Pemerintah Indonesia Didesak Kawal Terus Komitmen Industri Sawit

Presiden terpilih Jokowi didesak untuk memperpanjang moratorium dan melindungi gambut

Siaran Pers - 26 September, 2014
Jakarta/NY- Empat perusahaan terkemuka di sektor kelapa sawit mengumumkan janji untuk melindungi hutan dan gambut kaya karbon saat pertemuan New York Climate Summit. Perusahaan ini secara individu telah memiliki kebijakan nol deforestasi, kemajuan besar dari inisiatif ini adalah keterlibatan Kamar Dagang dan Industri Indonesia – KADIN.

Badan industri Indonesia ini cukup lama berseberangan dengan perlindungan hutan dari perluasan perkebunan. Sekarang, setelah permintaan terhadap kelapa sawit bebas deforestasi meningkat, KADIN telah melihat manfaat lobi dari tingkatan pemain di lapangan hingga imbalan untuk perusahaan terkemuka. Greenpeace menyambut baik inisiatif ini dan berharap bersama KADIN bisa mendorong agenda kebijakan yang ambisius untuk melindungi sisa hutan dan gambut Indonesia.

“Dengan kemajuan ini, industri telah meninggalkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berjalan lambat dalam kebijakan perlindungan hutan Indonesia,” kata Bustar Maitar dari Greenpeace Indonesia. “Beban sekarang ini ada di tangan Presiden SBY di minggu-minggu terakhir jabatannya untuk mengambil langkah berani mengamankan warisan lingkungannya. Dia bisa melakukannya dengan merevisi regulasi gambut yang cacat. Regulasi itu tidak mengatasi masalah pada konsesi yang ada dan tidak menyediakan perlindungan yang dibutuhkan untuk menghentikan raksasa emisi gas rumah kaca yang bergerak ketika gambut dikeringkan untuk perkebunan,” lanjutnya.

Peristiwa di New York pekan ini juga mengarahkan perhatian kepada isu kebakaran yang membawa tantangan untuk presiden terpilih – Joko “Jokowi” Widodo. Di enam bulan pertamanya, Jokowi menghadapi keputusan untuk masa depan kebijakan moratorium izin baru di hutan alam dan gambut, yang telah diletakkan pendahulunya.

“Greenpeace meminta Jokowi memperhatikan sinyal yang jelas dari perusahaan-perusahaan terkemuka ini untuk tidak hanya memperpanjang moratorium tetapi juga memperkuatnya dan mencakup seluruh wilayah yang diidentifikasi sebagai Stok Karbon Tinggi* (HCS) di konsesi yang ada,” kata Bustar. “Tinjauan hukum atas konsesi-konsesi ini dan publikasi peta tunggal (One Map) rencana penggunaan lahan juga dibutuhkan untuk memungkinkan relokasi konsesi ke lahan yang berkarbon rendah. Peta tunggal ini juga akan menyediakan panduan yang dibutuhkan untuk memastikan pengelolaan hutan yang baik,” tambah Bustar.

Tiga dari perusahaan yang ikut menandatangani janji baru tersebut, Wilmar, GAR dan Cargill mengambil langkah untuk memastikan operasi dan rantai pasokan mereka tidak lagi berkontribusi pada deforestasi, penghancuran gambut dan konflik sosial. Perusahaan ini menggunakan pendekatan Stok Karbon Tinggi (HCS) untuk menjalankan komitmen mereka dan berpartisipasi dalam HCS Steering Group yang diluncurkan akhir bulan lalu di Singapura.

Penandatangan ke empat dalam Janji KADIN adalah bagian dari kelompok Raja Garuda Emas (RGE) yang terus melanjutkan penghancuran hutan Indonesia untuk kebun-kebun baru. Sementara perusahaan kelapa sawit grup RGE, Asian Agri yang ikut dalam janji KADIN dan telah mengumumkan kebijakan berkelanjutan yang baru, Sukanto Tanoto yang punya grup RGE juga memiliki perusahaan pulp dan paper dengan kredibilitas buruk, APRIL dan Toba Pulp Lestari. Di Pulau Padang, Sumatra, buldoser saat ini masih terus menghancurkan hutan di gambut dalam.

“Greenpeace menyambut baik komitmen perusahaan besar sawit Indonesia lainnya untuk berhenti membuka hutan dan gambut, tetapi kami sesali bahwa grup RGE Sukanto Tanoto gagal menangkap kesempatan ini untuk mengurangi peran grup perusahaan ini terhadap kerusakan hutan hujan Indonesia dan berjanji mendukung inisitif konservasi hutan yang lebih luas,” ujar Bustar. “Jika Tanoto serius terhadap perlindungan hutan, dia bisa menghentikan sesegera mungkin buldoser-buldosernya di Indonesia.”

Greenpeace mendesak RGE untuk secepatnya menjalankan komitmen nol deforestasi yang mencakup seluruh bisnisnya di pulp dan puper juga di sawit yang dikendalikan oleh keluarga Tanoto dan mendukung inisiatif konservasi pada skala yang sama dengan pertanggungjawaban grup atas deforestasi sebelumnya.

Catatan untuk editor:

[1] Lihat http://www.greenpeace.org/seasia/Press-Centre/Press-Releases/Steering-Group-
Established-to-Oversee-the-High-Carbon-Stock-HCS-Approach-for-Implementing--No-
Deforestation-Commitments/

Kontak Media:

Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Indonesia, Greenpeace Indonesia.

+6281344666135,

Igor O’Neill, Komunikasi Internasional, Greenpeace Indonesia, +628111-923-721,

Kategori