Anda di sini:
Isi formulir berikut ini dan klik tombol "kirim". Server anda akan mengirim e-mail kepada penerima dengan URL artikel yang akan anda bagi.
Anda dapat mengirim lebih dari satu alamat e-mail dengan dipisahkan dengan KOMA: nama@server.com, nama.lain@serverlain.com
Delapan relawan Greenpeace hari Jumat 16 November 2007 naik dan memasang spanduk bertuliskan “Palm Oil Kills Forests and Climate” (Kelapa sawit Membunuh Hutan dan Iklim) di tangki penampung minyak kelapa sawit mentah di Pelabuhan Dumai, Riau. Tepat di seberang tangki itu, kapal Greenpeace Rainbow Warrior terus menghadang kapal tanker MT Westama, yang bermuatan sekitar 30.000 ton kelapa sawit, yang siap berangkat. Greenpeace bertindak untuk membeberkan dampak buruk dari industri kelapa sawit terhadap lahan gambut dan hutan di Indonesia serta iklim global. Menjelang berlangsungnya pertemuan internasional perubahan iklim di Bali dalam dua minggu ini, Greenpeace menyerukan agar pembabatan hutan dihentikan dan menjadi bagian dari langkah untuk mengatasi perubahan iklim.
Besarkan Gambar“Kami bertindak untuk membeberkan dampak buruk dari industri
kelapa sawit terhadap lahan gambut dan hutan di
Tangki-tangki yang dipanjat merupakan bagian dari perluasan
fasilitas penampungan kelapa sawit di Dumai. Dermaga di depan Rainbow Warrior
tengah diperpanjang untuk menampung lebih banyak kapal tanker.
Propinsi Riau merupakan tempat bagi 25
persen dari seluruh perkebunan kelapa sawit
Pengembangan perkebunan kelapa sawit sampai ke hutan dan
lahan gambut menjadi ancaman serius bagi iklim global dan sisa hutan di Indonesia.
Rencana perluasan kelapa sawit di Riau sangat mungkin mengakibatkan “bom waktu
iklim.’ Lahan gambut di
Riau yang menyimpan 14.6 miliar ton karbon –
besaran yang menyamai emisi gas rumah kaca di dunia selama setahun (1).
“Permintaan global untuk
kelapa sawit dipakai untuk produksi makanan, kosmetik dan bahan bakar (biofuel)
menyebabkan deforestasi dan perubahan iklim,” kata Juru Kampanye Kehutanan
Greenpeace International Sue Connor. “Membabat, mengeringkan dan membakar hutan
lahan gambut di
Dua-setengah minggu sebelum pemerintah-pemerintah
dunia bertemu dalam putaran perundingan iklim di
“Perusahan-perusahaan tersebut harus segera
menghentikan pembelian minyak kelapa sawit sampai mereka mampu menjamin bahwa produk
itu bukan berasal dari perkebunan yang terkait dengan pembabatan hutan,” kata
Connor.
Perluasan kebun kelapa sawit merupakan penyebab utama
deforestasi di
“Kami menginginkan agar Pemerintah
“Riau hanya satu contoh d rencana pengembangan besar-besaran
industri kelapa sawit,” kata Maitar. “Hutan-hutan dan lahan gambut di kawasan
lain di Indonesia, seperti di Sumatra,
Pada perundingan iklim di
08 November 2007
1) Lahan gambut di Riau menyimpan 14,6 miliar ton karbon. Sumber: Wahyunto et al (2003): Maps of Area of Peatland Distribution and Carbon Content in Sumatra, 1990-2002. Wetlands International -- Indonesia Programme & Wildlife Habitat Canada (WHC).
Laporan Greenpeace bertajuk "Cooking the Climate” (Menggoreng Iklim) yang dikeluarkan 8 November 2007, menunjukkan sejumlah merek-merek dagang terkenal di dunia terlibat dalam penghancuran hutan lahan gambut di Indonesia, yang menjadi salah satu sumber emisi gas rumah kaca.
Laporan terdapat di: http://www.greenpeace.org/cookingtheclimate
Ringkasan laporan terdpat di: http://www.greenpeace.org/cookingtheclimate/summary
Foto dan video, hubungi: Foto: Daniel Beltra, Greenpeace International photo manager +44 (0) 207 865 8230 Video dapat diperoleh dari Jill Woodward, Greenpeace International video producer +31 646 162 015 Cuplikan dapat dilihat di layanan pers: www.greenpeace.org/international/press/video-previews Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia: Chris Nusatya, Media Campaigner +62 21 3101873 / +62 812 107 8050 Arie Rostika Utami, Media Assistant +62 856 885 7275