Koalisi Break Free Indonesia Mengecam Penyerangan Terhadap Novel Baswedan

Siaran Pers - 11 April, 2017
Jakarta, 11 April 2017. Koalisi Break Free Indonesia, Greenpeace, WALHI, dan JATAM, mengecam keras atas terjadinya insiden penyerangan orang tak dikenal terhadap salah satu penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan, pagi ini.

“Aksi penyerangan ini merupakan aksi teror terhadap upaya pemberantasan korupsi, dan sangat mengejutkan seluruh rakyat Indonesia yang ingin pemerintahannya bersih dan bebas dari praktik korupsi. Ini bukti bahwa para koruptor sedang panik dan berusaha melawan keras”, ucap Leonard Simanjuntak, Kepala Greenpeace Indonesia.

Pada 23 Maret yang lalu, Koalisi Break Free Indonesia bersama masyarakat terdampak industri batubara mengunjungi KPK untuk memberikan dukungan agar KPK menuntaskan kasus-kasus yang terindikasi kuat terjadi praktik korupsi di bidang sumber daya alam khususnya yang berkaitan kuat dengan industri batubara, baik di sektor pertambangan maupun pembangunan pembangkit listrik.

Aksi penyerangan ini bukanlah yang pertama kali dialami oleh Novel Baswedan. Patut diduga, bahwa aksi penyerangan ini adalah upaya segelintir orang yang ingin melemahkan tugas dan wewenang KPK, untuk memberantas korupsi. Pasalnya, Novel Baswedan, dikenal sebagai sosok penyidik berintegritas tinggi yang mengungkap dan mengusut kasus-kasus korupsi yang tergolong besar.

Kepolisian Republik Indonesia harus melindungi siapapun rakyat Indonesia dari segala bentuk kejahatan dan intimidasi, penyidik KPK harus mendapatkan perlindungan penuh. Tidak hanya itu, masyarakat terdampak yang melawan praktik industri kotor juga sering mengalami intimidasi dan kriminalisasi untuk melemahkan perlawanan mereka.

“Kejadian yang dialami oleh Novel Baswedan membuktikan bahwa koruptor melakukan perlawanan dengan melakukan penyerangan langsung kepada penyidik KPK. Serangan ini mengancam upaya penyidikan korupsi yang dilakukan oleh KPK. “Kami berharap serangan ini tidak melemahkan upaya KPK untuk melakukan penindakan korupsi-korupsi besar termasuk korupsi sumber daya alam,” ujar Sawung, pengkampanye urban dan energi dari WALHI.

“Kejadian yang menimpa penyidik KPK, Novel Baswedan, bisa dilihat sebagai upaya pihak tertentu dalam memperlemah dan menghambat proses penegakan hukum terhadap berbagai kasus korupsi yang terjadi, termasuk korupsi di sektor sumber daya alam. KPK sebagai satu-satunya lembaga negara yang sedang serius mengusut berbagai kasus (dugaan) praktik korupsi di sektor Minerba, patut diduga menjadi ancaman serius bagi penguasa dan pengusaha terlibat dalam skandal korupsi sumber daya alam”, tegas Merah Johansyah, Koordinator JATAM.

“Presiden Jokowi mesti bertanggung jawab, guna membongkar berbagai teror kepada KPK melalui tim pencari fakta secara independen yang melibatkan berbagai pihak dan menunjukkan kebijakan yang mendukung pemberantasan korupsi”, demikian kata Merah.  



Kontak media:

Leonard Simanjuntak, Kepala Greenpeace Indonesia, 08119696217  

Nur Hidayati, Direktur Eksekutif WALHI Nasional, 081316101154

Merah Johansyah, Koordinator JATAM Nasional, 081347882228

Melky Nahar, Kepala Kampanye JATAM, 081338036632

Didit Wicaksono, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, 081319815456

Dwi Sawung, Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan WALHI, 08156104606