Jakarta Harus Memilih Energi Bersih

Siaran Pers - 14 Desember, 2016
Bahaya Polusi Udara - Baru-baru ini sebuah laporan yang dikeluarkan oleh UNICEF menyebutkan bahwa penyakit dan infeksi terkait polusi udara dalam dan luar ruang membunuh sekitar 600.000 anak berusia di bawah 5 tahun setiap tahunnya di dunia. Kota Jakarta sebagai ibukota negara dan salah satu mega cities di dunia, ternyata memiliki tingkat polusi udara yang cukup berbahaya.

Pada semester pertama 2016, tingkat polusi udara Jakarta sangat mengkhawatirkan yaitu berada pada level 45 μg/m3, selama Januari-Juli 2016, atau 4,5 kali dari ambang batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan tiga kali lebih besar dari standar yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia. Seperti kita ketahui bahwa polusi udara dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius: kanker, penyakit kardiovaskular dan pernapasan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang rentan seperti anak-anak dan penduduk usia lanjut.

Kalkulasi terbaru menyebutkan polusi udara Jakarta dapat menyebabkan kematian dini sekitar 190 orang per hari[1]. WHO telah menetapkan bahwa PM2,5  sebagai  karsinogen Grup 1 bagi manusia dan menyatakan bahwa polusi udara adalah karsinogen lingkungan yang paling tersebar luas, yang merupakan penyebab utama kematian akibat kanker.

Sumber utama dari polusi udara adalah sektor energi, baik itu dari sektor transport dan pembangkit listrik. Energi bersih dan terbarukan sudah dikembangkan secara masif di negara-negara lain, implementasi paling efektif terjadi di skala kota dan daerah. Kota Jakarta seharusnya menjadi kota ramah lingkungan dan berkelanjutan sehingga dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia.

Pengambil Kebijakan Berperan Penting Untuk Penanganan Polusi Udara

Masalah polusi udara adalah masalah yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Penanganan atas permasalahan polusi udara perlu didukung dari segi kebijakan yang cukup implementatif. Kebijakan tersebut dapat diambil oleh pemerintah pusat maupun daerah. Melihat tingkat polusi udara yang kian mengkhawatirkan, Gubernur terpilih perlu mengambil langkah nyata dalam menyikapi masalah tersebut. Gubernur Jakarta terpilih harus mampu membuat Jakarta dapat bersaing dan mampu menjadi world megacities yang layak huni bagi penduduknya. Bahkan ibukota di negara-negara tetangga kita pun memiliki kualitas udara yang lebih baik, seperti Kuala Lumpur dan Bangkok contohnya.

Langkah solutif yang dapat diambil oleh Gubernur Jakarta terpilih nantinya dapat dibagi menjadi beberapa tahapan. Di tahun pertama sangat penting untuk Jakarta memiliki  sistem pengawasan kualitas udara secara reguler dan menetapkan target serta langkah yang ambisius untuk mengurangi polusi udara dalam jangka waktu tertentu, yang paling tidak harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh WHO.

Kemudian dalam jangka waktu bertahap, peningkatan fasilitas transportasi massal yang bertenaga listrik perlu diwujudkan. Inisiasi penggunaan tenaga surya untuk bangunan publik, pusat perbelanjaan dan di rumah-rumah penduduk juga harus didukung dengan skema finansial dari pemerintah daerah. Sangat diharapkan BUMD dapat menjadi pemain kunci pengembangan energi terbarukan di Jakarta, tidak hanya menjadi penonton dimana bisnis ini kemudian dikuasai oleh pihak swasta dan asing.

Energi Terbarukan adalah Solusinya

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh Greenpeace untuk menangani masalah polusi udara ini adalah penanganan di sektor pembangkit. Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Sebesar 95% penggunaan energi di Indonesia masih berasal dari bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak. Sementara penggunaan energi terbarukan hanya 5% dari total bauran energi di Indonesia.

Data Kementerian ESDM mencatat panasbumi memiliki potensi hingga 29,5 GW, namun baru termanfaatkan sebesar 1,44 GW (5 persennya). Adapun hidro memiliki potensi hingga 75 GW, namun baru 5,02 GW (7 persen) yang dimanfaatkan untuk PLTA dan PLTM/H. Potensi bioenergi tercatat sebesar 32,6 GW, dan baru digunakan 1,74 GW (5,3 persen).

Sementara energi surya atau matahari menyimpan potensi hingga 532,6 GWp dan baru dimanfaatkan sebesar 0,08 GWp (0,01 persen). Adapun potensi angin dan laut masing-masing sebesar 113,5 GW dan 18 GW. Akan tetapi, potensi tersebut baru termanfaatkan 6,5 MW (0,01 persen) dan 0,3 MW (0,002 persen).

Berbagai negara di dunia saat ini telah beralih kepada pemanfaatan energi terbarukan secara besar-besaran. Sebut saja India dan Cina yang telah melakukan revisi kebijakan energinya sehingga melakukan investasi besar-besaran di energi terbarukan akibat masalah polusi udara yang harus mengorbankan kesehatan jutaan rakyatnya.

Energi terbarukan, khususnya tenaga surya sudah menjadi semakin murah dari waktu ke waktu. Bahkan harga termurah saat ini ada di Abu Dabhi yaitu 2,9 sen dolar /kwh. Inisiasi pemasangan panel surya di kota besar seperti Jakarta diharapkan dapat meningkatkan permintaan dan sangat penting untuk mencapai skala ekonomis yang akan menurunkan biaya dan memastikan panel surya kompetitif dari sisi biaya dibandingkan tenaga listrik dari batubara.