Pengiriman minyak sawit menuju Eropa tertunda oleh Greenpeace selama lebih dari 24 jam

Enam aktivis Greenpeace masih ditahan oleh kapten tanker raksasa

Siaran Pers - 18 Nopember, 2018
Algeciras, Spanyol, 18 November 2018 - Kapal tanker Stolt Tenacity yang membawa minyak sawit kotor milik Wilmar dari Indonesia ke Rotterdam kini telah tertunda selama lebih dari 24 jam setelah aktivis Greenpeace Internasional melakukan aksi damai dengan naik ke kapal raksasa di perairan Teluk Cadiz di dekat Spanyol untuk memprotes pedagang kelapa sawit dunia terbesar Wilmar, yang memperdagangkan minyak kelapa sawit yang terkait dengan perusakan hutan hujan.

 

Keenam aktivis pria dan wanita itu ditahan kemarin oleh kapten kapal tanker sepanjang 185 meter yang mengangkut produk minyak sawit dari Wilmar Internasional dari Dumai di Indonesia ke Rotterdam di Belanda. 

“Para aktivis kami telah ditahan karena berbicara tentang kebenaran kepada perusahaan-perusahaan destruktif seperti Wilmar yang mengirimkan minyak sawit kotor dari perusak hutan ke supermarket dan rumah kami. Mereka bertindak dengan damai untuk melindungi hutan hujan Indonesia dan mencegah krisis iklim dan kepunahan lebih lanjut. Mereka seharusnya bebas untuk memprotes penggundulan hutan dan pelanggaran hak asasi manusia oleh industri kelapa sawit ”, kata Hannah Martin, juru kampanye di kapal Greenpeace Esperanza.

Kapal Stolt Tenacity dipanjat dengan aman oleh sukarelawan Greenpeace International dari Indonesia, Jerman, Inggris, Perancis, Kanada dan Amerika Serikat dalam protes damai terhadap perusakan hutan hujan di Indonesia untuk pembukaan kebun kelapa sawit. Mereka menuntut Mondelez, pembuat kue Oreo untuk berhenti membeli minyak sawit dari Wilmar, hingga terbukti tidak lagi memperdagangkan minyak sawit dari perusak hutan.

Sebelum ditahan, para relawan membentangkan spanduk bertuliskan "Save our Rainforest". Kapal Greenpeace Esperanza yang berada di lokasi menampilkan dua spanduk besar yang bertuliskan "Drop Dirty Palm Oil". Kapten kapal Stolt Tenacity telah diberitahu melalui radio VHF maritim tentang sifat non-kekerasan dari aksi protes tersebut. Namun, dia menahan para aktivis di salah satu kabin kapal kargo dan komunikasi para aktivis dengan kapal Greenpeace Esperanza saat ini masih terputus.

Sektor perkebunan - kelapa sawit dan pulp - adalah penggerak penggundulan hutan terbesar di Indonesia. Sekitar 24 juta hektar hutan hujan dihancurkan di Indonesia antara tahun 1990 dan 2015, menurut angka resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia [1].

Deforestasi di daerahd tropis menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca setiap tahun daripada seluruh Uni Eropa; mengungguli setiap negara kecuali AS dan Cina. Pada bulan Oktober 2018, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim menyerukan penghentian segera deforestasi untuk membatasi suhu global meningkat menjadi 1,5 ° C.

Sekretaris Eksekutif PBB dari Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati, Cristiana Pașca Palmer, memperingatkan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati adalah 'pembunuh sunyi' dan sebagai ancaman serius seperti perubahan iklim.

Setengah dari populasi Orang Utan Kalimantan telah dihancurkan hanya dalam waktu 16 tahun, dengan perusakan habitat oleh industri kelapa sawit sebagai pendorong utama.

Wilmar Internasional adalah pedagang minyak sawit terbesar dan terkotor di dunia dan sering dituduh mengeksploitasi pekerja, anak-anak, dan komunitas lokal.



Foto dan video tersedia di sini



CATATAN

 

[1] Angka menutupi hilangnya hutan alam. Sumber:

1990–2012: KLHK (2016b) Tabel Annex 5.1, pp90–1 - deforestasi bruto 21.339.301ha

2012–2013: KLHK (2014) Lampiran 1, Tabel 1.1 - deforestasi bruto 953,977ha

2013–2014: KLHK (2015) Lampiran 1, Tabel 1.1 - deforestasi bruto 567,997ha

2014–2015: KLHK (2016a) Lampiran 1, Tabel 1.1 - deforestasi kotor 1.223.553ha

 

Kontak

 

Kiki Taufik, Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Indonesia,

Tel 62-811-8706-074 , email

 

Rully Yuliardi Achmad, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia,

Tel 62-811-8334-409, email