Greenpeace mendesak KTT tuna Cairns mengakhiri penangkapan ikan berlebihan dan mengontrol armada

Siaran Pers - 2 Desember, 2013
Jakarta, 1 Desember 2013 – Penggiat Greenpeace membentangkan spanduk bertuliskan: “WCPFC Act Now! Fewer boats, more fish” yang mengambang di pelabuhan di Pasifik. Pesan tersebut ditujukan kepada anggota Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC) yang sedang melakukan pertemuan di Cairns, Australia, 2 Desember 2013—6 Desember 2013. Greenpeace mendesak Komite untuk menghentikan masuknya industri perikanan tangkap baru di wilayah Pasifik, juga memotong jumlah tangkapan tuna secara tajam, sebagaimana direkomendasikan para ahli.

Saat ini persediaan tuna di wilayah Pasifik telah mengalami penurunan tajam, bahkan beberapa jenis tuna seperti tuna mata besar (bigeye), tuna sirip kuning (yellowfin), dan albacore membutuhkan pengelolaan khusus demi memastikan keberlangsungan persediaan tuna, sekaligus memastikan sumber penghidupan negara-negara pesisir Pasifik yang rentan, pada masa mendatang.

Indonesia sebagai salah satu pemain besar dalam industri tuna dunia, baru saja meratifikasi Konvensi Konservasi dan Manajemen Pasokan Ikan Migrasi di Wilayah Barat dan Pusat Lautan Pasifik (Convention on the Conservation and Management of Highly Migratory Fish Stocks in the Western and Central Pacific Ocean/ WCPO’s Convention) pada tahun ini melalui dekrit persiden Nomor 61/ 2013. Dengan demikian Indonesia juga disambut menjadi anggota penuh WCPFC. Diharapkan langkah tersebut dapat memudahkan Indonesia dalam memantau diskusi dan memastikan keberlanjutan stok tuna sebagai prioritas utama, alih-alih meminta pengecualian untuk tindakan konservasi.

“Ini adalah pertemuan Komisi yang ke-sepuluh (1), dan saat ini adalah waktu yang tepat bagi para anggota, termasuk Indonesia, agar tidak lagi abai terhadap ilmu pengetahuan, serta menerapkan langkah-langkah pencegahan yang kuat demi memastikan penghentian penangkapan berlebihan, dan memastikan berkurangnya jumlah kapal, termasuk berkurangnya kapasitas penangkapan,” ujar Jurukampanye Kelautan Greenpeace Indonesia Arifsyah M. Nasution.

Penangkapan berlebihan biasanya dilakuakn oleh kapal purse seine internasional berbendera Amerika Serikat, Taiwan, Korea, Spanyol, Cina, dan Jepang. Penangkapan yang dilakukan oleh kapal purse seine berukuran besar tersebut bergantung pada penggunaan perangkat agregasi ikan yang merusak, atau dikenal dengan istilah rumpon. Penangkapan menggunakan purse seine telah mengeruk lebih dari 2,5 juta tangkapan tuna di wilayah Pasifik, sepanjang tahun lalu (2). Metode pengangkapan tersebut telah mengangkut tuna remaja dalam jumlah besar sehingga berimbas pada penurunan persediaan tuna, khususnya bagi spesies tuna mata besar dan sirip kuning.

“Kapal purse seine dapat menangkap ikan tanpa menggunakan rumpon yang merusak, metode penangkapan yang merusak harus dihentikan mulai sekarng. Penangkapan tuna dengan menggunakan metode tersebut telah ditolak secara luas oleh konsumen di seluruh dunia, industri dapat memanfaatkan permintaan pasokan tangkapan ikan yang berkesinambungan apabila mereka mengambul tindakan, sekarang,” terang Arifsyah. 

Greenpeace memperingatkan bahwa komunitas pesisir yang bergantung pada tuna sebagai bahan pangan dan sumber penghidupan selama ini menderita lantaran kelambanan Komisi. “Sayangnya orang-orang kecil tersebut terlupakan dalam proses negosiasi yang melibatkan perusahaan dengan nilai jutaan dolar Amerika, para pemimpin perusahaan telah berhasil menekan delegasi tiap negara untuk menghalangi tiap tindakan progresif. Kami tentu berharap tiap pemerintah pada bulan ini mengambil tindakan tegas untuk memastikan aplikasi metode perikanan yang berkelanjutan dan mempedulikan sumber penghidupan masyarakat pesisir alih-alih memastikan bayaran besar bagi para pemimpin perusahaan yang berkuasa.” Lanjut Arifsyah.

“Langkah selanjutnya, kami meminta pemerintah Indonesia untuk memimpin dan mengimplementasi peraturan mengenai penurunan kapasitas tangkapan sehingga lautan kita memiliki waktu untuk memulihkan diri, guna menjaga sumber penghidupan ribuan nelayan Indonesia, sekaligus memastikan ketersediaan ikan bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Greenpeace mengampanyekan industri perikanan berkelanjutan dan 40% jaring global cagar laut dari total wilayah lautan dunia sebagai langkah penting agar lautan tetap mampu mempertahankan kehidupan di bumi hingga generasi mendatang.

Notes:

  1. http://www.wcpfc.int/meetings/10th-regular-session-commission
  2. http://www.wcpfc.int/node/3561         

Informasi lebih lanjut mengenai upaya Greenpeace pada WCPFC, sila telusuri tautan berikut: http://www.greenpeace.org/international/en/publications/reports/Greenpeace-briefing-for-WCPFC-10/ 

Informasi lebih lanjut:

Hikmat Suriatanwijaya, Media Campaigner, Greenpeace Indonesia
Email: Mobile: +628111805394

Arifsyah M Nasution, Oceans Campaigner, Greenpeace Indonesia
Email: