Greenpeace: Warisan “Hijau” Presiden SBY akan Lenyap Tanpa Perlindungan Gambut yang Kuat

Siaran Pers - 5 Mei, 2014
Jakarta, 5 Mei 2014 – Dalam pidato utamanya di Forests Asia Summit di Jakarta hari ini, Presiden SBY mengemukakan tentang keseimbangan ekonomi hijau dengan pertumbuhan ekonomi, termasuk menghimbau kepada pemerintah baru nanti untuk memperpanjang kembali moratorium deforestasi.

Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace International menanggapi:

“Warisan Presiden SBY berisiko lenyap kecuali dia memperkuat legislasi untuk melindungi semua gambut dan hutan. Greenpeace meminta presiden untuk mengamandemen regulasi gambut dimana, meskipun bermaksud baik, namun gagal membangun sebuah pendekatan yang koheren untuk melindungi dan mengelola gambut – pertahanan penting terhadap kebakaran dan emisi rumah kaca Indonesia”.

“Kebakaran gambut tidak akan terjadi jika hutan Sumatra, gambut kaya karbon tidak dibuka dan dikeringkan untuk membuat industri perkebunanan skala besar. Melindungi gambut dan hutan Sumatra merupakan pertahanan pertama bagi kawasan terhadap krisis kebakaran hutan. Penyebab kebakaran berakar penghancuran gambut selama bertahun-tahun yang meninggalkan besarnya luasan gambut basah menjadi hancur, kering dan rentan terbakar”.

“Pendukung Greenpeace di Indonesia dan seluruh dunia telah mendorong perusahaan besar seperti Proctec & Gamble (P&G) untuk berkomitmen melindungi hutan – dimana Presiden memiliki momentum untuk mengubah kemajuan ini untuk melindungi hutan menjadi transisi yang nyata untuk “ekonomi hijau.”

Perusahaan-perusahaan lainnya termasuk Colgate-Palmolive, Nestle, perusahaan perkebunan sawit terbesar Indonesia GAR dan APP, pedagang minyak sawit Wilmar Internasional dan banyak lagi yang terbaru P&G berjanji untuk menghapuskan kehancuran hutan dari rantai pasokan mereka menyusul tekanan global dan kampanye dari Greenpeace.

Kontak Media:

Zamzami, Jurukampanye media Greenpeace Indonesia, 08117503918, email :