Greenpeace, Oxfam, dan Mantan Duta ASEAN menyerukan pembangunan rendah karbon dan perubahan ekonomi masyarakat yang tangguh terhadap iklim

Siaran Pers - 30 Agustus, 2013
Jakarta, 30 Agustus 2013. ASEAN telah menjalankan hingga 79,7 persen dari target termasuk sertifikasi regional dan struktur tarif yang terpadu dari cetak biru ASEAN Economic Community (AEC) pada 15 Agustus, demikian menurut para Menteri Ekonomi yang baru saja bertemu pekan lalu di Brunei.

Namun, terlihat bahwa para pemimpin negara-negara ASEAN belum serius membahas masalah yang dapat memundurkan semua upaya mereka yang telah dibangun dalam AEC selama ini, yaitu masalah perubahan iklim. Ini adalah pandangan mantan Duta ASEAN dan mantan legislator Filipina Orlando Mercado yang saat ini bersama koalisi organisasi lingkungan Greenpeace, Oxfam, dan Eastern Regional Organization for Public Administration (EROPA). Koalisi ini menyerukan kepada ASEAN untuk memastikan pembangunan ekonomi rendah karbon dan mewujudkan masyarakat yang tangguh terhadap perubahan iklim.

Koalisi mengusulkan agar ASEAN meningkatkan target energi terbarukan, memulai sistem analisa dampak lingkungan lintas batas untuk lingkungandan perubahan iklim, mendukung inisiatif adaptasi berbasis masyarakat, dan memperkuat kerjasama dalam negosiasi perubahan iklim internasional untuk memajukan kepentingan wilayah Asia Tenggara.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Ekonomi Internasional dan Program Lingkungan untuk Asia Tenggara (The International Development Research Centre’s Economy and Environment Program for Southeast Asia) telah mengidentifikasi Filipina, sebagian Kamboja, Delta Sungai Mekong di Vietnam, Laos Utara dan Timur, kota Bangkok di Thailand, Sumatera Barat dan Selatan, Jawa Barat dan Timur di Indonesia sebagai daerah yang berisiko tinggi.

Dampak perubahan iklim yang merugikan ini diperburuk oleh kelambanan pemerintah dunia yang belum mencapai kesepakatan iklim pada tahun 2015 di bawah Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Di sisi lain, Greenpeace menyesalkan tindakan yang tidak diinginkan dimana Shell dan perusahaan minyak lainnya berlomba ke wilayah Arktik untuk mengeksploitasi minyak, logam mulia, ikan, serta menggunakan rute utara untuk mempersingkat jalur pengiriman .

Zelda Soriano, pengacara yang juga penasihat politik Greenpeace Asia Tenggara mengatakan, "Implikasi dari mencairnya Kutub Utara adalah bencana untuk wilayah kami, karena Arktik bertindak sebagai termostat planet." Zelda meminta Singapura sebagai anggota ASEAN, yang merupakan pengamat di Dewan Arktik, untuk memajukan kepentingan wilayah dengan meminta perlindungan untuk Arktik .

Koordinator Riset dan Kebijakan Oxfam Riza Bernable mengatakan, "Para pemimpin kita berutang kepada kita - 600 juta penduduk di ASEAN untuk bersama-sama mendorong kesepakatan iklim yang adil, ambisius, dan mengikat di UNFCCC.”

Kontak media:

Rahma Shofiana, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 08111461674