Anda di sini:
Isi formulir berikut ini dan klik tombol "kirim". Server anda akan mengirim e-mail kepada penerima dengan URL artikel yang akan anda bagi.
Anda dapat mengirim lebih dari satu alamat e-mail dengan dipisahkan dengan KOMA: nama@server.com, nama.lain@serverlain.com
Greenpeace campaigners Hapsoro (left, from Indonesia) and Ginger Cassady (from San Francisco, California) displays a banner that says “Stop Forest Crime” at a logging operation along the coast of Papua. Greenpeace flagship, the Rainbow Warrior, sailed into Papua to highlight the destruction of Paradise Forests, the last ancient forests in Asia-Pacific. The ancient forests of Indonesia are being destroyed faster than any other forest on Earth, fuelled by demands from the European Union, USA, Japan and China.
Besarkan Gambar
“Hutan di Pulau Papua sangat
penting bagi kehidupan sehar-hari masyarakat Papua. Namun hutan di Pulau Papua
juga memberi manfaat bagi seluruh dunia sebagai ’paru-paru bumi’. Kami ingin
mendukung masyarakat dan Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan Provinsi Papua
Barat melindungi hutan untuk memetik manfaat sebesar-besarnya, dan bukan dari
pembalakan atau pembukaan hutan untuk kelapa sawit.” ungkap Bustar Maitar, Juru
Kampanye Hutan Greenpeace.
Krisis iklim – pemanasan muka
bumi – telah mendorong keadaan iklim yang tidak stabil, termasuk banjir dan
kekeringan, meningkatnya tinggi permukaan air laut lebih dari satu meter, serta
menyusutnya luas salju dipegunungan.
“Kami sangat prihatin terhadap
dampak-dampak sosial dan lingkungan hidup akibat pengembangan perkebunan kelapa
sawit dan pembalakan hutan yang ternyata sangat kecil manfaat langsungnya bagi
masyarakat setempat. Kami yakin Papua memiliki peluang untuk membuka jalur baru
yang memungkinkan masyarakat mengelola hutannya untuk tujuan jangka-panjang,”
tegaskan Septer Manufandu, Sekretaris Eksekutif FOKER LSM Papua.
Maksimum 9 juta hektar hutan di
Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat telah diidentifikasi oleh Departemen
Kehutanan untuk dikonversi. Belajar dari pengalaman daerah lain di Indonesia,
konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit telah menimbulkan dampak
sosial dan lingkungan hidup yang serius: konflik penguasaan tanah, konflik
perburuhan, lenyapnya bahan pangan penting, semakin terbatasnya sumberdaya
untuk kesehatan dan bahan bangunan, pencemaran dan peracunan akibat penggunaan
pestisida, dan juga potensi lenyapnya ekosistem hutan untuk selama-lamanya.
Pada Desember tahun ini
Indonesia akan menjadi tuan rumah bagi 180 negara yang akan berkumpul pada
konferensi dunia yang sangat penting tentang perubahan iklim di Bali untuk
memutuskan bagaimana negara – Negara kaya dapat membantu perlindungan secara
global hutan-hutan tropika di Papua, Amazon dan Congo.