Rapor Produsen Kelapa Sawit Greenpeace Menyediakan Rencana Aksi bagi RSPO

Siaran Pers - 29 Oktober, 2012
JAKARTA, 29 OKTOBER 2012 – Hari ini Greenpeace meluncurkan rapor nilai produsen kelapa sawit (1) untuk menunjukkan apa yang dibutuhkan dari pertemuan penting RSPO yang akan dimulai besok di Singapura. Rapor nilai Greenpeace menyoroti perbedaan besar antara kriteria dan kebijakan maju perlindungan hutan dan gambut beberapa produsen kelapa sawit, dibandingkan dengan kebanyakan produsen yang hanya menjalankan kriteria RSPO bahkan sedikit.

“Pertemuan tahunan RSPO kali ini sangat penting. Akankah RSPO menuju ke tingkatan selanjutnya dan sungguh-sungguh mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hutan dan gambut, juga mengendalikan emisi rumah kaca dari produksi kelapa sawit? Kartu skor Greenpeace menunjukkan bahwa ada beberapa yang terdepan melakukan apa yang sebenarnya dibutuhkan dan sisanya harus mengikutinya,” kata Wirendro Sumargo, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

Selama beberapa bulan terakhir, setelah memilih sebelas produsen utama kelapa sawit yang didasarkan pada kombinasi tahunan produksi minyak kelapa sawit dan praktik baik industri, Greenpeace telah meninjau kebijakan perlindungan hutan dan gambut produsen. Rapor didasarkan hanya pada tinjauan kebijakan dan tidak memperhitungkan pelaksanaan kebijakan di lapangan. Para produsen berasal dari Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea dan Brasil yang kemudian diurutkan berdasarkan tiga kriteria utama; komitmen menghentikan deforestasi, kebijakan tidak membangun di gambut dan persentasi produksi bersertifikat RSPO. (2).

Rapor menunjukkan bahwa:

  • Hanya beberapa perusahaan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hutan dan gambut.
  • Beberapa perusahaan telah memiliki kebijakan yang maju dalam melindungi seluruh gambut, melarang semua deforestasi di hutan primer dan sekunder dan metodelogi Kandungan Tinggi Karbon (HCS) yang memimpin industri, Greenpeace yakin bahwa RSPO harus mengikuti contoh tersebut.
  • Banyak anggota RSPO yang masih belum memiliki persentasi tinggi sertifikat produksi mereka.

Kartu skor ini juga dirancang untuk menyediakan informasi terbaru bagi perusahaan konsumen tentang kebijakan beberapa produsen besar kelapa sawit dunia dalam rangka mendorong mereka untuk memilih kriteria yang lebih ketat pada saat peninjauan kriteria prinsip dan kriteria RSPO.

Pada saat kebijakan maju dari produsen kelapa sawit yang melindungi hutan dan gambut di perkebunan mereka, RSPO hanya meminta anggotanya untuk lebih transparan dan memantau emisi yang disebabkan deforestasi dan pembukaan gambut. Namun disayangkan tidak ada definisi jelas atas kawasan mana yang bisa dibangun dan mana yang harus dilindungi. Di saat perlindungan gambut sangat penting bagi Indonesia untuk memenuhi target penurunan emisinya, RSPO masih belum memasukkan ukuran penting ini dalam prinsip dan kriterianya.

Beberapa tahun terakhir ini, RSPO telah berjuang untuk menemukan cara menangani salah satu dampak lingkungan terbesar dari produksi kelapa sawit: gas emisi rumah kaca yang disebabkan oleh deforestasi dan pengeringan gambut. Perubahan yang diusulkan pada prinsip dan kriteria RSPO muncul untuk menunjukkan bahwa RSPO mengambil isu emisi rumah kaca secara serius, namun mereka kurang berambisi untuk sungguh-sungguh menyediakan panduan jelas yang dibutuhkan industri dalam rangka membuat RSPO menjadi sistem sertifikasi yang kredibel untuk kelapa sawit berkelanjutan.

“Jika usulan perubahan diterima oleh majelis umum RSPO, itu akan menjadi kesempatan yang tak terlupakan untuk akhirnya menciptakan standar yang akan memutus hubungan antara deforestasi dan produksi kelapa sawit. Tapi jika RSPO menolak perubahan ini dan memperkuat standar, itu akan merendahkan bagi kelapa sawit yang benar-benar berkelanjutan,” Wirendro menyimpulkan.

 

Kontak :

  • Wirendro Sumargo, Jurukampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia, tel: +62 8111111934
  • Suzanne Kroger, Koordinator kampanye kelapa sawit, Jaringan Hutan Greenpeace, tel: +31 621296901
  • Grant Rosoman, Koordinator proyek solusi hutan global, Jaringan Hutan Greenpeace,    tel: +64-21-428415
  • Martin Baker, Koordinator Komunikasi Kampanye Hutan Indonesia, Jaringan Hutan Greenpeace,   tel: +62 8131 5829513


Notes:

(1)  Greenpeace Scorecard on Palm Oil Producers dalam diunduh di sini:
www.greenpeace.org/international/palm-oil-scorecard

(2)  Greenpeace membuat kuesioner untuk diisi oleh perusahaan. Berdasarkan informasi publik yang tersedia, Greenpeace telah menyiapkan jawaban bagi perusahaan untuk ditinjau, diperiksa dan diubah. Perusahaan juga diminta untuk menambah informasi jika dibutuhkan.