Kebakaran Lahan Terjadi di Areal Pemasok Sawit untuk Perusahaan Merek Ternama Dunia

Siaran Pers - 29 Agustus, 2018
Jakarta 29 Agustus – Kebakaran yang menimbulkan kabut asap di kota Pontianak, Kalimantan Barat belakangan ini terjadi di lahan konsesi beberapa perusahaan berdasarkan dokumentasi terbaru Greenpeace Indonesia. [1] Salah satunya berada di areal PT Sumatera Unggul Makmur (SUM) yang terbakar setiap tahunnya sejak 2013. Konsesi perkebunan ini dimiliki oleh Gama, sebuah perusahaan kelapa sawit yang terkait erat dengan Wilmar yang merupakan perusahaan pedagang minyak sawit terbesar dunia. [2]

Titik api di Kalimantan Barat juga tercatat muncul di konsesi milik Bumitama dan First Resources. Ketiga perusahaan ini merupakan pemasok minyak sawit ke merek-merek ternama dunia, termasuk Mondelez, Nestlé dan Unilever, melalui Wilmar dan pedagang minyak sawit lainnya. 

“Pemerintah Indonesia telah berkomitmen menindak perusahaan dan industri sawit nakal yang masih mengeringkan gambut dengan membuka kanal sehingga menyebabkan kebakaran, tetapi kami belum melihat tindakan tegas pemerintah seperti mencabut izin usaha, karena perusahaan abai melindungi lahan mereka dari kebakaran. Kabut asap di Pontianak memaksa pemerintah daerah menghentikan aktivitas sekolah merupakan persoalan serius bagi kesehatan masyarakat,” kata Annisa Rahmawati, Juru kampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

Tahun ini telah terjadi peningkatan besar jumlah titik api di seluruh Indonesia. Sebanyak 9.819 muncul titik api teridentifikasi di Kalimantan Barat, hampir tiga kali lipat jumlah di tahun 2017 (3.488). [3] Jumlah titik api telah meningkat mulai Agustus, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG) memperingatkan bahwa cuaca yang semakin kering berpotensi meningkatkan titik api hingga September.

Arif Setiawan warga asal Rasau Jaya di Kalimantan Barat mengaku geram karena selalu terkena dampak kabut asap kebakaran, itulah sebabnya dia bergabung dengan Tim Cegah Api Greenpeace Indonesia.

"Tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap memasuki bulan Agustus atau kemarau asap kebakaran lahan sampai ke kota dengan bau menyengat terutama menjelang malam. Kabut asap kebakaran bisa terlihat jelas dari jembatan sungai Kapuas, cukup pekat dalam beberapa minggu belakangan ini terlebih lagi di Rasau asap lebih buruk karena dekat dengan titik api," tutur Arif.

"Asap kebakaran berasal dari lahan gambut, baik itu areal konsesi atau lahan terbengkalai. Ketika angin bertiup kencang kita bisa melihat api melalap lahan dan vegetasi. Warga terpaksa harus membiasakan diri menjalani aktivitas di bawah kepungan asap dan mengenakan masker. Jika asap kebakaran parah, anak-anak harus tetap berada di rumah," kata Arif.

WALHI Kalimantan Barat menilai kebakaran di bulan Agustus 2018 di Kalimantan Barat ini secara kualitas sama buruknya dengan kebakaran di tahun 2015 yang lalu, kondisi ini menunjukan semua inisiatif pengendalian kebakaran dan restorasi gambut di Kalimantan Barat mengalami kegagalan.

“Fakta ini kembali menjelaskan bahwa pengendalian kebakaran dan penyelamatan gambut tanpa melakukan penegakan hukum kepada korporasi yang konsesinya terbakar atau dibakar adalah kesia-siaan. Karena itu, kami kembali menagih komitmen pemerintah untuk tidak lagi melindungi para penjahat lingkungan dan menjadikan penegakan hukum lingkungan sebagai pintu utama perbaikan tata kelola sumber daya alam di Indonesia,” tutup Anton P. Widjaya, Direktur WALHI Kalimantan Barat.

 

Foto dan Video
https://media.greenpeace.org/collection/27MZIFJWT4693


Catatan
[1] Peta PT Sumatera Unggul Makmur, (Gama) https://bit.ly/2PH1237

  PT Sejahtera Sawit Lestari (Bumitama) https://bit.ly/2wwdXfl

  PT Limpah Sejahtera (First Resources) https://tiny.cc/myplxy

 

[2] Straits Times: 2 execs quit palm oil giant Wilmar after Greenpeace deforestation report https://tiny.cc/xuplxy

[3] Jumlah titik api sumber LAPAN menggunakan MODIS & VIIRS

 

Kontak

Annisa Rahmawati, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia,

Tel 62-811-1097-527, email

Anton Widjaya, Direktur WALHI Kalimantan Barat, Tel 62-811-574-476

Rully Yuliardi Achmad, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, Tel 62-811-8334-409, email