Para aktivis Greenpeace membentangkan spanduk berukuran 20x50 meter dengan gambar wajah Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Nicholas Sarkozy di lahan gambut yang baru saja dhancurkan oleh PT. Arara Abadi-siak anak perusahaan APP di Kampar, Riau.
"Uni Eropa mengakumulasi utang
karbon historisnya dengan memicu deforestasi dan penghancuran hutan
di luar negara mereka. Saatnya kini para pemimpin Uni Eropa
bertanggung jawab untuk berkomitmen memberi bantuan dana publik
dalam jumlah yang sepadan untuk mencegah hilangnya hutan tropis
yang tersisa." tegas Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace
Asia Tenggara.
Indonesia memiliki laju deforestasi
tertinggi diantara negara-negara yang memiliki hutan di dunia dan
menjadi contoh nyata perlunya rencana matang yang didukung dengan
dana bantuan internasional untuk melindungi hutan tropis. Dimotori
permintaan pasar dunia terhadap produk kertas dan minyak kelapa
sawit, sejak 1950 lebih dari 74 juta hektar hutan Indonesia telah
sepenuhnya hancur, ditambah area sekitar yang juga mengalami
kerusakan berat.
Kehancuran lahan gambut di Indonesia
saja bertanggungjawab atas 4% emisi global gas rumah kaca hasil
tindakan manusia, menjadikan Indonesia negara ketiga terbesar
penghasil gas rumah kaca setelah Amerika Serikat dan Cina.
Tingginya emisi tersebut disebabkan oleh dua alasan - pesatnya laju
deforestasi dan degradasi serta pembakaran lahan gambut. Lahan
gambut di Asia Tenggara diperkirakan menyimpan 42 milyar ton karbon
dan sekitar 80% atau 35 milyar ton dari jumlah tersebut tersimpan
di Indonesia. Lahan gambut di Indonesia mewakili hanya kurang dari
0,1% dari luas tanah di bumi namun bertanggung jawab akan 1,8
milyar ton emisi per tahun.
Pemerintah Indonesia baru-baru ini
mengidentifikasi industri kayu, minyak kelapa sawit, pertanian,
serta pulp (bubur kertas) dan kertas sebagai penyebab kekeringan
lahan gambut, deforestasi dan emisi yang dihasilkan Indonesia.
Dalam laporan disebutkan bahwa bila tidak ada tindakan tegas yang
dilakukan, diperkirakan kadar pelepasan emisi tersebut akan terus
meningkat.
Pada pertemuan negara-negara G20 di
Pittsburgh, Amerika Serikat, Presiden Yudhoyono berkomitmen
mengurangi emisi karbon Indonesia sebesar 26% pada tahun 2020 -
meningkat ke angka 41% dengan dukungan internasional. Dengan
melakukan ini, Presiden menunjukkan kemauan keras dan kepemimpinan
yang kuat dari Indonesia. Semangat ini sangat dibutuhkan untuk
membantu dunia menghindari kekacauan iklim.
"Sebagai Presiden dari negara dengan
hutan tropis terbesar yang tersisa, kata-kata Presiden Yudhoyono
adalah harapan untuk jutaan orang yang sudah menderita akan dampak
perubahan iklim. Agar beliau dapat mengubah komitmennya menjadi
tindakan, beliau membutuhkan bantuan finansial dari negara-negara
maju untuk mewujudkan komitmennya. Para pemimpin Uni-Eropa harus
menunjukkan sikap kepemimpinan seperti Presiden Yudhoyono dan
berikan dukungan nyata terhadap sesuatu yang mereka percayai,
dengan segera memberikan dana" jelas Shailendra Yashwant, Direktur
Kampanye Greenpeace Asia Tenggara.
Bagi Greenpeace, dukungan Uni-Eropa
harus ditunjukkan setidaknya dengan komitmen yang jelas dari para
pemimin Uni Eropa untuk:
-
Mendukung pengembangan pendanaan
global untuk iklim dibawah Perjanjian Iklim UNFCCC, dijalankan oleh
mekanisme finansial baru yang kuat dan mengikat secara hukum yang
akan menggerakkan setidaknya 30 milyar Euro dari pendanaan publik
per tahun untuk periode 2013-2020, ditujukan untuk pembiayaan
pengembangan dan implementasi rencana nol deforestasi di
negara-negara tropis.
-
Meniadakan skema kredit
pertukaran-emisi pada hutan (forest offset) dari pasar karbon
internasional - REDD harus menjadi tambahan untuk pengurangan emisi
dalam negeri dari negara-negara Annex 1 dan tidak boleh menciptakan
kerugian untuk perubahan yang diperlukan menuju ekonomi masa depan
yang rendah karbon.
-
Mempromosikan tujuan membawa laju
deforestasi hutan tropis menuju angka nol sebelum 2020 - Upaya
untuk mengurangi namun tidak mengakhiri deforestasi tropis tidak
hanya akan memperpanjang masalah, namun juga tidak akan
menghadirkan hasil yang diperlukan untuk menghindari bahaya
perubahan iklim, kepunahan spesies dan kehancuran ekosistem.
-
Mengutamakan perlindungan hutan
alam seutuhnya (REDD), dan meniadakan subsidi untuk kegiatan hutan
untuk industri (REDD+) yang akan mengancam keanekaragaman hayati
dan kesatuan ekologi, serta seringkali menjadi jalan untuk tindak
deforestasi. Sangatlah penting untuk memastikan pendanaan publik
untuk REDD tidak digunakan untuk subsidi perkebunan tanaman
industri ("HTI"), penebangan kayu di hutan tropis dan konversi
hutan alam menjadi perkebunan.
-
Menyatakan secara jelas bahwa masa
depan mekanisme REDD dikeluarkan dan dirancang untuk berkontribusi
terhadap tujuan Perjanjian PBB terhadap Keanekaragaman Hayati.
Dampak terhadap keanekaragaman hayati harus secara eksplisit
dipertimbangkan dalam segala tata cara, peraturan dan kegiatan
REDD.
Dukung Kami!
Greenpeace adalah organisasi kampanye independen. Dukungan finansial dari individu-individu seperti anda adalah tulang punggung untuk kampanye-kampanye Greenpeace. Greenpeace menolak pendanaan dari pemerintah ataupun perusahaan untuk tetap menjaga independen dalam berkampanye.