Perusahaan Minyak Sawit Raksasa Cargill Beri Sinyal Akhiri Perannya dalam Deforestasi

Greenpeace desak perusahaan menggambarkan rencana aksi dan tenggat waktu pelaksanaan

Siaran Pers - 4 Agustus, 2014
Jakarta, July 31, 2014 – Cargill, importir terbesar minyak sawit ke Amerika, satu dari pedagang komoditas terbesar dunia dan produsen minyak sawit berjanji untuk menjalankan sebuah “kebijakan kelapa sawit berkelanjutan” kemarin sebagai respon mereka terhadap tuntutan Greenpeace, Rainforest Action Network dan LSM lainnya bersama konsumen Cargil di seluruh dunia.

Bustar Maitar, Kepala Kampanye Global Hutan Indonesia Greenpeace mengatakan: “Kebijakan ini merupakan komitmen Cargill untuk mengakhiri perannya dalam deforestasi, penghancuran gambut dan eksploitasi sosial. Ini merupakan sebuah cerminan tekanan yang datang dari perusahaan-perusahaan konsumen seperti P&G, Unilever, Nestle dan lainnya yang sebelumnya telah berkomitmen untuk membersihkan rantai pasokannya dari deforestasi. Tentu saja kebijakan ini merupakan langkah awal yang sangat penting, namun yang tidak kalah pentingnya adalah pelaksanaannya secara kredibel, sehingga kebijakan tersebut mampu membawa suatu perubahan yang nyata bagi industri minyak sawit”.

Komitmen Cargill ini muncul setelah pengumuman Manifesto Minyak Sawit Berkelanjutan (SPOM) pada akhir bulan lalu. Sejumlah produsen besar minyak sawit yang menjadi bagian dari SPOM menunda komitmen nyata untuk mengakhiri deforestasi, sementara Cargill secara eksplisit berkomitmen untuk mengimplementasikan pendekatan Karbon Stok Tinggi (HCS) yang telah dikembangkan – sebagaimana yang telah dipelopori oleh Golden Agri-Resources, The Forest Trust dan Greenpeace. Ini adalah sebuah langkah penting untuk memastikan bahwa rantai pasok Cargill tidak terkait dengan deforestasi. “Kebijakan ini adalah sebuah langkah yang tepat, tetapi tenggat waktu yang lebih jelas sangat dibutuhkan dalam ketaatan pelaksanaannya, selain itu juga adalah rencana aksi untuk verifikasi yang independen,” tambah Bustar. “Dalam kedua hal tersebut, kebijakan ini masih kurang kuat apabila dibandingkan dengan kebijakan serupa pada akhir tahun lalu yang dikeluarkan oleh Wilmar, salah satu pesaing Cargill.

Selain itu, kelemahan dalam kebijakan Cargill adalah antara lain kurangnya perlindungan terhadap ketahanan pangan, termasuk pengawasan lokal dan keragaman produksi pangan serta bagaimana kebijakan ini akan diterapkan di tiap perkebunan yang akan dibangun oleh Cargill pada masa yang akan datang. Greenpeace akan terus memantau rencana aksi Cargill secara kritis yang diharapkan akan diumumkan akhir tahun ini, yang harus mencakup rincian bagaimana menjalankan kebijakan ini di seluruh operasinya di seluruh dunia, termasuk tenggat waktu implementasi yang ketat. “Merujuk pada temuan-temuan dari hasil studi yang dipublikasikan baru-baru ini oleh Science Journal, laju deforestasi di Indonesia saat ini tertinggi di dunia, melampaui Brazil,” tambah Bustar. “Ekspansi kelapa sawit saat ini juga mengancam hutan dan komunitas masyarakat di Afrika. Kelapa sawit bisa membawa kemakmuran dan manfaat, tetapi hal itu hanya bisa dilakukan dengan cara menghormati hutan dan masyarakat yang hidupnya tergantung pada hutan.”

Kontak Media:

Annisa Rahmawati, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, 08111097527,

email:

Zamzami, Juru Kampanye Media Greenpeace Indonesia, 08117503918, email:

Kategori