Mengaum Lebih Keras Untuk Hutan Indonesia

Siaran Pers - 15 Desember, 2013
Jakarta, 15 Desember 2013. Hari ini, aktivis, sukarelawan, dan warga bersama Greenpeace serentak melakukan Aksi Nasional untuk Hutan di 7 kota yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Pekanbaru, Bali, Padang dan Surabaya. Aksi ini bertujuan untuk mengajak publik di kota-kota tersebut untuk merayakan komitmen bersama untuk melindungi hutan Indonesia. Ratusan orang di berbagai kota besar di Indonesia turut serta dalam aksi nasional ini, dan menyatakan untuk bertindak lebih berani dalam melindungi hutan.

Menyusul tekanan konsumen dan Ornop termasuk Greenpeace Wilmar Internasional, perusahaan minyak sawit terbesar di dunia mengumumkan komitmen untuk Kebijakan Nol Deforestasi pada tanggal 5 Desember lalu. Komitmen Wilmar tersebut termasuk tidak akan terlibat dalam eksploitasi kawasan hutan dengan karbon tinggi (High Carbon Stock areas) atau dengan nilai konservasi tinggi (High Conservation Value areas) atau lahan gambut, atau dengan sadar membeli dari pemasok yang terlibat eksploitasi HCS, HCV atau gambut.Kebijakan tersebut memiliki potensi untuk menjadi kemenangan penting bagi hutan tropis dunia dan orang-orang yang bergantung pada hutan sebagai sumber kehidupan.

“Ini merupakan suatu langkah perubahan besar dalam sektor perkebunan kelapa sawit, kata Teguh Surya, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia. Komitmen Wilmar atas Nol Deforestasi memiliki potensi untuk mengubah industri minyak sawit yang kontroversial,” imbuhnya.

Menurut peta resmi Kementerian Kehutanan yang diberikan kepada Greenpeace pada tahun 2013, Indonesia kehilangan setidaknya 1.240.000 hektar hutan dalam periode antara 2009 dan 2011, atau setara dengan 620.000ha per tahunnya. Sektor kelapa sawit adalah pendorong terbesar deforestasi pada periode 2009–2011, dimana konsesi-konsesi tersebut teridentifikasi menyumbang sekitar seperempat (300.000 ha) dari hilangnya habitat harimau.

Kerusakan semacam ini memfragmentasi wilayah besar hutan sebagai habitat Harimau Sumatera. Saat ini diperkirakan hanya sekitar 400 ekor harimau Sumatera yang hidup di hutan-hutan Sumatra. Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan bubur kayu/HTI (Hutan Tanaman Industri)  adalah penyebab hampir dua pertiga kerusakan habitat harimau dalam kurun waktu antara 2009 sampai 2011.

Saat ini, harimau Sumatra diklasifikasikan sebagai ‘terancam punah secara kritis’ dalam Daftar Merah Spesies Terancam punah IUCN (International Union for Conservation of Nature) – inventarisasi dunia paling komprehensif mengenai status konservasi spesies alam liar. Harimau adalah spesies indikator sebagai tanda vital akan kondisi kesehatan hutan. Ketika harimau tidak lagi dapat hidup di dalamnya, maka keberlangsungan kehidupan hutan dan spesies lain di dalamnya juga turut terancam.

Greenpeace akan memantau bagaimana Wilmar menempatkan kata-kata ini ke dalam tindakan, dan akan segera menyambut berakhirnya perdagangan Wilmar dengan semua perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam deforestasi. Tantangan ini dilempar ke pedagang minyak sawit lainnya seperti Cargill, Musim Mas, dan Sime Darby untuk mengeluarkan kebijakan serupa," pungkas Teguh.

Kontak:

Teguh Surya, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia, 081915191979

Rahma Shofiana, Jurukampane Media Greenpeace Indonesia, 08111461674