Anda di sini:
Masyarakat Balong Jepara melakukan penolakan terhadap rencana pembangunan PLTN di semenanjung Muria, Jepara.
Besarkan GambarGreenpeace berhasil mengungkapkan fakta dibalik kasus bocornya pembangkit listrik tenaga nuklir Asco-I di Spanyol November tahun lalu. Kecelakaan ini telah mengakibatkan kontaminasi zat radioaktif di sekitar sarana pembangkit. Pengelola pembangkit yakni Endesa/Iberdrola mencoba menutupi masalah ini selama empat bulan. Bahkan beberapa hari setelah Greenpeace membeberkan fakta dibalik kejadian tersebut komisi keamanan nuklir Spanyol CSN masih meremehkan skala bencana tersebut. Namun bukti kuat akhirnya memaksa CSN untuk mengakui bahwa kebocoran yang terjadi setidaknya seratus kali lipat lebih besar dari apa yang diumumkan sebelumnya. Akibatnya zat radioaktif panas yang tersebar beberapa kilometer dari lokasi kecelakaan serta ratusan ribu orang harus diperiksa kadar kontaminasi dalam tubuh.
Kebocoran serta kontaminasi yang terjadi setelahnya disebabkan oleh serangkaian kesalahan yang dilakukan oleh pihak pengelola pembangkit. Adanya upaya untuk menutupi kesalahan yang terjadi oleh pihak manajemen serta pemerintah menunjukkan bahwa masih ada yang belum belajar dari kesalahan yang terjadi di Chernobyl.
“Industri nuklir masih terjebak lingkaran setan kecelakaan, kebohongan serta kelalaian. Tenaga nuklir adalah hasil eksperimen abad ke 20 yang gagal. Tidak ada ruang bagi nuklir dalam upaya memenuhi permintaan energinya atau dalam upaya mengindari bencana perubahan iklim dimanapun di dunia, khususnya di Indonesia,” ujar Sonki Prasetya, juru kampanye energi bersih Indonesia di Greenpeace Asia Tenggara.
Greenpeace
melihat bahwa tidak ada ruang bagi tenaga nuklir dalam upaya global untuk
mengurangi emisi gas rumah kaca sampai dengan setengahnya guna menghindari
dampak perubahan iklim yang terburuk. Sebaliknya Greenpeace menyerukan digulirkannya
revolusi energi mencakup sumber energi terbarukan serta efisiensi energi.
Pemerintahan yang memilih tenaga nuklir akan merasa bahwa kemerdekaan serta
ketahanan energinya akan berada di tangan segelintir negara dan perusahaan yang
dapat menyediakan teknologi serta bahan bakar nuklir.