Hari ini, lima aktivis Greenpeace tiba di kawasan sekitar Desa Kusuma, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau, untuk melihat kondisi hutan di sana yang menjadi salah satu habitat penting Harimau Sumatra, yang kini tinggal tersisa kurang dari 400 ekor saja di alam bebas.
Di kawasan ini, lagi-lagi aktivis Greenpeace menyaksikan hutan di sekitar Kawasan Hutan Tesso Nilo dihancurkan untuk dijadikan perkebunan Hutan Tanaman Industri (HTI) oleh PT. Arara Abadi (salah satu anak perusahaan Asia Pulp and Paper –APP).
Juli lalu beberapa aktivis Greenpeace juga sempat datang ke kawasan ini bersama rombongan (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) BKSDA Riau dalam rangka penyelamatan seekor harimau Sumatra yang terjerat di kawasan perkebunan. Sayangnya upaya penyelamatan itu tidak berhasil mencegah harimau itu dijemput oleh maut.
Greenpeace juga menyaksikan proses pembukaan lahan (land clearing) dan yang membuat terkejut, perusakan itu terjadi di sebuah lahan gambut kaya karbon sedalam lebih dari tiga meter. Selain mendokumentasikan kondisi ini, para aktivis membentangkan spanduk bertuliskan “Selamatkan Hutan, Selamatkan Rumah Harimau” sebagai simbol ajakan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut serta dalam upaya penyelamatan hutan Indonesia yang masih tersisa.
“Hari ini kami berada di hutan yang merupakan salah satu habitat paling penting bagi harimau Sumatra yang terancam punah. Kami melihat perusakan masih terjadi dengan leluasa, bahkan terhadap lahan gambut kaya karbon. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin telah menyatakan komitmennya untuk menyelamatkan hutan Indonesia yang masih tersisa. Komitmen ini harus segera terwujud menjadi aksi nyata sehingga perusakan semacam ini harus segera dihentikan,” tegas Rusmadya Maharuddin, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.
“Kita harus berjuang menyelamatkan hutan Indonesia yang masih tersisa. Dengan menyajikan fakta perusakan hutan ini, kita sekaligus mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bergabung bersama kami menjadi ‘Mata Harimau’ (1), mendesak perusahaan untuk segera menghentikan perilaku merusaknya dan beralih ke operasi yang lebih lestari dan bertanggung jawab, serta pemerintah harus mengimplementasikan perlindungan penuh terhadap lahan gambut serta hutan alam dan melakukan peninjauan kembali izin yang telah diberikan,” imbuh Rusmadya.
Catatan untuk redaksi
(1) Untuk ikut bergabung dan beraksi menyelamatkan hutan rumah Harimau, silahkan kunjungi: www.greenpeace.or.id/mataharimau
Kontak:
Rusmadya Maharuddin, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia, 0813 654 22373 (di lapangan) Zulfahmi, Team Leader Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, 0812 6821 214 (di lapangan) Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 08111 805 394 (di Jakarta)
Untuk permintaan foto dan video silahkan hubungi:
Rahma Shofiana, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 0812 183 283 17