan
perusakan rutin ini telah mendapat izin dari pejabat yang saat ini
sedang diinvestigasi karena kasus korupsi, membuat Indonesia
menjadi negara penyumbang emisi terbesar ketiga di dunia," ujar
Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.
"Presiden Yudhoyono telah berkomitmen untuk mengurangi emisi
Indonesia hingga 41%. Kami menolongnya mewujudkan komitmen itu jadi
kenyataan dengan menunjukkan area prioritas untuk dilindungi,"
imbuhnya.
Greenpeace membuka Kamp dua minggu lalu untuk menarik perhatian
pentingnya peran perusakan hutan hujan dan lahan gambut dalam
perubahan iklim menjelang pertemuan penting Iklim PBB di Kopenhagen
Desember mendatang. Kamp ini mendapat dukungan luas diantaranya
dari bintang film " 'Inglourious Basterds' Melanie Laurent, legenda
musik Indonesia Iwan Fals, dan Duta Besar AS untuk Indonesia
Cameron Hume.
"Sangat ironis polisi mau mematuhi instruksi dari Gubernur yang
saat ini sedang dalam penyidikan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK)
karena secara ilegal memberi izin tebang, dan perusahaan yang
melanggar instruksi Presiden untuk melindungi lahan gambut, dan
lebih parah lagi belum punya izin yang benar-benar sah," ujar Nur
Hidayati, Country Representative Indonesia Greenpeace Asia
Tenggara. "Greenpeace mendesak Presiden untuk melakukan hal yang
benar dengan menindak perusak hutan, bukannya yang melakukan aksi
damai untuk melindungi hutan. Ini kesempatan besar untuk
menunjukkan keseriusan Presiden dalam agenda kerja 100 harinya
untuk mengakhiri mafia hukum dan menghormati komitmennya untuk
mengurangi emisi."
"Menghentikan deforestasi di negara seperti Indonesia sangat
penting untuk menanggulangi bencana perubahan iklim. SBY dan
pemimpin negara lainnya punya kesempatan bersejarah untuk
menyepakati perjanjian di Kopenhagen untuk melindungi hutan di
seluruh dunia," Nur berkesimpulan.
Secara global, jutaan hektar hutan dirusak setiap bulannya
-seluas sebuah lapangan sepak bola setiap dua detiknya-
mengeluarkan banyak sekali CO2 sehingga deforestasi menjadi salah
satu penyebab utama perubahan iklim, menyumbang sekitar seperlima
emisi gas rumah kaca global. Emisi dari deforestasi membuat
Indonesia menjadi negara penyumbang emisi terbesar ketiga di dunia
setelah China dan Amerika Serikat.
Menghentikan deforestasi di seluruh dunia adalah cara termudah
dan tercepat untuk mengurangi emisi dan berkaitan dengan itu perlu
negara-negara maju menginvestasikan US$42 miliar (30 miliar euro)
per tahun untuk program perlindungan hutan. Sebagai imbalannya,
Presiden Indonesia Yudhoyono, Presiden Brasil Lula dan pemimpin di
negara-negara yang punya hutan lainnya harus menghentikan perusakan
hutan dan lahan gambut sebelum 2020, dimulai dengan penerapan
segera moratorium (penghentian sementara) deforestasi.