Skip navigation.
Sebuah spanduk bertuliskan "Don't Ambush Our Future! Stop Nuclear And 
Climate Chaos!" dipasang sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia di Tugu 
Selamat Datang, Jakarta, Minggu (19/11). Aksi mereka ini untuk 
mengecam Presiden Amerika Serikat George W. Bush yang akan berkunjung 
ke Indonesia pada, Senin (20/11) atas tidak adanya tindakan atas 
perubahan iklim di negaranya.

Sebuah spanduk bertuliskan "Don't Ambush Our Future! Stop Nuclear And Climate Chaos!" dipasang sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia di Tugu Selamat Datang, Jakarta, Minggu (19/11). Aksi mereka ini untuk mengecam Presiden Amerika Serikat George W. Bush yang akan berkunjung ke Indonesia pada, Senin (20/11) atas tidak adanya tindakan atas perubahan iklim di negaranya.

Besarkan Gambar

Jakarta, Indonesia — Aktivis Greenpeace hari ini memanjat Tugu Selamat Datang di Jakarta dan membentangkan spanduk bertuliskan "DON'T AMBUSH OUR FUTURE! STOP NUCLEAR AND CLIMATE CHAOS!" mengecam Presiden Amerika Serikat George W. Bush atas tidak adanya tindakan atas perubahan iklim. Bush datang ke Indonesia besok untuk bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ilmuwan di seluruh dunia secara bersama-sama telah menyerukan segera dilakukan upaya-upaya untuk menghentikan perubahan iklim, namun pemerintahan Bush menolak untuk ikut serta dalam upaya global mengatasi perubahan iklim, dimana dampak-dampak terburuknya harus dialami oleh negara-negara berkembang di Asia dan Afrika.

"Bush akan diingat karena menutup mata atas kenyataan terjadinya perubahan iklim sebagaimana juga atas fakta terjadinya perbanyakan pemakaian energi nuklir dan senjata nuklir yang berbahaya. Generasi yang akan datang akan menanggung seluruh konsekuensi dan dampak perubahan iklim jika kita tidak bertindak sekarang," kata Nur Hidayati dari Greenpeace Asia Tenggara. "Amerika Serikat harus berkomitmen untuk menurunkan secara nyata emisi gas rumah kacanya untuk membantu mengatasi perubahan iklim. Masyarakat miskin seperti di Indonesia lah yang mau tidak mau akan lebih merasakan dampak dari perubahan iklim yang makin menjadi-jadi."

Mulai dari melelehnya gunung es di belahan bumi utara, hingga kekeringan parah dan banjir di Asia dan Afrika, kejadian perubahan iklim telah menghancurkan kehidupan dan sumber penghidupan masyarakat di seluruh dunia. Ilmuwan bahkan telah memprediksikan satu skenario buruk dalam waktu dekat jika dunia terus mengemisikan gas rumah kaca, yang diakibatkan dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, minyak dan gas, pada tingkat seperti sekarang ini.

From melting glaciers of the northern hemisphere, to severe droughts and floods in Asia and Africa, the advent of climate change has ravaged lives and livelihoods across the globe. Scientists even paint a worse scenario in the near future if the world continues emitting greenhouse gases, caused by burning fossil fuels like coal, oil and gas, at current rates.

Amerika Serikat merupakan pengemisi terbesar di dunia dengan tingkat emisi mencapai 20% dari total emisi global. Namun pemerintah AS menolak kewajiban menurunkan emisi gas rumah kaca, yang berarti juga penurunkan penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan arah menuju energi yang bersih dan terbarukan di seluruh dunia. Sebaliknya, Bush mempromosikan alternatif yang berbahaya, yaitu energi nuklir, yang bukan merupakan solusi perubahan iklim dna bahkan menimbulkan ancaman secara langsung terhadap masyarakat.

"Asia akan menjadi lebih baik jika Bush memilih untuk ikut serta dengan negara lainnya dalam mendorong kebijakan yang agresif untuk menghambat perubahan iklim. Masyarakat kami akan lebih diuntungkan jika Bush mempromosikan energi terbarukan di wilayah ini ketimbang mempromosikan nuklir yang berbahaya,"

Greenpeace adalah organisasi kampanye yang independen, yang menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap problem lingkungan hidup, dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai.

Informasi visi, video, foto dan laporan

Photos and video available upon request. www.greenpeace.or.id

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

  • Nur Hidayati, Climate and Energy Campaigner, Greenpeace Southeast Asia, +62 812 9972642
    Arie Rostika Utami, Media Assistant, +628568857275
    Arthur Jones Dionio, Regional Media Campaigner, +6614451398