Asian Games Jangan Sampai Kalah Dengan Kabut Asap

Siaran Pers - 1 Maret, 2018
Jakarta, 1 Maret 2018. Greenpeace Indonesia kembali mengingatkan pemerintah akan bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bisa mengancam kegiatan Asian Games 2018, yang akan berlangsung di Palembang, pertengahan Agustus mendatang. Pasalnya, bulan Agustus berada dalam periode musim kemarau. Belajar pada pengalaman karhutla tahun lalu, titik panas (hotspot) dan kebakaran sudah muncul sejak Februari, kemudian meningkat pada musim kemarau pada bulan Mei hingga Oktober. [1]

Pada awal tahun ini saja, hotspot terbilang cukup banyak. Catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hotspot di awal 2018 meningkat 20 persen dari awal tahun sebelumnya. [2]. Empat provinsi termasuk Sumatera Selatan pun sudah menetapkan status siaga darurat karhutla. [3]

Kondisi bisa mengkhawatirkan jika karhutla terjadi di sebelah timur dan selatan Palembang, dan prakiraan angin pada Agustus mendatang akan bertiup dari arah selatan serta timur menuju ke utara, maka kabut asap berpotensi menyelimuti Kota Palembang sehingga membahayakan kesehatan warga dan peserta Asian Games yang tengah bertanding.

“Kabut asap menjadi ancaman nyata bagi Asian Games 2018 yang akan digelar di Sumatera Selatan pada Agustus nanti,” ujar Asep Komarudin, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

Terhadap ancaman ini, pemerintah pusat dan daerah diharapkan mempunyai langkah-langkah mitigasi. Lebih dari itu, “Pemerintah juga secara paralel harus menyasar akar permasalahan yaitu menghentikan dan menindak tegas perusahaan-perusahaan yang masih membuka hutan dan lahan gambut,” tambah Asep. Menurut dia, solusi lainnnya adalah penerapan transparansi dalam pengelolaan hutan dan lahan, sesuai komitmen Presiden Joko Widodo untuk merealisasikan Kebijakan Satu Peta dan mempermudah akses dokumen perizinan agar publik dapat ikut mengawasi.

Perlu diingat juga bahwa jelang Asian Games, Sumatera Selatan beserta daerah lainnya akan menjalankan pemilihan kepala daerah (pilkada). Jelang pilkada serentak di Sumatera Selatan pada 27 Juni, Asep pun mengingatkan bahwa pesta demokrasi ini sarat transaksi politik yang dapat membahayakan keberlangsungan hutan dan gambut yang tersisa melalui pemberian izin untuk alih fungsi. Momentum pilkada rentan digunakan untuk transaksi lahan dengan pengusaha hingga penduduk demi menarik simpati calon pemilih. Alhasil jumlah izin pembukaan lahan meningkat berupa akses atau pembukaan kawasan hutan maupun konsesi. [4]

Oleh karena itu, semua pihak terkait, termasuk aparat penegak hukum dan masyarakat harus memperketat pengawasan pilkada karena rawan praktik obral perizinan dan alih fungsi hutan dan gambut yang dapat memicu terjadinya karhutla untuk perluasan dan pembersihan lahan untuk perkebunan.

“Tahun 2018 adalah tahun krusial untuk penyelamatan hutan dan gambut yang tersisa. Demi menjaga nama baik Indonesia dalam kegiatan kompetisi olahraga tingkat internasional, pemerintah harus bergerak cepat mengantipasi karhutla, jangan sampai kalah dengan kabut asap,” tutup Asep.

 

Catatan:

[1] BMKG - Prakiraan Musim Kemarau 2017 di Indonesia http://www.bmkg.go.id/iklim/prakiraan-musim.bmkg?p=prakiraan-musim-kemarau-2017-di-indonesia&tag=prakiraan-musim&lang=ID

[2] http://video.metrotvnews.com/play/2018/02/28/838403/menteri-lhk-hotspot-meningkat-20-persen-dibandingkan-tahun-lalu

[3] Tiga provinsi lainnya adalah Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

[4] IPB & CIFOR; Kabut Asap, Penggunaan Lahan dan Politik Lokal https://www.researchgate.net/publication/294721462_Kabut_Asap_Penggunaan_Lahan_dan_Politik_Lokal

Kontak Media:

Asep Komarudin, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Tel 62-813-1072-8770, email

Rully Yuliardi Achmad, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, Tel 62- 811-8334-409, email