Aktivis Greenpeace Ditolak Masuk Indonesia, Bagian Dari Skema Penekanan Terhadap Organisasi

Siaran Pers - 13 Oktober, 2011
Jakarta, 13 Oktober 2011 -- Eksekutif Direktur Greenpeace Inggris John Sauven hari ini ditolak masuk Indonesia.

Sauven ditahan oleh petugas Imigrasi saat tiba di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, meski sudah mengantungi visa bisnis. Saat ini diinformasikan oleh imigrasi Sauven akan segera dideportasi. 

Tepat sebelum jam 17.00 WIB tadi, Sauven dibawa pergi dengan pengawalan dari pihak keamanan bandara. Greenpeace Indonesia saat ini sedang berupaya mencari tahu mengapa Sauven dideportasi padahal ia mengantongi seluruh dokumen yang sah.  

Tahun lalu, Greenpeace memulai kampanye terhadap Asia Pulp and Paper (APP) yang merusak hutan Indonesia, yang merupakan rumah bagi orangutan dan harimau sumatera yang masih tersisa. Bukti-bukti perusakan hutan yang dilakukan APP telah berulang kali diungkap kepada publik.

Greenpeace mendukung komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyelamatkan hutan Indonesia dan  mengurangi emisi gas rumah kaca Indonesia di sisa waktu kepemimpinannya hingga 2014.

Tetapi baru-baru ini sekelompok politisi dan kelompok kepentingan justru mendesak Greenpeace diusir dari Indonesia dan tahun lalu ikon organisasi Greenpeace, kapal Rainbow Warrior juga ditolak masuk ke Indonesia.  Salah satu alasan salah yang mereka gunakan adalah karena Greenpeace tidak terdaftar dengan benar di Indonesia.

Beberapa hari yang lalu, William Hague,  Sekretaris Luar Negeri Inggris mengatakan kepada Sauven bahwa upaya Greenpeace dalam melawan deforestasi sangatlah penting dan ia berharap bahwa kunjungannya ke  Indonesia dapat berjalan lancar sesuai dengan apa yang direncanakan.

Sauven, yang menikah di Indonesia, rencananya akan bertemu beberapa tokoh penting di pemerintahan Indonesia, dan mengunjungi hutan di Sumatera. Dia juga direncanakan akan bertemu dengan para pebisnis penting di Indonesia, serta Duta Besar Inggris untuk Indonesia yang telah menyatakan menyambut gembira kedatangannya ini.

Sehari setelah mendapat visa, beberapa media di Indonesia memberitakan bahwa Sauven telah dilarang masuk Indonesia untuk Konferensi Hutan. Padahal pada saat itu Sauven belum pergi ke Indonesia sehingga tidak pernah dilarang masuk.

Bustar Maitar, Kepala Kampanye Penyelamatan Hutan Indonesia mengatakan: "Greenpeace telah mengalami berbagai serangan setelah kita meluncurkan kampanye penyelamatan hutan Indonesia awal tahun ini.

"Tetapi menekan Greenpeace di Indonesia tidak akan mencegah APP dijauhi pembelinya. Pembeli hanya akan kembali berbisnis jika APP memutuskan untuk berhenti merusak hutan, rumah Harimau Sumatera.

"Lagipula, Golden Agri Resources yang juga bagian dari Sinar Mas Grup telah memutuskan untuk mulai meninggalkan perusakan hutan. APP harus mengikuti jejak saudaranya itu."

Beberapa perusahaan besar telah memutuskan kontrak APP dari rantai suplai mereka. Diantaranya adalah Adidas, Kraft, Nestle, Unilever, Carrefour dan Tesco. Yang terbaru, Mattel, raksasa produsen mainan Barbie, menyatakan bahwa mereka juga akan segera memutus kontrak dengan APP.

Indonesia mempunyai laju deforestasi yang merupakan salah satu tercepat di dunia. Pemerintah Indonesia memperkirakan lebih dari satu juta hektar hutan hancur setiap tahunnya.