Greenpeace: Bukti Baru Menunjukkan Solusi Kebakaran Hutan Masih Jauh dari Kenyataan

Siaran Pers - 28 Mei, 2014
Jakarta, 28 Mei 2014 – Melindungi gambut kaya karbon Indonesia adalah kunci untuk mengurangi kerugian kebakaran hutan yang bertanggungjawab atas gelombang panas, tetapi masih belum ada perlindungan hukum yang cukup atas seluruh gambut dan hutan. Analisis peta terbaru dari Greenpeace menunjukkan bahwa kebakaran lima kali lebih banyak terjadi di gambut, di mana 75% titik api di gambut berada di Provinsi Riau saja yang berdekatan dengan pusat kota tetangga seperti Singapur.

“Bagaimana Presiden SBY menanggapi munculnya ancaman global dan darurat kesehatan masyarakat ini akan menentukkan warisan kebijakan hijau yang dibuatnnya. Perusahaan-perusahaan industri perkebunan di Sumatra sebagiannya akan beralih menjadi hamparan luas yang mudah terbakar. Apakah dia akan mengambil tindakan cepat untuk memperkuat aturan yang melindungi semua hutan dan gambut sebelum masa jabatannya berakhir, atau apakah dia ingin menyaksikan warisannya lenyap dalam asap?” kata Yuyun Indradi, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

Gambut mungkin menjadi cadangan karbon paling penting di dunia dan penuh dengan air, tetapi akan menjadi rentan terbakar ketika dibuka dan dikeringkan untuk kepentingan industri perkebunan kelapa sawit skala besar serta pulp dan kertas.

Gambaran dari penelitian tahun 2012 kebakaran hutan dan gambut menyebabkan rata-rata 110.000 kematian setiap tahunnya di kawasan Asia, terutama paparan dalam jangka waktu yang panjang terhadap partikel asap. Ini meningkat hingga mendekati 300.000 kematian sepanjang satu tahun elnino. Kebakaran hutan ini juga bertanggungjawab atas hancurnya sumber penghidupan masyarakat.

“Sebelumnya ketika hutan masih lebat, tanah dapat menahan air dan melindungi gambut. Sekarang api membakar lebih dalam dan lebih cepat. Ketika api datang, saya dan ketiga anak berusaha mematikannya (tetapi) kami telah kehilangan semuanya,” kata Laskar Harianja, seorang warga yang kebunnya terbakar seperti disampaikannya dalam film dokumenter pendek Greenpeace “Keluarga Kebakaran Hutan” yang dirilis hari ini.

Analisis Greenpeace menunjukkan bahwa di tahun 2013 titik api di lahan gambut yang tidak berhutan 3,5 kali lebih sering terjadi dibandingkan di gambut yang masih berhutan pada tahun 2011. Provinsi Riau adalah rumah bagi sebagian besar perkebunan kelapa sawit Indonesia, terdiri hanya 5 persen dari luas dataran Indonesia, namun 40 persen dari seluruh titik api ada di Riau dan hampir tiga perempat titik apinya terdapat di lahan gambut. Bahkan kebijakan moratorium Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  atas pembukaan hutan alam dan gambut tidak bisa mencegah kebakaran, dimana 30 persennya terdapat titik api.

SBY sangat ingin mempromosikan transisi ekonomi “hijau” dan moratorium merupakan arah langkah yang tepat, tetapi sangat sedikit yang telah dilakukan. Kami mendesak SBY untuk mengeluarkan regulasi yang kuat yang melindungi seluruh gambut sebelum masa jabatannya berakhir, dan membantu meredakan apa yang dengan cepat akan menjadi bom waktu karbon,” kata Yuyun.

Perusahaan-perusahaan termasuk Colgate-Palmolive, Nestle, perusahaan perkebunan GAR dan APP, Wilmar International dan yang terbaru P&G telah berjanji untuk mengakhiri penghancuran hutan dari rantai pasokannya menindaklanjuti tekanan global dan kampanye Greenpeace. Greenpeace mendesak perusahaan seperti IOI, KLK, Musim Mas dan kelompok APRIL/REG  untuk berkomitmen bagi nol deforestasi.

Catatan untuk Editor:

  1. Media briefing: http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/Sumatera-Akan-Tertutup-Dengan-Asap
  2. Halaman Kampanye Greenpeace Asia Tenggara terkait dengan kebakaran hutan: www.stopthehaze.org
  3. Tautan film dokumenter pendek Forest Fires Family: http://youtu.be/l5ciMcAjSUw

 

Permintaan Foto : Photo Desk Greenpeace Southeast Asia,  email:

Permintaan Video :Godi Utama, Producer Video Greenpeace Indonesia, email:

Kontak Media :

Tristan Tremschnig, Koordinator Komunikasi Hutan Indonesia, Greenpeace International, mob: +31 6 43 78 7393 (Belanda),

Yuyun Indradi, Jurukampanye Hutan, Greenpeace Asia Tenggara, telp: +62 812 261 61759  email:

Zamzami, Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, 08117503918,