Temuan Tur Mata Harimau Ungkapkan Kondisi Sebenarnya Hutan Indonesia: Hentikan Perusakan!

Siaran Pers - 12 Oktober, 2011
Jakarta, 12 Oktober 2011- Aktivis Greenpeace, Walhi Riau, Walhi Jambi dan KKI Warsi yang tergabung dalam Tur “Mata Harimau” (1) hari ini berada di Jakarta untuk berbagi kisah dan pengalamannya setelah menjadi saksi langsung perusakan hutan alam di sepanjang Sumatera. Setelah melakukan perjalanan mulai dari hutan Senepis, Rokan Hilir di Riau, kemudian Tesso Nilo, hingga kawasan Bukit Tigapuluh Jambi, Tim Mata Harimau berhasil menemukan bukti-bukti perusakan hutan alam dan lahan gambut, rumah bagi Harimau Sumatera.

Keberadaan Harimau Sumatera saat ini makin terancam, karena habitatnya dibabat habis. Bukan hanya Harimau Sumatera yang mengalami kehilangan rumah, Orang Rimba yang mengandalkan kehidupannya pada sumber daya hutan, juga bernasib serupa. Mereka semakin tersisih di tanah kelahiran mereka sendiri.

Saat tim berada di hutan Senepis, Rokan Hilir, Riau kondisinya sungguh mengenaskan. Hutan gambut Senepis yang berada di dua kabupaten yakni Rokan Hilir dan Kota Dumai. Pada 2007, Menteri Kehutanan RI mengeluarkan izin prinsip untuk menjadikan kawasan Senepis sebagai hutan konservasi Harimau Sumatera. Namun saat ini hutan sudah dimiliki tiga perusahaan kehutanan, Satu perusahaan HPH (hak pengelolaan hutan) dan dua perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri – Akasia) milik divisi pulp and Paper Sinarmas (PT Ruas Utama Jaya – RUJ dan PT Suntara Gaja Pati – SGP).

Ternyata di lokasi, yang mereka temukan bukan hutan lebat seperti yang dibayangkan tetapi lahan bekas hutan yang sudah dihancurkan. Pemandangan hutan yang sudah hancur lagi-lagi tersaji di lokasi itu. Perusahaan pun membangun kanal-kanal yang berakibat keringnya lahan gambut kaya karbon.

Pemandangan sama tersaji saat tim sampai di Tesso Nilo. Tesso Nilo merupakan kawasan gambut dengan kedalaman lebih dari tiga meter, dimana menurut Peraturan Hukum Indonesia praktik itu adalah ilegal. Di kawasan ini, lagi-lagi aktivis Greenpeace menyaksikan hutan di sekitar Kawasan Hutan Tesso Nilo dihancurkan untuk dijadikan perkebunan Hutan Tanaman Industri (HTI) oleh PT. Arara Abadi (salah satu anak perusahaan Asia Pulp and Paper –APP).

Di kawasan inilah beberapa aktivis Greenpeace sempat datang bersama rombongan (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) BKSDA Riau dalam rangka penyelamatan seekor harimau Sumatera yang terjerat di kawasan perkebunan, pada Juni lalu. Sayangnya upaya penyelamatan itu tidak berhasil mencegah harimau itu dijemput oleh maut.

Namun sayang, saat tim Mata Harimau berniat untuk meneruskan perjalanan ke kawasan Bukit Tigapuluh untuk bertatap muka dan berbincang-bincang dengan Orang Rimba, usaha ini mengalami penghadangan oleh dua perusahaan yaitu PT. Tebo Multi Agro dan PT. Wira Karya Sakti yang mengklaim jalan tersebut merupakan jalan milik perusahaan, sehingga untuk melewatinya harus ada izin dari perusahaan terkait.

Hariansyah Usman, Direktur Eksekutif Walhi Riau menyatakan bahwa dalam melancarkan bisnisnya di Jambi, Sinarmas telah menghancurkan kawasan hutan alam tersisa, mengakibatkan punahnya puluhan bahkan ratusan ribu satwa dan spesies endemik lainnya. Ribuan hektar lahan gambut bernilai konservasi tinggi juga telah disulap menjadi areal HPHTI. Sementara kawasan hutan yang masih tersisa pada ek HPH --tak terkecuali kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh-- terus diincar dan dibabat untuk memenuhi bahan baku pabrik kertas dan tissu yang juga milik mereka. Konflik perampasan lahan dan tanah rakyat Jambi, intimidasi dan tindakan kekerasan dalam beragam bentuk kerap dilakukan anak perusahaan Sinarmas. Petani di 5 Kabupaten di Provinsi Jambi (Tanjab Barat, Tanjab Timur, Muaro Jambi, Batanghari dan Tebo) telah kehilangan lahan seluas 41.000 Ha. Masyarakat korban yang memperjuangkan lahan mereka, diteror, ditangkap, dipencarakan bahkan ada yang meninggal dunia akibat tembakan aparat brimob bayaran Sinarmas.

Direktur Eksekutif Walhi Jambi Arif Munandar mengatakan konflik satwa dan manusia ini telah menyebabkan korban jiwa sebanyak sembilan orang warga yang meninggal akibat diterkam harimau sumatera pada periode 2009. Celakanya, konflik itu terjadi di sekitar wilayah konsesi HTI PT Wira Karya Sakti (WKS) yang merupakan anak perusahaan Asia Pulp and Paper (APP). Konversi kawasan hutan alam di Kabupaten Muara Jambi oleh PT WKS tersebut telah menyebabkan berkurangnya habitat harimau Sumatera sehingga memicu konflik dengan manusia.

"Kami meminta kepada pemerintah untuk segera mencabut izin konsesi PT WKS demi kelesetarian dan keberlanjutan harimau sumatra dan penduduk setempat," ujarnya.

Sementara itu di ekosistem Bukit Tigapuluh, terdapat 500 jiwa Orang Rimba yang masih bergantung pada keberadaan sumber daya hutan. Namun saat ini sumber daya hutan tersebut kini terancam untuk dikonversi. Oleh karena itu perusahaan secara tidak langsung merampas kehidupan Orang Rimba sehingga penduduk asli Jambi ini semakin marjinal di tanahnya sendiri.

“Sepanjang sejarah penghancuran kawasan hidup Orang Rimba di Jambi, minim sekali dilakukan perlawanan untuk mempertahankan hak-hak mereka.Situasi ini juga menunjukkan adanya pelanggaran HAM oleh Perusahaan dan Pemerintah. Mereka sengaja mengabaikan dampak sosial orang rimba sebagai suku asli marginal yang semakin sengsara dan terlantar,” tegas Diki Kurniawan, Manager Program dan Advokasi KKI Warsi.

Juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia Zulfahmi mengatakan hasil dari perjalanan tim Mata Harimau mulai dari hutan Senepis di Rokan Hilir, kemudian Tesso Nilo, Peranap hingga di Jambi, membuktikan bahwa perusahaan APP masih melakukan deforestasi hutan alam dan kawasan gambut. Kenyataan ini membuktikan slogan sustainable dalam kawasan produksi APP ternyata hanya kebohongan belaka.

"Kami meminta APP segera menghentikan praktek-praktek yang merusak hutan alam dan melanggar hak hak masyarakat adat yang bermukim di kawasan hutan. Perusahaan juga kami minta untuk segera beralih kepada praktek praktek operasional yang lestari dan bertanggungjawab terhadap kelestarian lingkungan," kata Zulfahmi.

Hutan yang menjadi rumah Harimau Sumatera terus dihancurkan, saat ini hanya tersisa 400 ekor harimau sumatera di alam liar. Pemerintah Indonesia memperkirakan lebih dari satu juta hektar hutan Indonesia hancur setiap tahunnya. Dengan laju perusakan seperti saat ini, hewan menakjubkan yang telah menjadi inspirasi banyak khasanah budaya Indonesia ini terancam punah, senasib dengan Harimau Jawa dan Bali.

 

Catatan untuk redaksi

(1)    Untuk ikut bergabung dan beraksi menyelamatkan hutan rumah Harimau, silahkan kunjungi: www.greenpeace.or.id/mataharimau

Kontak:

Rusmadya Maharuddin, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia, 0813 654 22373 (di lapangan)

Zulfahmi, Team Leader Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, 0812 6821 214 (di lapangan)

Hariansyah Usman, Direktur Eksekutif Walhi Riau, 0812 76699967

Arif Munandar, Direktur Eksekutif Walhi Jambi, 082181497585

Diki Kurniawan, Manager Program dan Advokasi KKI Warsi, 08127407730

Zamzami, jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 0811 750 3918 (di lapangan)

Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 08111 805 394 (di Jakarta)

Untuk permintaan foto dan video silahkan hubungi:

Rahma Shofiana, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 0812 183 283 17