Laporan Greenpeace dan Harvard terbaru Mengungkap Masalah Kematian Dini akibat PLTU batubara di Indonesia

Siaran Pers - 12 Agustus, 2015
Jakarta, 12 Agustus 2015. Hari ini Greenpeace dan Harvard mengeluarkan sebuah laporan terbaru berjudul “Ancaman Maut PLTU Batubara”, untuk pertama kalinya mengungkapkan penyakit dan kematian yang terkait dengan pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) di Indonesia. PLTU batubara di Indonesia menyebabkan sekitar 6,500 jiwa kematian prematur setiap tahun. Jumlah ini bisa naik hingga 15,700 jiwa per tahun jika pemerintah Indonesia meneruskan peluncuran rencana ambisius lebih dari seratus pembangkit listrik tenaga batu bara yang baru.

Angka-angka mengkhawatirkan ini didasarkan pada model atmosfer baru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Harvard, menggunakan model atmosfer transport-kimia canggih, GEOS-Chem.

"Indonesia berada di persimpangan jalan," kata Hindun Mulaika, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia. "Presiden Jokowi memiliki pilihan, tetap dengan pendekatan bisnis seperti biasa untuk menghasilkan listrik dan mengambil  kehidupan ribuan orang Indonesia, atau memimpin perubahan dan ekspansi yang cepat untuk energi yang aman, bersih, yaitu energi terbarukan.”

"Laporan baru ini jelas menunjukkan polusi batubara yang berdampak pada kehidupan rakyat Indonesia. Hidup berusia pendek akibat penyakit stroke, serangan jantung, kanker paru-paru, penyakit jantung, dan pernapasan lainnya. Sedihnya, dampak kesehatan juga banyak mencakup kematian pada anak-anak, "lanjut Hindun. "Ada juga biaya ekonomi yang serius, hingga saat ini, belum diperhitungkan."

Laporan ini diluncurkan menyusul pengumuman baru oleh Presiden Jokowi untuk membangun tambahan 35GW pembangkit listrik baru, dimana sebanyak 22GW diantaranya akan datang dari pembangkit listrik batubara.

"Kabar baiknya adalah bahwa pilihan Presiden menjadi jauh lebih jelas," kata Hindun. "Pertama, laporan ini menunjukkan dampak sebenarnya dari energi berbasis batubara pada kehidupan dan kesehatan rakyat Indonesia. Kedua, Indonesia memiliki kesempatan untuk meninggalkan teknologi kotor dan mengikuti pemimpin dunia lainnya beralih ke energi bersih. Hal ini akan menghasilkan lingkungan yang sehat, warga yang lebih aman dan lebih makmur, "pungkas Hindun.

Profesor Shannon Koplitz dari Harvard mengatakan "Emisi dari pembangkit listrik tenaga batu bara membentuk partikel dan ozon yang merugikan kesehatan manusia. Indonesia adalah salah satu negara di dunia dengan rencana terbesar untuk memperluas industri batubara, namun sedikit yang telah dilakukan untuk mempelajari dampak kesehatan yang ditimbulkannya. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ekspansi batubara yang direncanakan secara signifikan dapat meningkatkan tingkat polusi di seluruh Indonesia. Biaya kesehatan manusia dari meningkatnya polusi batubara ini harus dipertimbangkan ketika membuat pilihan tentang masa depan energi Indonesia."

Ahli batubara dan polusi udara Greenpeace, Lauri Myllyvirta mengatakan: "Setiap pembangkit listrik berbahan bakar batubara baru berarti berisiko bagi kesehatan orang-orang Indonesia: "pembangkit listrik batubara yang diusulkan di Batang saja bisa menyebabkan 30.000 kematian dini melalui masa operasi 40 tahun. Ketika biaya energi terbarukan menurun dengan cepat dan dampak kesehatan yang serius batubara diperhitungkan, menjadi jelas bahwa ekonomi Indonesia akan mendapat manfaat lebih besar dari pengembangan energi terbarukan modern. "

Kontak media:

 

  • Hindun Mulaika, Climate and Energy Campaigner for Greenpeace Indonesia, +628118407113, email:
  • Lauri Myllyvirta, Greenpeace Coal and Air Pollution Specialist,
  • Shannon Koplitz, Harvard Researcher Project Leader, ,
  • Rahma Shofiana, Media Campaigner for Greenpeace Indonesia, +628111461674, email:

Laporan:

http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/Hasil-Penelitian-Harvard-Ancaman-Maut-PLTU-Batubara-Indonesia/

 

Seleksi Foto:

http://photo.greenpeace.org/C.aspx?VP3=SearchResult&LBID=27MZKTNFT2Z1N&IT=Thumb_FixedHeight_M_Details_NoToolTip