Anda di sini:
“Diantara beberapa keputusan fast track yang diambil oleh
pemerintah militer sebelumnya, persetujuan 1.38 triliun baht untuk studi
pembangkitan energi nuklir oleh Mr. Pivasvasti Amranand (mantan menteri
energi), pada hari terakhir dinasnya, terdapat uang sisa yang besar dan tidak
akan di arahkan pada isu nyata ketahanan energi.” menurut Tara Buakamsri, Juru
Kampanye Greenpeace.
Dana yang bernilai 1.3 trilliun baht disetujui oleh NPDO
yang baru terbentuk untuk melaukkan studi kelayakan, seleksi lokasi,
perencanaan penerimaan publik dan pengembangan dari kemampuan tekniks yang
dibutuhkan untuk personil lokal untuk memulai perencanaan pengembangan nuklir
Thailand.
Banyak
optimisme yang muncul melalui lobby nuklir adalah lebih retorik daripada
realita, tenaga nuklir telah terbukti diseluruh dunia bahwa tidak ekonomis dan
merusak lingkungan. Pemerintahan yang baru seharusnya tidak membuang 1.38 baht
untuk meneliti hal yang sudah diketahui dan sebaliknya melakukan investasi
terhadap hal yang lebih menjanjikan dan secara cepat menyikapi perubahan
iklim dan ketahanan energi.” lanjut Tara Buakamsri.
Secara global,
tenaga nuklir terlihat trend-nya menurun. Saat
ini terdapat 439 reaktor nuklir yang beroperasi di dunia. Itu berarti berkurang
lima dari lima tahun lalu. Terdapat 32 unit yang terdaftar oleh International
Atomic Energy Agency (IAEA) yang “under construction”. Berkurang Dua puluh dari
akhir 1990. Negara anggota Uni Eropa saat ini mengoperasikan 146 unit,
berkurang 20 dari 1989. Selaiin masalah lingkungan dan kesehatan, kekurangan
daya kerja yang terlatih, kompetensi yang sangat kurang, masalah rancang
bangun, kekurang percayadirian pada institusi finansial internasional,
competitor yang kuat dari gas alam yang sangat dinamis. (10 Sementara itu,
ribuan ton limbah radioaktif dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)
sangat membahayakan bagi kehidupan di planet, seperti tidak adanya solusi yang
aman untuk pembungangan sampai saat ini.
“PLTN adalah mimpi yang membahayakan, tidak hanya
mengancam kedamaian dan stabilitas regional, komunitas sekitar lokasi PLTN akan
hidup dalam ketakutan berkepanjangan terhadap kecelakaan nuklir, seperti
bencana Chernobyl di Rusia.” Menurut Mr. Nuruddin Amin dari Nahdhlatul Ulama
Jawa, Indonesia.