Keindahan dan Kerusakan Hiasi Perjalanan Tur Enggang-Mata Harimau

Siaran Pers - 25 September, 2012
Jakarta 25 September 2012: Greenpeace, WALHI dan AMAN hari ini mendesak pemerintah untuk melakukan aksi segera menyelamatkan hutan Kalimantan, dengan membeberkan temuan-temuan hasil Tur Kepak Sayap Enggang Mata Harimau Seri Kalimantan. Dalam perjalanan yang telah berlangsung 10 hari, aktivis menjadi saksi pemandangan betapa hutan Kalimantan terus dirusak, dan masih terjadinya konflik sosial dan perampasan tanah rakyat.

Pada 14 September Greenpeace, WALHI, Pena Hijau, SOB (Save Our Borneo), FOKER, SHK (Sistem Hutan Kerakyatan) Lestari dan AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) memulai Kepak Sayap Enggang – Tur Mata Harimau Seri Kalimantan dari Kalimantan Selatan, menyerukan kepada segenap rakyat Indonesia untuk menjadi bagian komunitas Mata Harimau yang secara proaktif akan terus mengawasi dan mencegah perusakan lingkungan di Indonesia, mendesak pemerintah melakukan aksi nyata segera mengatasi perusakan lingkungan.

“Telah sepuluh hari kita melakukan perjalanan, saat ini kami sudah sampai di Kalimantan Tengah. Sepanjang perjalanan kita menyaksikan betapa indahnya hutan alam yang tersisa di Kalimantan ini. Tetapi tidak sedikit pula kita menyaksikan dan mendokumentasikan kerusakan hutan akibat pertambangan dan perkebunan. Kami juga menemukan fakta-fakta konflik sosial, dimana masyarakat lokal kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian karena tanah mereka dirampas perusahaan. Moratorium (penghentian sementara) perusakan hutan harus diperpanjang untuk bisa efektif mengatasi masalah-masalah itu,” ujar Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Greenpeace.

“Kawasan hutan adat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari siklus kehidupan komunitas adat, yang senantiasa memelihara serta menjaga keseimbangan alam yang harmonis sebagai penghuninya sejak ribuan tahun. Penghancuran hutan adat oleh perusahaan yang memiliki ijin konsesi tidak hannya merusak ekosistem, melainkan menghilangkan budaya dan sistem kearifan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan adat. Proses penghancuran hutan adat ini dilakukan secara sistematis lewat berbagai kebijakan dan hukum sejak Rejim Pemerintahan Orde Baru hingga berlanjut ke rejim saat ini,” tegas Arifin Saleh, Deputi Sekjen AMAN.

Perusakan hutan di Kalimantan memang terus terjadi. Pada 1985 Kalimantan masih mempunyai 39,9 juta hektar kawasan hutan, tetapi menurut data 2010 tinggal tersisa 25,5 juta hektar.

“Kerusakan ini tidak lepas dari salah urus hutan di Kalimantan, pengembangan pertambangan dan perkebunan skala besar menjadi pola pengelolaan sumber daya alam dan berujung dengan dikorbankannya keberlanjutan hutan Kalimantan. Kerusakan hutan kalimantan paralel dengan meningkatnya konflik sumber daya alam di Kalimantan. Apabila model pengelolaan ini diteruskan maka dapat dipastikan bahwa bencana ekologis akan mengancam pulau Kalimantan (2)” ujar Abed Nego Tarigan, Direktur  Eksekutif Walhi.

Sebagai bagian dari tur, hari ini Greenpeace juga memperkenalkan situs Forest Patrol Mata Harimau, yang memungkinkan adanya pengawasan real time (langsung) hutan Indonesia, dan menyediakan sarana akses informasi seputar hutan Indonesia bagi pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia. Lewat situs ini semua orang bisa dengan mudah melihat kondisi terkini hutan Indonesia. Di masa mendatang, setelah mekanisme verifikasi data sudah terbangun, semua orang bisa menjadi penjaga hutan dengan cara men-share bukti-bukti foto/video ke situs ini.

“Jika ini terlaksana, maka tidak ada perusakan hutan yang bisa dilakukan dengan leluasa karena semua orang bisa menjadi penjaga hutan dan berkontribusi dalam upaya penyelamatan hutan Indonesia. Menggunakan GIS sebagai basis, hanya dengan menggunakan telepon siapa pun bisa melaporkan, mengirim bukti foto dan video kerusakan hutan yang mereka temukan,” pungkas Kiki Taufik, GIS Specialist Greenpeace.

Catatan untuk Editor:

1.     Forest Patrol Mata Harimau bisa diakses di : http://forestpatrol.greenpeace.or.id/
2.     Bencana ekologis adalah akumulasi krisis lingkungan hidup, ekonomi, sosial dan budaya yang mengakibatkan rusaknya pranata masyarakat (Walhi 2010) .

Kontak:

Bustar Maitar, Forest Campaign Head Greenpeace, 081344666135
Kiki Taufik, GIS Specialist Greenpeace Indonesia, 08118706074
Abed Nego Tarigan, Direktur Eksekutif  WALHI, 08121100303
Arifin Saleh, Deputi Sekjen AMAN, 081533333644