Aksi solidaritas di Jakarta dan Bali untuk pembebasan aktivis Greenpeace yang ditahan diRusia ~ Sebagai bagian dari hari aksi global di 130 kota di seluruh dunia

Siaran Pers - 5 Oktober, 2013
5 Oktober 2013 - Hari ini, puluhan ribu orang berpartisipasi dalam aksi solidaritas di seluruh dunia menuntut pembebasan 28 aktivis Greenpeace dan dua orang fotografer dan videografer dibebaskan. Ke-30 orang tersebut telah dipenjara di Rusia setelah mereka ditangkap di atas kapal Greenpeace di kawasan Arktik.

Sementara di Indonesia ratusan orang melakukan dua aksi damai sekaligus, di Bali dan Jakarta. Sekitar 300 pelajar di Bali, bersama band lokal Navicula dan aktivis Greenpeace membentuk tanda solidaritas #FreetheArctic30. Sedangkan di Jakarta sekitar 100 aktivis berkumpul di Tugu terkenal Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia.

Aksi di Jakarta dan Bali adalah salah satu aksi yang dilakukan berlangsung di seluruh benua, lebih dari 140 kota di 47 negara, dari Selandia Baru ke Meksiko, dari Thailand ke Finlandia dan Amerika Serikat. Ada juga aksi yang dilakukan di Rusia, aksi yang berlangsung di luar kantor pusat Gazprom setiap hari kerja.

“Sebuah dakwaan pembajakan telah dituduhkan kepada mereka hanya karena mereka memiliki hati nurani. Tuduhan tersebut adalah serangan terhadap prinsip-prinsip aksi damai tanpa kekerasan. Setiap tuduhan pembajakan kepada para aktivis adalah tidak beralasan dan mengerikan. Tuduhan tersebut sama sekali tidak logis dan dirancang untuk mengintimidasi sekaligus membungkam  kami, namun kami tidak akan takut,” ujar Kepala Greenpeace Indonesia Longgena Ginting.


"Hal ini sangat penting diketahui oleh teman-teman kita yang pemberani yang berada di belakang jeruji besi di Rusia agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Hari ini kami akan menunjukkan bahwa jutaan dari kita bersimpati kepada mereka, berdiri bersama mereka, dan melakukan segala yang kami bisa untuk kebebasan mereka," tambahnya.

Pada hari Rabu dan Kamis pekan ini, 28 aktivis Greenpeace, dua fotografer dan videografer, didakwa dengan pembajakan oleh pengadilan Rusia menyusul protes damai menentang pengeboran minyak di kawasan Arktik di platform minyak Gazprom di Laut Pechora. Jika terbukti bersalah, pelanggaran tersebut diberi sanksi 15 tahun penjara maksimum. Pengadilan Distrik Murmansk Lenin memerintahkan bahwa 'Arktik 30' dapat ditahan sampai setidaknya 24 November sementara tuduhan terhadap mereka sedang diselidiki oleh otoritas negara. Pengacara telah bertindak untuk membela mengajukan banding atas penahanan mereka.

Menyusul penahanan kapal Arctic Sunrise yang dilakukan secara ilegal di perairan internasional dua pekan lalu, hampir satu juta orang telah mengirim surat ke kedutaan Rusia menuntut pembebasan mereka segera. Direktur Eksekutif Greenpeace Internasional, Kumi Naidoo, menggambarkan kejadian di Rusia sebagai penyerangan yang paling serius pada aktivisme kelompok lingkungan ini sejak pemboman kapal Rainbow Warrior, pada tahun 1985.

Hari ini Kumi Naidoo mengatakan :

"Para aktivis mengambil sikap berani untuk melindungi kita semua dari perubahan iklim, dan bahaya pengeboran minyak di Arktik. Saat ini adalah masa yang penting bahwa jutaan dari kita berdiri dengan mereka dalam membela Arktik dan menuntut pembebasan mereka segera. Gazprom, Shell dan perusahaan minyak lainnya bergegas untuk mengukir Arktik dan merusak lingkungan yang rapuh harus melihat bahwa kita berjumlah jutaan dan kita tidak akan terintimidasi untuk bungkam. Kami berdiri dan bersatu, di negara-negara di seluruh dunia, menuntut pembebasan tiga puluh orang-orang pemberani."

Kontak Media:

Hindun Mulaika, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, 08118407113
Rika Novayanti, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 08111683484