Jelang Pertemuan Pemimpin Industri Batubara Dunia di Bali, Greenpeace Menghalau Keluar Tongkang Batubara dari Taman Nasional | Greenpeace Indonesia

Jelang Pertemuan Pemimpin Industri Batubara Dunia di Bali, Greenpeace Menghalau Keluar Tongkang Batubara dari Taman Nasional

Siaran Pers - 2 Mei, 2018
Karimunjawa, 2 Mei 2018 - Aktivis Greenpeace Indonesia hari ini menghalau tongkang batubara yang melewati kepulauan Karimunjawa yang menakjubkan, melukisnya dengan pesan 'Break Free From Coal' dan 'Coral Not Coal' sebagai protes terhadap kerusakan yang terjadi pada terumbu karang di daerah tersebut dan berdampak panjang terhadap perubahan iklim. Kapal Greenpeace, Rainbow Warrior, kemudian mengantar tongkang batubara keluar dari taman nasional.

Tongkang itu ditargetkan karena membawa batubara dari tambang di Kalimantan untuk pembangkit listrik di Jawa, Indonesia, dalam aksi damai yang merupakan bagian dari gerakan global Break Free terhadap bahan bakar fosil.

Pada awal 2017, ratusan meter persegi karang hancur oleh lima kapal tongkang yang berada di perairan tersebut, saat kapal-kapal ini tengah berlindung selama badai. [1]

“Perdagangan batubara ini telah menghancurkan salah satu wilayah terindah di Indonesia, area yang dilindungi pemerintah sebagai taman nasional“ kata Didit Haryo, Jurukampanye Iklim dan Energi dari Greenpeace Indonesia. [2] [3]

Kepulauan Karimunjawa adalah taman nasional yang kaya akan terumbu karang, rumput laut, hutan bakau, hutan pantai dan hutan hujan tropis dataran rendah. Tempat ini merupakan rumah bagi tiga jenis penyu dan hampir 400 spesies fauna laut, termasuk ratusan ikan hias, menjadikannya salah satu tujuan wisata paling populer di Indonesia.

Namun keindahan alam Karimunjawa dan mata pencaharian penduduk yang bekerja di industri perikanan dan pariwisata lokal kini terancam oleh tongkang batubara yang secara rutin melintasi perairan ini.

“Bukan hanya karang yang rusak, tetapi nelayan lokal juga terkena dampaknya. Kami khawatir jika terjadi kehancuran terumbu karang, kami akan kehilangan industri pariwisata. Rumah, komunitas, dan mata pencaharian kami terkena dampak penggunaan batu bara, namun kami merasa tidak memiliki suara soal permasalahan ini, ”kata Yarhannudin, anggota  komunitas Akar.

Pada tanggal 6 Mei, salah satu acara industri batubara terbesar di dunia sedang berlangsung di Bali. Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa Asia Tenggara memiliki tingkat pencemaran udara ambien tertinggi di dunia. Menurut Global Burden of Disease, polusi udara ambien bertanggung jawab atas 17.600 kematian prematur setiap dua hari di Asia pada tahun 2015, atau 440 kematian setiap 2 hari di Indonesia. [4]

“Tongkang-tongkang ini bagian dari industri yang merusak keindahan alam Indonesia serta mencemari udara kita. Kesehatan masyarakat terancam, sementara pertemuan industri batubara di Bali hanya akan menghasilkan kesepakatan demi mengamankan masa depan industri batubara. Negara ini tidak ini tidak layak menggunakan energi kotor, sudah saatnya pemerintah berpihak pada rakyat ketimbang industri batubara dan segera beralih ke energi terbarukan,”kata Didit Haryo.

 

Catatan

1. 5 barges destroy coral in Karimunjawa, Jakarta Post http://www.thejakartapost.com/news/2017/03/22/5-barges-destroy-coral-in-karimunjawa.html?fb_comment_id=1334202259983875_1334719493265485

2. Laporan Kerusakan Terumbu Karang Karimunjawa Akibat Aktivitas Transportasi Batubara, Greenpeace Indonesia http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/Laporan-Kerusakan-Terumbu-Karang-Karimunjawa/

3. 24th Coaltrans Asia

4. Global Head Data Exchange http://ghdx.healthdata.org/gbd-results-tool?params=gbd-api-2016-permalink/48c9d9156fdeaf9d23a0058c63e15dc0

 

Arsip Foto dan Video

https://media.greenpeace.org/collection/27MZIFJXFJR9T

 

Kontak

Hikmat Suriatanwijaya, Media Campaigner Greenpeace Indonesia, +62-813-8047-3866

Rahma Shofiana, Media Campaigner Greenpeace Indonesia,

+62-811-1461-674

 

Greenpeace International Press Desk, +31 (0) 20 718 2470 (available 24 hours),