Kecanduan Batubara dan Perubahan Iklim; Sebuah Pameran Foto

Siaran Pers - 29 Januari, 2013
Greenpeace hari ini melakukan pembukaan pameran foto yang berjudul “Sebuah desakan dari perubahan iklim”, yang mengekspos tentang realita perubahan iklim, tantangan serta solusinya. Perubahan iklim merupakan tantangan terbesar yang sedang dihadapi umat manusia saat ini, dan Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah yang paling rentan sekaligus paling tidak siap menghadapi dampak yang ditimbulkannya. Peristiwa cuaca ekstrim seperti angin topan sekarang lebih sering terjadi, menyebabkan tanah longsor dan bencana banjir. Tidak hanya itu, kekeringan berkepanjangan juga lebih sering terjadi, peningkatan suhu yang merusak sumber daya kelautan, naiknya permukaan air laut secara perlahan merambah pada garis pantai penduduk, hingga rusaknya cadangan air tawar.

“Tujuan utama pameran ini adalah untuk menceritakan kisah tentang perubahan iklim penyebab, dampak dan solusi,” kata Longgena Ginting, Kepala Greenpeace Indonesia. Asia Tenggara adalah salah satu wilayah yang paling rentan dan paling tidak siap menghadapi dampak perubahan iklim. “Pameran ini membawa kita untuk melihat pada dua aspek yaitu masalah serta solusi yang berkaitan dengan perubahan iklim di Asia Tenggara,” jelasnya.

Bukti perubahan iklim nyata adanya, dan umat manusia menghadapi bahaya yang semakin besar jika kita tidak bertindak  tegas  melakukan revolusi energi dalam tahun-tahun mendatang dari ekonomi yang  berdasarkan bahan bakar fosil menuju kepada energi bersih, energi terbarukan.

Saat ini batubara dianggap bahan bakar termurah di dunia, namun juga paling kotor dan paling mencemari. “Alih-alih meninggalkan ketergantungan terhadap batubara, para pemimpin negara-negara di dunia terus menggali bahan bakar terkotor ini dan membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara sehingga menjadikan batubara menjadi salah satu penyumbang utama gas rumah kaca penyebab perubahan iklim,” kata Arif Fiyanto, Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

Setiap tahap dalam pengolahan batubara dari awal ketika ditambang, hingga akhir bahkan setelah itu dibakar selalu membawa konsekuensi. “Kerusakan yang ditimbulkan oleh batubara meliputi polusi beracun, menghancurkan mata pencaharian, masyarakat yang terpaksa mengungsi, efek kesehatan pada sistem pernafasan dan syaraf, hujan asam, polusi asap, serta hasil pertanian berkurang,” imbuh Arif. Tapi konsekuensi terbesar adalah perubahan iklim yang akan mempengaruhi semua negara dan orang-orang di dunia.

Namun, Asia Tenggara juga merupakan bagian dari solusi dunia, khususnya energi terbarukan yang sedang berkembang pesat. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama 10-negara anggota Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), telah mulai bekerja lebih erat untuk mendorong perkembangan revolusi energi. Upaya yang lebih progresif telah diberikan oleh negara-negara di kawasan itu dengan menetapkan target energi terbarukan dengan kerangka kebijakan yang mendukung serta menarik bagi investasi sektor swasta. Enam dari sepuluh negara anggota ASEAN telah mengadopsi target jangka menengah dan jangka panjang untuk energi terbarukan, dengan beberapa negara mengumumkan target pengurangan karbon.

Pameran ini membawa kita ke tiga negara di Asia Tenggara yang menceritakan kisah tentang sebuah desakan dari iklim. Kami  menunjukkan pertambangan batubara berikut operasinya di Indonesia, mencari tahu bagaimana perubahan iklim mempengaruhi masyarakat rentan di Filipina, dan akhirnya kita  membuktikan  bagaimana beberapa solusi yang menjanjikan akan memastikan masa depan yang lebih baik bagi kita semua di wilayah tersebut.

Kontak:

Arif Fiyanto, Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia,

Rahma Shofiana, Juru kampanye Media Greenpeace Indonesia,