Kebijakan Konservasi Hutan Baru dari Perusahaan Pulp dan Kertas Raksasa APRIL Menunjukkan Perlindungan Hutan Menjadi Norma Baru Bagi Industri Indonesia

Siaran Pers - 3 Juni, 2015
Greenpeace mengapresiasi APRIL dan meminta pemerintah mendukung lingkungan, masyarakat dan perusahaan-perusahaan yang progresif dalam reformasi sektor kehutanan.

JAKARTA, INDONESIA 3 JUNI 2015 – Hari ini APRIL, salah satu produsen kertas terbesar di dunia mengumumkan untuk mengakhiri deforestasi sebagai bagian dari “Rencana Pengelolaan Hutan Lestari” yang baru.

Deforestasi dari sektor pulp dan kertas, serta kelapa sawit, merupakan penyebab utama emisi gas rumah kaca di Indonesia. Apabila terlaksana dengan baik, janji APRIL  ini akan menjadi langkah besar dari kalangan bisnis menuju perlindungan hutan hujan dan gambut Indonesia.

Perusahaan induk APRIL, Kelompok Raja Garuda Mas (RGM), juga telah mengumumkan bahwa kebijakan pelestarian yang baru ini, akan diimplementasikan oleh perusahaan  pulp dan  kertas lainnya yang termasuk di dalam grup perusahaan. Greenpeace saat ini menangguhkan kampanyenya untuk memberikan waktu kepada APRIL dan perusahaan-perusahaan kelompok RGM lainnya melaksanakan kebijakan barunya hingga menjadi kenyataan.

“Kami mengapresiasi langkah APRIL untuk mengakhiri deforestasi, meski demikian kami akan tetap memantau untuk memastikan bahwa pengumuman hari ini akan benar membawa perubahan di lapangan,” kata Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Greenpeace di Indonesia. “Komitmen hari ini dari APRIL dan kelompok RGM adalah bukti bahwa perlindungan hutan adalah sebuah norma baru bagi perusahaan-perusahaan perkebunan di Indonesia.”

APRIL telah menyetujui sejumlah langkah baru konservasi, termasuk diantaranya dengan menggunakan pendekatan Karbon Stok Tinggi (HCS) untuk mengindentifikasi dan melindungi kawasan hutan yang masih tersisa di konsesi mereka. Perusahaan ini juga telah setuju untuk melindungi hutan gambut dan telah membentuk Kelompok Kerja Ahli Gambut untuk membantu mengembangkan praktik terbaik internasional dalam pengelolaan gambut untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Gambut Indonesia menyimpan kurang lebih 60 milyar metrik ton karbon. Ketika gambut dikeringkan untuk dijadikan perkebunan, karbonnya akan terlepas, dan area tersebut menjadi rentan akan kebakaran yang menyelimuti kawasan ini dalam kabut tahunan.

APRIL juga telah setuju untuk bekerja bersama dan secara transparan untuk menyelesaikan konflik sosial yang belum tuntas dan membantu peluang-peluang pengembangan bagi masyarakat lokal tanpa melibatkan deforestasi.

Pengumuman APRIL ini  datang setelah kebijakan serupa oleh pemain besar lainnya di sektor kelapa sawit dan kertas untuk melindungi hutan dan gambut Indonesia. Pada September lalu, beberapa perusahaan minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia, termasuk di antaranya perusahaan saudaranya APRIL yakni Asian Agri dan Apical, setuju untuk mengakhiri deforestasi. Pada saat yang bersamaan, memang dukungan yang datang dari komunitas bisnis di Indonesia semakin banyak untuk model pembangunan yang berbasis pada perlindungan hutan.

“Presiden Joko Widodo telah berjanji untuk menghentikan perusahan perkebunan yang merusak lingkungan ataupun yang merugikan masyarakat. Namun meskipun perusahaan-perusahaan kelapa sawit dan kayu terbesar di Indonesia melangkah menjauh dari deforestasi, penghancuran hutan di lapangan terus berlanjut. Pemerintah harus mereformasi sektor kehutanan sekarang sehingga bisa memberikan dampak baik bagi masyarakat dan lingkungan,” kata Bustar.

Catatan untuk editor:

  1. Sebagai akibat dari ekspansi yang cepat dari sektor kelapa sawit dan pulp serta kertas yang memasuki kawasan hutan hujan dan gambut Indonesia, pada 2005 Indonesia menempati posisi ketiga teratas negara di dunia dalam hal kontribusi emisi gas rumah kaca. Hilangnya habitat hutan untuk konsesi kelapa sawit dan pulp serta kertas telah menyebabkan spesies satwa liar yang sudah terancam punah seperti harimau Sumatra dan Orangutan semakin dekat dengan kepunahan.
  2. Asia Pacific Resources International Ltd. APRIL adalah perusahaan pulp dan kertas terbesar kedua di Indonesia dan satu dari produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Kebijakan Rencana Pengelolaan Hutan Lestari (Sustainable Forest Management Plan-SFMP) baru mereka tersedia di website www.aprilasia.com
  3. Di samping kebijakan baru APRIL, kelompok Raja Garuda Mas (RGM) telah mengumumkan prinsip-prinsip lestarinya yang akan diimplementasikan oleh perusahaan-perusahaan pulp-nya, termasuk di antaranya Toba Pulp Lestari, Asia Symbol dan Sateri. Prinsip-prinsip tersebut bisa dibaca di website mereka, www.rgei.com. Perusahaan kelapa sawit di kelompok RGM, yakni Asian Agri dan Apical telah mengumumkan kebijakan lestarinya yang baru, termasuk mengakhiri deforestasi pada September 2014 lalu. http://www.apicalgroup.com/sustainability
  4. APRIL dan Asia Pulp and Paper (APP) bersama merupakan penyumbang sekitar 80% total produksi pulp di Indonesia. APP telah mengumumkan kebijakan perlindungan hutan yang baru dan termasuk pula di dalamnya pengakhiran deforestasi pada tahun 2013. Perusahaan-perusahaan ini adalah satu-satunya produsen pulp skala besar yang menggunakan serat hutan alam. Sedangkan perusahaan-perusahaan pulp lainnya hanya menggunakan akasia atau hanya memproduksi pulp dalam jumlah yang sangat kecil.

Ringkasan Komitmen Rencana Pengelolaan Hutan Lestari APRIL:

  • Mengakhiri pengembangan lebih lanjut di kawasan berhutan mana pun, termasuk hutan-hutan gambut.
  • Bekerjasama dengan ahli internasional untuk mengembangkan praktik terbaik pengelolaan gambut pada tingkat landsekap untuk mengurangi serta menghindari emisi gas rumah kaca.
  • Protokol-protokol untuk memastikan bahwa masyarakat bisa menjalankan hak mereka untuk Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan (FPIC), serta menuntaskan konflik dengan masyarakat yang terdampak dari operasi saat ini.
  • Melestarikan kawasan yang  luasnya setara dengan kawasan perkebunan APRIL.
  • Langkah-langkah tambahan untuk mendukung pengelolaan hutan yang bisa dipertanggungjawabkan di seluruh rantai pasokan global APRIL

Kontak Media:

  • Bustar Maitar, Kepala kampanye hutan Greenpeace untuk Indonesia, , mob. +62 813 4466 6135
  • Igor O'Neill, Komunikasi Internasional untuk Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, , mob +62 811 1923 721
  • Greenpeace International Press Desk, , phone: +31 (0)20 718 2470