Skip navigation.
Masyarakat Balong Jepara melakukan penolakan terhadap rencana 
pembangunan PLTN di semenanjung Muria, Jepara.

Masyarakat Balong Jepara melakukan penolakan terhadap rencana pembangunan PLTN di semenanjung Muria, Jepara.

Besarkan Gambar

Jakarta — Sehari sebelum peringatan 22 tahun kecelakaan nuklir di Chernobyl industri nuklir, dunia diguncang dengan terungkapnya kasus kecelakaan nuklir besar di Spanyol serta penundaan mahal dan defisiensi berkaitan dengan pembangunan yang disebut dengan reaktor nuklir utama renaisans di Prancis dan Finlandia yang terus mempermalukan pihak industri.

Greenpeace berhasil mengungkapkan fakta dibalik kasus bocornya pembangkit listrik tenaga nuklir Asco-I di Spanyol November tahun lalu. Kecelakaan ini telah mengakibatkan kontaminasi zat radioaktif di sekitar sarana pembangkit. Pengelola pembangkit yakni Endesa/Iberdrola mencoba menutupi masalah ini selama empat bulan. Bahkan beberapa hari setelah Greenpeace membeberkan fakta dibalik kejadian tersebut komisi keamanan nuklir Spanyol CSN masih meremehkan skala bencana tersebut. Namun bukti kuat akhirnya memaksa CSN untuk mengakui bahwa kebocoran yang terjadi setidaknya seratus kali lipat lebih besar dari apa yang diumumkan sebelumnya. Akibatnya zat radioaktif panas yang tersebar beberapa kilometer dari lokasi kecelakaan serta ratusan ribu orang harus diperiksa kadar kontaminasi dalam tubuh.

Kebocoran serta kontaminasi yang terjadi setelahnya disebabkan oleh serangkaian kesalahan yang dilakukan oleh pihak pengelola pembangkit. Adanya upaya untuk menutupi kesalahan yang terjadi oleh pihak manajemen serta pemerintah menunjukkan bahwa masih ada yang belum belajar dari kesalahan yang terjadi di Chernobyl.

“Industri nuklir masih terjebak lingkaran setan kecelakaan, kebohongan serta kelalaian. Tenaga nuklir adalah hasil eksperimen abad ke 20 yang gagal. Tidak ada ruang bagi nuklir dalam upaya memenuhi permintaan energinya atau dalam upaya mengindari bencana perubahan iklim dimanapun di dunia, khususnya di Indonesia,” ujar Sonki Prasetya, juru kampanye energi bersih Indonesia di Greenpeace Asia Tenggara.

Greenpeace melihat bahwa tidak ada ruang bagi tenaga nuklir dalam upaya global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sampai dengan setengahnya guna menghindari dampak perubahan iklim yang terburuk. Sebaliknya Greenpeace menyerukan digulirkannya revolusi energi mencakup sumber energi terbarukan serta efisiensi energi. Pemerintahan yang memilih tenaga nuklir akan merasa bahwa kemerdekaan serta ketahanan energinya akan berada di tangan segelintir negara dan perusahaan yang dapat menyediakan teknologi serta bahan bakar nuklir.  

Greenpeace  adalah organisasi kampanye yang independen, yang menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap masalah lingkungan hidup, dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai.

 

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

  • Sonki Prasetya, Juru kampanye Energi, Greenpeace Asia Tenggara - Indonesia, 0818 0620 3824
    Adhityani Arga, Media campaigner, Greenpeace Asia Tenggara - Indonesia, 0813 980 999 77