Greenpeace: Perusahaan Singapura terus membuka gambut di tengah ancaman kebakaran

Siaran Pers - 8 Juli, 2014
JAKARTA, 8 JULI 2014 – Sejumlah perusahaan internasional menunda kontrak bisnisnya dengan perusahaan kertas terbesar kedua Indonesia APRIL yang merupakan bagian dari grup Raja Garuda Mas (RGE), dan sementara itu foto-foto yang diambil oleh Greenpeace Internationalmenunjukkan pembukaan hutan hujan tropis dan gambut mudah terbakar masih berlangsung. Bukti yang diambil Greenpeace diperoleh hanya seminggu setelah keluarnya studi terbaru menyatakan kehancuran hutan Indonesia lebih cepat dari negara mana pun di dunia ini.

Jaringan perusahaan yang memasok kebutuhan kantor, Staples baru-baru ini mengkonfirmasi kepada Greenpeace bahwa mereka tidak lagi membeli produk APRIL secara global setelah Greenpeace mengidentifikasi hubungannya terhadap perusahaan ini di China. Antalis juga telah mengkonfirmasi bahwa mereka tidak akan kembali berbisnis dengan APRIL sampai diterapkannya sebuah kebijakan perlindungan hutan. Greenpeace mendesak pembeli-pembeli APRIL/RGE seperti perusahaan kertas International Paper, 3M dan peritel Costco di Amerika untuk segera mengikuti keputusan tersebut.

 “APRIL anggota Raja Garuda Mas (RGE) telah tertangkap basah mempromosikan diri kepada pembeli bahwa mereka mengklaim  telah memperoleh dukungan pemerintah dan LSM namun di saat yang bersamaan buldosernya menghancurkan hutan hujan dan gambut Indonesia. Apakah perusahaan-perusahaan pembeli ini akan terus jatuh untuk pemutaran balik fakta atau mengikuti kepemimpinan Staples dan menunda kontrak-kontraknya dengan perusahaan ini? Kata jurukampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara, Zulfahmi.

Riset Greenpeace melalui foto udara pada akhir Mei mengungkap pembukaan hutan lebat dan pengeringan gambut di konsesi di Pulau Padang, Riau. Kebijakan APRIL menyatakan bahwa perusahaan tidak akan mengembangkan lahan bernilai konservasi tinggi (HCV) berdasarkan pada penilaian independen yang ditinjau ulang oleh High Conservation Resource Network (HCVRN). Bagaimana pun Greenpeace telah mengkonfirmasi HCVRN bahwa yang telah mereview penilaian hanya terhadap dua dari 50 konsesi yang diperkirakan menyuplai ke APRIL. HCVRN telah meminta APRIL meluruskan kesalahan klaim ini.

Mengabaikan temuan-teman ini, APRIL terus mengklaim di dalam sebuah dokumen yang bocor ke Greenpeace, bahwa mereka mendapat “dukungan kuat” dari WWF dan pemerintah Norwegia untuk “Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan”.  Namun keduanya, WWF dan Duta Besar Norwegia membantah-nya dan mereka tidak mendukung kebijakan ini.

“Sepertinya RGE/APRIL tidak mempertimbangkan pembukaan hutan hujan di kawasan gambut dalam akan bertentangan dengan kebijakan konservasi mereka. Tetapi hutan Indonesia telah hilang lebih cepat dari negara mana pun di dunia ini tepatnya karena praktek seperti ini,” tegas Zulfahmi.

Greenpeace juga mendokumentasikan bukti kebakaran luas pada kebun penyuplai kayu lainnya, yakni di konsesi PT Sumatra Riang Lestari (PT SRL) di Pulau Rupat, Provinsi Riau. Menurut analisis Greenpeace, titik api ditemukan 3,5 kali lebih banyak di gambut yang telah dihancurkan oleh perusahaan seperti APRIL daripada di gambut yang tidak dibuka.

“RGE/APRIL cepat menuduh pihak lain, tetapi pembukaan dan pengeringan gambut adalah alasan utama kebakaran ini. Itu seperti membasahi rumahmu dengan minyak dan menyalahkan perokok yang lewat ketika apinya sudah menguap. Sampai seluruh hutan dan gambut dilindungi penuh, kebakaran akan terus mengancam,” kata Zulfahmi.

APRIL adalah satu di antara sejumlah perusahaan pulp yang berhubungan dengan Sukanto Tanoto dikontrol kelompok RGE. Perusahaan lainnya adalah Asia Symbol, Sateri, Bahia Speciality Cellulose dan Toba Pulp Lestari. Anak perusahaan sawit grup RGE, Asia Agri terbelit kasus penggelapan pajak terbesar di Indonesia dan disebut dalam sebuah laporan interpol/UNEP untuk hubungannya dengan kejahatan kehutanan.

Meskipun kemajuan besar baru-baru ini datang dari perusahaan perkebunan besar seperti Golden Agri Resources, Wilmar dan Asia Pulp and Paper, RGE/APRIL menolak untuk berhenti membuka hutan secepatnya. Greenpeace mendesak seluruh pembeli grup tersebut, dan para pendananya yang dilaporkan termasuk Santander dan ABN Ambro untuk menunda bisnis dengan RGE/APRIL sampai mengimplementasikan komitmen yang kredibel untuk mengakhiri perannya dalam deforestasi.

Catatan untuk editor:

  1. Foto-foto pembukaan hutan yang sedang berlangsung di konsesi kayu PT Riau Andalan Pulp & Paper (PT RAPP) di Pulau Padang, Provinsi Riau. PT RAPP adalah anak perusahaan APRIL: http://photo.greenpeace.org/C.aspx?VP3=ViewBox_VPage&PSID=27MZ4BOQZSX&CT=Email&PN=1&IT=ThumbImageTemplate01_VForm&HBT=0
  2. Foto-foto bekas kebakaran hutan di konsesi kayu PT Sumatra Riang Lestari (PT SRL) di Pulau Rupat, Provinsi Riau. PT SRL adalah anak perusahaan APRIL : http://photo.greenpeace.org/C.aspx?VP3=PSR&PSID=27MZ4BOQOQO
  3. Konfirmasi Kedutaan Norwegia di Indonesia, WWF dan High Conservation Value Resource Network telah dikomunikasikan secara langsung kepada para jurukampanye Greenpeace  International
  4. Bocoran presentasi pembeli APRIL bisa diliat di sini: http://www.greenpeace.org/international/Global/international/briefings/forests/2014/APRIL%20Presentation.%20April.2014.pdf

Kontak Media:

  • Zulfahmi, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, tel: 08126821214, email:
  • Tristan Tremschnig, Koordinator Komunikasi Kampanye Hutan Indonesia, Greenpeace Internasional, mob: +62 812 953 893 69 email:
  • Zamzami, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 08117503918, email: