"Komitmen SBY ini jelas sudah berada dalam arah yang benar. Meski demikian, waktu semakin habis bagi kita untuk menangani perubahan iklim dan pengurangan emisi di Indonesia seharusnya lebih besar lagi. Desakan kami adalah SBY menargetkan paling tidak 40% pengurangan emisi pada 2020 dan secepatnya menghentikan deforestasi untuk membawa komitmen itu menjadi kenyataan. Jika itu sudah dilaksanakan maka dana akan mengucur dari negara maju untuk perlindungan hutan, masyarakat dan keanekaragaman hayati yang bergantung pada hutan," ujar Yuyun Indradi, Jurukampanye Politik Greenpeace Asia Tenggara.
Yuyun juga mendesak agar Presiden SBY mengumumkan tekadnya untuk menghentikan perusakan hutan (nol deforestasi) dalam forum internasional di Kopenhagen mendatang, sebagai bukti keseriusannya menangani masalah perubahan iklim.
Pidato Presiden di Pertemuan G-itu terlontar sesaat sebelum dimulainya Pertemuan Iklim PBB di Bangkok hari ini dimana lima anak Thailand menyampaikan pesan mereka kepada Yvo DeBoer, Pejabat Iklim PBB, dengan cara menyerahkan celengan yang berisi "uang receh untuk iklim". Anak-anak itu juga menyerahkan petisi koalisi global Tcktcktck yang telah ditandatangani oleh lebih dari 1,4 juta orang yang menuntut para pemimpin negara untuk mewujudkan kesepakatan nyata demi mengatasi petaka iklim pada pertemuan di Kopenhagen Desember mendatang (1). Aksi ini sekaligus menandai berakhirnya Chang(e), aksi Greenpeace yang telah berlangsung 15 hari, dimana bersama gajah melakukan perjalanan 250 km untuk menegaskan dampak dari perubahan iklim dan deforestasi.
"Dengan tinggal tiga minggu negosiasi tersisa sebelum Kopenhagen, "uang receh" ini adalah satu-satunya uang yang tersedia. Kita perlu melihat negara-negara beraksi di Bangkok, melakukan langkah yang bisa mewujudkan pernyataan para pemimpin negara di pertemuan PBB di New York pekan lalu," ujar Kaisa Kosonen, Penasehat Kebijakan Iklim Greenpeace Internasional.
"Pentingnya kesepakatan adil, ambisius dan mengikat demi iklim di Kopenhagen semakin ditegaskan oleh adanya Badai Tropis Ketsana (juga disebut Badai Ondoy) pekan ini, mencurahkan hujan berkapasitas satu bulan hanya dalam waktu enam jam di Manila. Korban tewas terus ditemukan dan lebih 250.000 penduduk kehilangan tempat tinggal, mengingatkan kita bahwa Asia Tenggara adalah kawasan paling rentan tetapi paling tidak siap menghadapi dampak perubahan iklim," tegas Von Hernandez, Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara.
Saat ini China dan India telah menunjukkan niat mereka untuk menurunkan emisi, Jepang telah meluncurkan target baru dan Uni Eropa mulai menyadari bahwa target penurunan emisi Amerika Serikat sangat rendah. Secara total target penurunan emisi dari negara maju, bahkan dengan tambahan Jepang, baru mencapai 10-17 % pada 2020 dibanding tingkat emisi 1990, jauh dari yang dibutuhkan untuk menjaga kenaikan suhu di bawah dua derajat celcius, yakni 40%.
Jumat lalu, pertemuan G20 gagal memunculkan faktor penting untuk mengatasi kemacetan negosiasi: US$140 miliar pertahun untuk digunakan negara berkembang memerangi dampak perubahan iklim dan memelihara hutan tropis.
"Kita hanya punya 70 hari lagi hingga Kopenhagen, waktu semakin habis. Negara-negara maju memegang kunci penting untuk melindungi iklim, bumi dan penduduknya. Para pemimpin dunia harus menyambut undangan Denmark untuk hadir Desember mendatang, dan berkomitmen mewujudkan kesepakatan," Von menutup percakapan.