Pemasok Wilmar Tertangkap Basah Menghancurkan Hutan

Siaran Pers - 22 Nopember, 2013
JAKARTA, 22 November 2013 – Pemasok kelapa sawit untuk perusahaan yang berbasis di Singapura Wilmar International tertangkap basah merusak hutan gambut yang merupakan rumah bagi spesies terancam Orangutan, seperti terungkap dalam foto yang jarang diperoleh dari investigasi udara yang dilakukan Greenpeace Asia Tenggara di Kalimantan.

Pemilik perkebunan ini adalah Bumitama Agri yang hari ini menolak mengakui bahwa mereka telah “menghancurkan hutan atau membunuh orangutan,” tetapi telah berjanji akan menghentikan seluruh penanaman sawit sebagai tanggapan atas tekanan dari sejumlah LSM termasuk Greenpeace dan para konsumennya.

“Hanya dalam satu minggu, Greenpeace kembali menangkap basah pemasok Wilmar atas tindakannya menghancurkan hutan yang merupakan habitat penting bagi orangutan yang juga dikenal di dunia sebagai taman nasional. Lebih dari enam bulan, LSM global meminta perusahaan ini untuk menghentikan praktik buruknya, tetapi di lapangan pembukaan hutan terus berlanjut dan orangutan di dalam konsesi mereka menderita.

“Perusahaan ini hanya melakukan hal yang kecil dan juga lambat. Jika ini yang disebut sebagai keberlanjutan, maka konsumen memiliki hak meminta jaminan kepada Wilmar untuk berhenti mencuci kelapa sawit dari kehancuran hutan ke pasar global,” kata Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

“Greenpeace meminta penegasan segera dari Bumitama bahwa semua pembukaan hutan harus dihentikan, dan Bumitama berkomitmen untuk melindungi seluruh gambut dan hutan yang ada di dalam konsesinya. Hingga Bumitama berkomitmen untuk kebijakan nol deforestasi, orangutan dan hutan di dalam konsesi mereka akan selalu terancam.

Sebelumnya Bumitama pernah berjanji namun melanggarnya, mengklaim telah menghentikan pengembangan perkebunan di satu konsesi mereka di awal tahun 2013 setelah ditemukannya sejumlah orangutan tersudut di sisa hutan dalam konsesinya. Bagaimanapun analisas peta Greenpeace mengungkapkan bahwa perusahaan telah menghancurkan 1,150 ha hutan di dalam konsesinya pada tahun 2013.

Sektor kelapa sawit adalah penyebab tunggal deforestasi terbesar di Indonesia. Peta milik Kementrian Kehutanan menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan sekitar 620.000ha hutan hujan setiap tahunnya (lebih dari luasan Negeri Brunei). Seperempat kehilangannya terjadi selama periode pertengahan tahun 2009 ke pertengahan tahun 2011 di Kalimantan Tengah, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang terkenal secara internasional. Tanjung Puting adalah populasi orangutan terbesar yang tersisa.

Perusahaan yang berbasis di Singapura, Wilmar Internasional adalah pengolah kelapa sawit terbesar dunia, terhitung lebih dari sepertiga pasar pengolahan kelapa sawit global dan merupakan investor utama untuk Bumitama Agri Ltd.

Kontak Media:

Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace Internasional, telp: +6281344666135
Tristan Tremschnig, Koordinator Komunikasi Hutan Indonesia, Greenpeace Internasional, tel: +31 6 43 78 7393 email: