L' Oreal membuat komitmen untuk mengakhiri perannya dalam deforestasi

Greenpeace mendesak L' Oreal untuk menerapkan kebijakan tanpa penundaan

Siaran Pers - 30 Januari, 2014
Jakarta, 30 Januari 2014 - L' Oreal, perusahaan kosmetik dan kecantikan terbesar di dunia, telah berkomitmen untuk menghapus hubungan antara deforestasi dari produk-produknya pada tahun 2020. Greenpeace mengharapkan perusahaan lain dapat mengikuti dengan tenggat waktu yang lebih ambisius.

"Ini merupakan kemenangan bagi konsumen di seluruh dunia, L' Oreal telah berkomitmen untuk mengakhiri perannya dalam perusakan hutan. Ribuan orang di Indonesia dan seluruh dunia yang telah menuntut produk ramah hutan akan menuntut perusahaan seperti P & G, Colgate Palmolive, dan merek seperti Head & Shoulders agar menjamin bahwa mereka juga tidak menggunakan minyak sawit kotor dari perusakan hutan," kata Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace Internasional.

L' Oreal sekarang telah bergabung dengan Nestle, Unilever dan Ferrero, yang telah berkomitmen akan kebijakan Nol Deforestasi. Raksasa minyak sawit lainnya mulai bergerak juga, dengan pedagang minyak sawit terbesar di dunia, Wilmar International, berkomitmen untuk kebijakan Nol Deforestasi akhir tahun lalu karena tekanan dari publik, LSM serta konsumen.

"Komitmen yang telah dibuat oleh L'Oreal, Unilever dan Ferrero telah mengirimkan sinyal kuat kepada sektor ini, namun mereka masih memungkinkan pemasok mereka untuk menebang hutan sampai enam tahun ke depan. Dengan lajunya pemanasan global dan kehilangan keanekaragaman hayati yang berlangsung cepat, kami mendesak perusahaan-perusahaan untuk menjamin konsumen bahwa produk mereka akan bebas dari kerusakan hutan sebelum tenggat waktu tahun 2020," kata Bustar.

Membuat komitmen untuk kebijakan tersebut hanya langkah awal untuk menjamin bahwa konsumen tidak menjadi bagian dari kerusakan hutan melalui produk yang mereka konsumsi sehari-hari. Greenpeace akan terus mendorong L' Oreal dan perusahaan lain dalam Tiger Challenge agar kebijakan-kebijakan mereka sungguh-sungguh diterapkan di lapangan.

Sektor minyak kelapa sawit adalah penyebab tunggal terbesar dari deforestasi di Indonesia. Peta Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan 620.000 ha hutan hujan setiap tahun (area yang lebih besar dari ukuran Brunei), dan mendorong spesies ikonik seperti Harimau Sumatera yang hanya tersisa 400 ekor, menuju kepunahan. Ekspansi kelapa sawit ke New Guinea dan Afrika sudah mengancam hutan, memicu kontroversi dan konflik dengan masyarakat lokal.

Catatan untuk editor:

  1. Greenpeace Internasional menunjukkan kepada para konsumen sejumlah perusahaan yang terkait dengan kerusakan hutan dalam situs laman: http://www.greenpeace.org/tigerchallenge
  2. Komitmen L’Oreal dapat dilihat disini: http://www.loreal.com/news/loreal-committed-to-0-deforestation-by-2020.aspx

 

Kontak:

  • Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace Internasional, 081344666135
  • Hikmat Suriatanwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 081380473866