Greenpeace, CIMTROP dan Save Our Borneo, Beraksi untuk Solusi kebakaran Hutan dan Perubahan Iklim di Kalimantan Tengah

Siaran Pers - 27 Nopember, 2015
Palangkaraya, 27 November 2015 — Greenpeace bersama CIMTROP Universitas Palangkaraya dan Save Our Borneo beraksi langsung untuk melindungi masa depan hutan hujan dan merestorasi lahan gambut dari bahaya kebakaran yang menjadikan Indonesia penyumbang harian gas rumah kaca terbesar di dunia. [1]

Aktivis Greenpeace bekerja berdampingan bersama warga, relawan, serta organisasi lokal Save Our Borneo, dan Center for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatland (CIMTROP) Universitas Palangkaraya membendung kanal yang selama ini digunakan untuk mengeringkan lahan gambut  guna memperbaiki kadar air pada lahan gambut. Bendungan ini akan menutup kanal yang terletak  di Desa Pulang Pisau, Sebangau, Kalimantan Tengah, [2] salah satu daerah dengan jumlah titik api terbanyak selama periode kebakaran hutan dan lahan 2015.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Rusmadya Maharuddin mengungkapkan:

“Langkah membendung kanal merupakan contoh yang didasarkan pada instruksi Presiden Jokowi menjelang pembicaraan mengenai perubahan iklim pada pekan depan untuk melindungi lahan gambut.  Pembendungan kanal ini akan mengembalikan kadar air alami gambut. Kerusakan hutan dan lahan gambut, terutama yang dialihfungsikan untuk perkebunan, merupakan penyebab utama dari kebakaran hutan dan sumber kontribusi terbesar di Indonesia terhadap perubahan iklim.

“Kami ingin memastikan Presiden Jokowi mengeluarkan peraturan yang mengharuskan perusahaan membendung kanal yang digunakan untuk mengeringkan gambut, serta memberi perlindungan permanen untuk lahan gambut seperti janji yang beliau sampaikan beberapa waktu lalu. Presiden harus memberikan kekuatan hukum dalam kebijakan Nol Deforestasi melalui penguatan kebijakan moratorium yang telah ada untuk hutan dan lahan gambut, termasuk hutan sekunder dan hutan di dalam konsesi,”

Direktur Save Our Borneo Nordin mengatakan:

“Restorasi lahan gambut harus dimulai dari sekarang agar kebakaran hutan tidak lagi terjadi di masa mendatang. Hal ini mendesak untuk dilakukan, dan setiap orang harus bertindak. Kegiatan hari ini juga menandai satu tahun sejak Presiden Jokowi membendung Kanal yang menguras kadar air gambut di Sungai Tohor, Kepulauan Riau. Pembendungan terbukti berhasil karena wilayah tersebut terhindar dari kebakaran hutan yang melanda seluruh Indonesia pada tahun ini. Namun contoh baik dari Presiden Jokowi terabaikan lantaran tidak didukung oleh peraturan yang mengikat.”

Meskipun pada tahun lalu pemerintah Indonesia telah menandatangani Deklarasi New York tentang Hutan, dan sejumlah perusahaan menciptakan kebijakan perlindungan hutan dalam beberapa tahun terakhir, namun laporan terbaru Greenpeace [3] menunjukan industri perkebunan tetap terdepan dalam kebakaran hutan melalui perusakan hutan dan lahan gambut. Laju pengrusakan hutan di Indonesia terus meningkat dengan minyak sawit sebagai penyebab utama. Perusakan hutan di seluruh dunia adalah penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar keenam.

Prof. Suwido H. Limin dari CIMTROP Universitas Palangka Raya menegaskan:

“Penutupan kanal dengan bendungan (dam) ini, merupakan tindak lanjut dalam mewujudnyatakan  tujuan dari Presiden Jokowi [4] yang mengakomodir rekomendasi CIMTROP Universitas Palangka Raya sejak tahun 1998 dan didukung para ahli gambut di seluruh dunia. Lahan gambut yang terdegradasi adalah prioritas utama untuk dipulihkan status hidrologinya, dilanjutkan dengan penanaman spesies tanaman lokal bernilai ekonomis tinggi yang tidak memerlukan lahan kering, sehingga tidak perlu mengeringkan gambut, sehingga dapat mencegah ancaman kebakaran.”

Rusmadya menambahkan:

“Aksi ini merupakan langkah awal untuk menghentikan bencana tahunan kebakaran hutan. Kami mendesak seluruh sektor perkebunan, termasuk perusahaan multinasional yang dipasok, untuk bekerja sama menghentikan kerja sama dengan perusahaan manapun yang masih mengeringkan lahan gambut dan merusak hutan.”

Catatan Editor:

 

  1. Gambar dapat diakses melalui: http://photo.greenpeace.org/shoot/27MZIFJ6BRI94
  2. Pembendungan dilakukan di kanal yang mengeringkan kubah gambut terbesar di Kalimantan Tengah. Kubah Gambut Sebangau terletak di antara Sungai Sebangau dan Sungai Kahayan, dekat Desa Paduran, Kecamatan Sebangau, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia
  3. Laporan berbahasa Inggris dapat diakses melalui: http://www.greenpeace.org/international/en/publications/Campaign-reports/Forests-Reports/Under-Fire/ Laporan berbahasa Indonesia dapat diakses melalui: http://www.greenpeace.org/international/Global/international/publications/forests/2015/Under-Fire-Ind.pdf
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 71/2014 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, dan Surat KLHK Nomor : S.661/Menlhk-Setjen/Rokum/2015 tanggal 5 November 2015, Perihal:  Instruksi Pengelolaan Lahan Gambut.

 

Kontak Media:

 

  • Rusmadya Maharuddin, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, , 0812-26161-759
  • Rika Novayanti, Juru Kampanye Media Greenpeace Indonesia, , 0811-1683-484
  • Prof. DR. Suwido H. Limin, CIMTROP Universitas Palangka Raya, , 0813-4680-1133
  • Nordin, Save Our Borneo, , 0813-527-527-75