Bank Dunia Masih Mendukung Ekspansi Batubara Proyek Kontroversial di Indonesia Memanfaatkan Celah di Strategi Baru Energi Bank Dunia

Siaran Pers - 26 September, 2013
SIARAN PERS BERSAMA GREENPEACE INDONESIA-OIL CHANGE INTERNATIONAL.

Investigasi terbaru oleh Oil Change Internasional menunjukkan kebijakan pinjaman dan pendanaan kelompok Bank Dunia untuk pengembangan infrastruktur di Indonesia. Salah satunya adalah mendorong percepatan pembangunan lebih dari 16 GW proyek-proyek PLTU Batubara di Indonesia, dimana Indonesia sendiri belum mengembangkan alternatif energi terbarukan.

Pada bulan Juli, Kelompok Bank Dunia menerbitkan Kertas Arahan Sektor Energi, dimana Bank Dunia berjanji untuk membatasi pinjaman untuk batubara hanya untuk keadaan-keadaan khusus – atau hanya kepada negara-negara tanpa alternatif yang memungkinkan selain batubara.

Janji Bank Dunia, yang mendapat pujian secara luas, tidak menyebutkan mekanisme yang mendukung proyek batubara Indonesia- pinjaman kebijakan pembangunan dan perantara pendanaan.

Di dalam laporan diungkapkan bahwa Indonesia Infrastructure Guarantee Fund (Dana Jaminan Infrastruktur Indonesia, IIGF) yang diciptakan dan didukung secara finansial oleh Bank Dunia memberikan jaminan pemerintah pertamanya sebesar 33,9 juta dolar Amerika Serikat untuk Proyek PLTU Batang di Jawa Tengah, PLTU batubara 2000 megawatt yang kontroversial.

Proyek batubara raksasa ini telah memicu perlawanan lokal termasuk tuntutan hukum dan protes yang dilakukan berulangkali oleh ribuan penduduk lokal yang kerap berujung pada bentrokan disertai kekerasan dengan pihak keamanan proyek dan militer.

"Agar Bank Dunia dapat memenuhi janjinya untuk menghentikan pendanaan batubara, Bank Dunia harus menarik dukungannya dalam pengembangan batubara secara besar-besaran di Indonesia," kata Arif Fiyanto dari Greenpeace Asia Tenggara. “Proyek PLTU Batubara Batang di Jawa Tengah akan mencemari perairan pesisir Indonesia, merusak mata pencaharian nelayan dan petani, serta berkontribusi pada perubahan iklim. Bank Dunia seharusnya tidak membiarkan proyek ini dijalankan," tambah Arif.

"Kelompok Bank Dunia tidak hanya bertindak sebagai penasihat keuangan untuk PLTU Batang, Jawa Tengah, tetapi juga mengamankan dukungan pendanaan yang diperlukan untuk proyek ini, Bank Dunia justru secara aktif mengawasi perluasan rencana dari PLTU batubara Batang menjadi salah satu PLTU batubara terbesar di Kawasan Asia Tenggara," kata Heike Mainhardt dari Oil Change International."

“Masih ada waktu bagi Bank Dunia untuk melakukan hal yang benar. Bank Dunia harus  menuntut Pemerintah Indonesia untuk membatalkan penjaminannya terhadap proyek ini.” Dengan melakukan hal ini akan menghentikan penutupan keuangan dan pencairan dana, yang dijadwalkan pada tanggal 6 Oktober 2013.

Di Amerika Serikat, dukungan Bank Dunia untuk poyek ini juga merupakan ujian bagi janji pemerintahan Obama untuk menghentikan pendanaan batubara di luar negeri. Sebagai pemegang saham terbesar Bank Dunia, Amerika Serikat memiliki suara yang paling utama dalam operasi Bank Dunia.

"Pemerintah Amerika Serikat harus tegas bahwa Janji Presiden adalah bersifat menyeluruh dan melingkupi seluruh bentuk pendanaan batubara termasuk pinjaman kebijakan pembangunan dan perantara pendanaan," kata Mainhardt.

Pemerintahan Obama seharusnya tidak membiarkan Bank Dunia mendukung batubara indonesia masuk melalui celah dan menjebak Indonesia ke dalam masa depan yang disesaki oleh batubara.

Link laporan :

English: http://priceofoil.org/content/uploads/2013/09/OCI_World_Bank_Indonesia_Coal_09_2013_Bahasa.pdf

Bahasa: http://www.greenpeace.org/seasia/id/PageFiles/547779/WBG%20Indonesia%20coal%20final_indo.pdf

Kontak media:

Heike Mainhardt, Oil Change International, ,  +1-202-285-1848

Arif Fiyanto, Greenpeace Southeast Asia-Indonesia, , +62 811-180-5373

Rahma Shofiana, Greenpeace Southeast Asia Media Campaigner, +62-811-146-1674