Pedagang minyak sawit raksasa Wilmar tunduk terhadap tekanan publik, berkomitmen untuk mengakhiri kerusakan hutan

Siaran Pers - 6 Desember, 2013
Jakarta, 6 Desember 2013 - Wilmar International, pedagang minyak sawit terbesar di dunia hari ini mengumumkan Kebijakan Deforestasi dalam menanggapi tekanan dari Greenpeace, LSM dan konsumen di seluruh dunia. Kebijakan tersebut memiliki potensi untuk menjadi kemenangan penting bagi hutan tropis dunia dan orang-orang yang bergantung pada hutan sebagai sumber kehidupan.

Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace International mengatakan:

"Wilmar telah menanggapi tekanan dari Greenpeace, LSM lain, dan gerakan yang tumbuh dari konsumen di seluruh dunia yang menuntut kelapa sawit bersih dan mengakhiri perusakan hutan. Komitmen Wilmar atas Nol Deforestasi memiliki potensi untuk mengubah industri minyak sawit yang kontroversial."

"Kebijakan Wilmar menunjukkan bahwa sektor ini memiliki masalah besar, dan sementara kebijakan ini adalah kabar baik bagi hutan dan harimau, keberhasilannya akan dinilai oleh tindakan Wilmar untuk menerapkan dan menegakkannya. Tantangan kita ke Wilmar adalah: akankah sekarang segera berhenti membeli sumber dari perusahaan seperti Ganda Group, yang berhubungan erat dengan Wilmar dan terlibat dalam pembukaan hutan, pengembangan lahan gambut ilegal serta konflik sosial?”

Selama tujuh tahun terakhir, Greenpeace telah berulang kali mengungkap peran Wilmar dalam tindakan kotor kerusakan hutan, mengeruk sumber daya alam dari taman nasional, menghancurkan habitat utama harimau, membeli sumber dari pemasok yang terkait dengan 'kuburan’orangutan atau krisis kebakaran hutan tahun ini di Sumatera.

"Selama bertahun-tahun, perusahaan termasuk Wilmar, telah bersembunyi di balik Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Greenpeace akan memantau bagaimana Wilmar menempatkan kata-kata ini ke dalam tindakan, dan akan segera menyambut berakhirnya perdagangan Wilmar dengan semua perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam deforestasi. Tantangan ini dilempar ke pedagang minyak sawit lainnya seperti Cargill, Musim Mas, dan Sime Darby untuk mengeluarkan kebijakan serupa," tambah Bustar.

Sektor minyak kelapa sawit adalah penyebab tunggal terbesar dari deforestasi di Indonesia . Peta dari Departemen Kehutanan menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan 620.000 ha hutan hujan setiap tahun antara 2009-2011 (area yang lebih besar dari ukuran Brunei). Ekspansi kelapa sawit di New Guinea dan Afrika sudah mengancam hutan, memicu kontroversi dan konflik dengan masyarakat lokal.

Wilmar International menyumbang lebih dari sepertiga dari perdagangan global minyak sawit.

Catatan untuk editor:

Pengumuman kebijakan Nol Deforestasi Wilmar dapat dilihat disini:
http://phx.corporate-ir.net/External.File?item=UGFyZW50SUQ9MjE0MzIzfENoaWxkSUQ9LTF8VHlwZT0z&t=1

Media kontak:

  • Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace Internasional, HP: 081344666135
  • Wirendro Sumargo, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia, HP: 08111111934
  • Hikmat Suriatanwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, HP: 081380473866