Anda di sini:
Foto diambil oleh penerbang paramotor Greenpeace sebagai bagian dari kegiatan memantau titik api di hutan-hutan dan lahan gambut di kawasan kebun kelapa sawit di atas wilayah Desa Kuala Cenaku di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Paramotors (paraglider atau paralayang menggunakan mesin) diluncurkan dari lokasi Kamp Pembela Hutan (Forest Defenders Camp/FDC) di Desa Kuala Cenaku, yang dibuka 9 Oktober lalu. FDC merupakan bagian kampanye Greenpeace untuk menghentikan hancurnya hutan dan lahan gambut yang sebagian disebabkan oleh perkebunan kelapa sawit. Pengrusakan hutan mengakibatkan hilangnya sejumlah keanekaragaman-hayati dan menambah banyak emisi gas rumah kaca. Dalam jangka waktu dekat, menjelang diselenggarakannya UNFCCC di Bali, Greenpeace menyerukan agar pemerintah Indonesia agar bersungguh-sungguh memberlakukan moratorium atas konversi dan pengrusakan lahan gambut di Indonesia. Deforestasi menyumbang sekitar seperlima dari seluruh emisi gas rumah kaca.
Besarkan GambarDalam pidatonya kemarin di London, Presiden Direktur Unilever Patrick Cescau mendukung seruan Greenpeace untuk menghentikan kerusakan hutan dan lahan gambut Indonesia demi minyak kelapa sawit. Beliau juga berjanji bahwa pada tahun 2015 seluruh pasokan minyak kelapa sawit Unilever akan dihasilkan dari proses yang berkelanjutan. Kendati demikian kelompok lingkungan hidup ini mengingatkan bahwa tanpa adanya penghentikan deforestasi, upaya Unilever untuk memastikan pasokan minyak kelapa sawitnya aman bagi hutan akan terancam gagal.
Keputusan ini diambil sebagai tanggapan atas kampanye Greenpeace yang mengungkapkan bagaimana pemasok minyak kelapa sawit Unilever secara aktif melakukan pembukaan lahan pada hutan dan lahan gambut di Indonesia serta menghancurkan habitat orang utan dalam prosesnya. Penghancuran hutan dan lahan gambut Indonesia menyumbang pada emisi gas rumah kaca global. Greenpeace menyerukan moratorium konversi hutan dan pengeringan lahan gambut demi perluasan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, Malaysia, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon.
”Pemasok Unilever seperti Sinar Mas, ADM-Kuok
Wilmar serta IOI (1) harus memperhatikan signal kuat dari salah satu pengguna
utama minyak kelapa sawit dunia serta mengentikan penghancuran hutan dan lahan
gambut serta iklim demi perluasan lahan perkebunan kelapa sawit. Sudah jelas
bahwa tekanan ke arah tersebut akan meningkat seiring dengan banyaknya
perusahaan yang mendukung seruan untuk memberlakukan moratorium deforeatasi,”
ujar Arief Wicaksono, penasihat politik Greenpeace Asia Tenggara.
Berdasarkan data ijin konversi lahan untuk perkebunan dan penggunaan pertanian lainnya, Indonesia sudah menghancurkan lebih dari 28 juta hektar hutan sejak tahun 1990. Sembilan juta hektar di antaranya merupakan pengalihan lahan untuk perkebunan kelapa sawit atau hutan tanaman industri (2). Industri di Indonesia berencana memperluas hingga 20 juta hektar lagi, dan sebagian besar menargetkan hutan dan lahan gambut.
Wicaksono melanjutkan: “Melihat data statistik yang ada penghancuran hutan demi minyak kelapa sawit lebih lanjut jelas tidak perlu terjadi. Greenpeace tidak ingin menyerukan dihentikannya kegiatan sektor kelapa sawit tetapi menyerukan agar sektor tersebut berhenti merusak hutan, lahan gambut serta iklim demi pengembangan kelapa sawit. Kami menyerukan industri kelapa sawit serta pemerintah Indonesia agar segera memberlakukan moratorium deforestasi.”
Greenpeace juga menyerukan perusahaan besar pengguna minyak kelapa sawit lainnya serta anggota inisiatif dunia bagi sawit berkelanjutan atau Roundtable on Sustainable Palm Oil (termasuk Procter & Gamble, Kraft, dan Nestle) untuk bergabung dengan Unilever dan segera menyetujui penghancuran hutan yang sedang berlangsung.
Minggu lalu para sukarelawan Greenpeace memasuki kantor pusat Unilever di seluruh Eropa menggunakan pakaian orang utan untuk menyorot peran perusahaan ini dalam penghancuran hutan demi minyak kelapa sawit.
KELAPA SAWIT – FAKTA PENTING
• Deforestasi merupakan salah satu penyumbang perubahan iklim dan mencakup sekitar seperlima emisi gas rumah kaca dunia, lebih dari sektor transport.
• Penyelidikan lapangan Greenpeace pada bulan April 2008 menemukan bukti adanya pembukaan lahan gambut serta penghancuran habitat orang utan oleh para pemasok kelapa sawit Unilever.
(www.greenpeace.org/international/press/reports/how-unilever-palm-oil-supplier).
• Lahan gambut di Indonesia bertanggung jawab atas 4% emisi gas rumah kaca dunia – sedangkan area yang dimaksud hanyalah 0.1% dari permukaan bumi.
• Indonesia tercatat dalam buku rekor dunia Guiness sebagai negara dengan tingkat deforestasi tercepat di dunia. Negara ini kehilangan 2% dari tutupan hutannya setiap tahun dan perluasan lahan perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu factor pendorong terjadinya deforestasi.
• Unilever merupakan salah satu perusahaan pengguna minyak kelapa sawit di dunia – pihak perusahaan mengakui menggunakan 4% dari jumlah keseluruhan produksi dunia. Unilever mengunakan minyak kelapa sawit dalam produk beberapa mereknya yang terkenal di dunia seperti Dove, Persil dan Flora.
• Unilever memimpin inisiatif dunia untuk minyak kelapa sawit berkelanjutan yang disebut Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). RSPO bertujuan untuk menjadikan sektor kelapa sawit mengadopsi praktek yang berkelanjutan. Terlepas dari kenyataan bahwa RSPO sudah berdiri sejak tahun 2002 sampai sekarang minyak kelapa sawit tersertifikasi belum tersedia di pasaran.
• Kurang lebih 1500 orang utan mati di lahan perkebunan kelapa sawit selama tahun 2006.
• Greenpeace menyerukan moratorium – penghentian menyeluruh – semua bentuk deforestasi dan konversi lahan gambut di Asia Tenggara demi perluasan minyak kelapa sawit serta bagi pemain besar seperti Unilever, Procter&Gamble dan Nestle agar berhenti membeli dari pemasok yang menhancurkan hutan serta lahan gambut.
(1) Pemasok minyak kelapa sawit Unilever mencakup Sinar Mas, IOI, ADM-Kuok-Wilmar, Sime Darby, Musim Mas, Astra Agro dan Asian Agri.
(2) Suharto (2007); FAO (2005. Lihat Greenpeace (2007) “Bagaimana Industri Minyak Kelapa Sawit Menggoreng Iklim”. http://www.greenpeace.org/international/press/reports/cooking-the-climate-full