Awasi GAP

Siaran Pers - 9 Maret, 2014
Taipei/Jakarta, 8 Maret 2014. Merek fashion internasional GAP untuk pertama kali membuka toko andalannya di Taipei, kemarin pukul 6 sore waktu Taiwan. Aktivis Greenpeace melakukan aksi di atas pintu masuk toko GAP dengan membentangkan spanduk sepanjang 3 meter yang bertuliskan, "GAP, Detox Sekarang!", saat upacara pengguntingan pita berlangsung. GAP menerima Penghargaan Public Eye 2014, akibat kurangnya tanggung jawab perusahaan tersebut dalam menangani keselamatan pekerja. Dalam laporan terbaru Greenpeace [1], dari sampel yang diambil dari pakaian GAP ditemukan residu bahan kimia berbahaya. Menurut investigasi Greenpeace sebelumnya [2], sampel limbah dari pabrik yang dimiliki pemasok GAP di Indonesia juga mengandung Nonylphenol, antimony dan tributilfosfat yang menyerupai ‘cocktail kimia‘ dan menunjukkan tingkat pH 14, bersifat sangat basa.

Rose Lai, Jurukampanye Toxic dari Greenpeace Asia Timur mengatakan, "Bahan kimia berbahaya dalam rantai pasokan tidak hanya mencemari lingkungan, residu dalam produk juga meningkatkan risiko kesehatan konsumen. GAP harus menghabiskan lebih banyak usaha dalam men-detox rantai pasokan mereka, dan mengurangi pencitraan ‘hijau’ pada mereknya.”

Tidak hanya produk saja yang diuji kandungan bahan kimia berbahayanya, sampel air dari pemasoknya juga diuji oleh Greenpeace dan hasilnya ditemukan Nonylphenol dan Nonylphenol Ethoxylates.

Ahmad Ashov Birry, Jurukampanye Toxics dari Greenpeace Indonesia, yang telah menyaksikan sungai tercemar di Indonesia mengatakan, "Merek pakaian ini memperlakukan sungai seperti kolam limbah, pemakaian bahan berbahaya mencemari sumber air penduduk setempat.” Produk mereka, melalui pemasaran global, dijual ke berbagai daerah di seluruh dunia, dan konsumen membelinya  kembali dengan membawa bahan kimia beracun dalam produk tersebut."

Baru-baru ini, Pemerintah Indonesia mengungkapkan puluhan perusahaan yang tertangkap mencemari Sungai Citarum dan mengatakan akan menjatuhkan sanksi tegas kepada mereka. Penegakan hukum yang konsisten adalah salah satu persyaratan dasar untuk mencapai sungai bebas toksik, akan tetapi pendekatan pemerintah saat ini yang hanya mengandalkan pendekatan kontrol pencemaran memiliki sejumlah kelemahan. Perlu adanya pergeseran paradigma dari ketergantungan pada pendekatan reaktif tersebut kepada pendekatan preventif, yang menghilangkan penggunaan bahan kimia berbahaya pada sumbernya, melalui produksi bersih dan substitusi progresif dengan alternatif yang lebih aman.

Rose Lai menambahkan, "Meskipun GAP mengklaim perusahaannya sebagai bagian dari cetak biru Nol Pembuangan Kimia Berbahaya (Zero Discharge Hazardous Chemical), mereka hanya menggunakannya sebagai alat promosi danbukan merupakan komitmen yang sesungguhnya. Greenpeace mendesak GAP untuk menjalankan detoksifikasi rantai pasokan, sehingga konsumen yang tak bersalah tidak perlu menjadi bagian dari masalah beracunnya."

Kampanye Detox Greenpeace terhadap merek fashion dimulai sejak 2011, mengungkap rantai pasokan mereka yang beracun dan menuntut mereka untuk berkomitmen terhadap Detox. 20 merek termasuk Zara, Uniqlo, H&M, Burberry telah membuat komitmen untuk detox sebelum 2020.

Catatan untuk editor:

  1. Untuk mengunduh laporan lengkap “Toxic Threads: Meracuni Surga” yang mengungkap keterlibatan GAP dan fasilitasnya dalam meracuni Sungai Citarum kunjungi:http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/toxics/Polluting-Paradise/
  2. Untuk informasi lebih lanjut tentang merek yang sudah berkomitmen untuk Detox silahkan kunjungi: http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/toxics/Detox-Fashion-Manifesto/
  3. Link untuk foto silahkan kunjungi: http://photo.greenpeace.org/C.aspx?VP3=ViewBox&STID=27MZIF3S4ZX3&CT=Story


Kontak:

Ahmad Ashov Birry, Jurukampanye Detox Greenpeace Indonesia, 08111 757 246
Rahma Shofiana, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 08111 461 674