Sepuluh menteri energi yang
tergabung dalam negara-negara ASEAN sedang mendiskusikan pengembangan energi
masa depan di wilayah ASEAN, dengan solusi yang salah, memerlukan biaya mahal, dan
sangat berbahaya yang menjadi ancaman bagi pemanasan global dan energi seperti
dengan penggunaan pembangkit batubara dan tenaga nuklir.
Laporan Greenpeace dan
EREC tersebut menunjukkan bagaimana perekonomian
di ASEAN akan diuntungkan dari investasi
energi bersih. Greenpeace menyerukan kepada pemerintah di negara-negara ASEAN
untuk belajar menjadi pemimpin dan menggunakan energi terbarukan serta
mentargetkan energi yang efisien dalam rangka penurunan skala emisi untuk
menghindari bahaya pemanasan global.
Dari analisis Global
pertama yaitu, ”Investasi masa depan -
Rencana energi yang berkelanjutan untuk sektor energi yang melindungi
iklim,” (1) menunjukan kekuatan argumentasi ekonomi untuk perubahan dari
investasi global terhadap energi terbarukan ( tenaga Matahari, angin, air,
panas bumi dan bioenergi), dalam waktu 23 tahun yang akan datang dan terjauhkan
dari bahaya batubara dan nuklir. Laporan tersebut memberi rasionalisasi
keuangan untuk “Energi [R]evolusi” Greenpeace,” (2) Sebuah konsep untuk
mengurangi bahaya emisi global CO2
sebesar 50 % di tahun 2050 sambil
mempertahankan pertumbuhan ekonomi global.
“laporan kami menunjukkan bahwa dengan memanfaatkan efisiensi energi secara maksimal,
akan membuat perekonomian mengarah ke energi terbarukan. Jika kita melihat
energi fosil, saat energi terbarukan
merupakan pilihan jangka panjang yang lebih baik. Kita secara pasti akan
menghemat triliun dollar; sebesar US$180
milliar pertahunnya, untuk seterusnya dan pada kesempatan yg sama menghindari
bencana besar dari dampak perubahan iklim.” ungkap Athena Ballesteros, Juru
kampanye iklim dan energi Greenpeace Internasional.
“Asia tenggara adalah
wilayah yang memegang peringkat ke tiga penyumbang emisi CO2 di Negara-negara
berkembang, setelah Cina dan India.
Dan Negara-negara seperti Indonesia
bahkan tidak pernah memulai untuk memaksimalkan eksplorasi terhadap potensi
energi terbarukan, apapun itu termasuk panas bumi atau tenaga angin, sinar
matahari dan biomassa. Sangat masuk rasional
bagi Negara kepulauan untuk mengembangkan system energi yang berskala kecil
dengan energi terbarukan yang terdesentralisasi daripada melakukan kebohongan
dalam promosi dengan menerapkan solusi yang membahayakan seperti nuklir atau
teknologi batubara bersih.” Ujar Nur hidayati, Juru kampanye iklim dan
energi,Greenpeace Asia Tenggara
Dengan
beralih ke energi terbarukan, Asia Tenggara harus bersikap untuk menghemat
sebesar US $2 triliun dari biaya energi fosil di 23 tahun yg akan datang dan
mengurangi emisi CO2 sebanyak 22% dari tahun 2003. Meningkatkan efisiensi energi
dan pengalihan suplai energi kearah energi yang terbarukan sebagai pilihan
untuk mensuplai listrik dalam jangka panjang akan mengurangi biaya menjadi sepertiga
proyeksi biaya normal.
Dalam Energy [R]evolution sekenario, kemampuan energi batubara akan turun dari
145,600 MW ke 137,900 MW. Batubara, faktanya, akan, mengalami penurunan dari
36,000 MW ke 22,000 MW di tahun 2030. 70% dari pembangkitan menurut skenario
[R]evolusi energi akan berbasis pada energi terbarukan. Dan meninggalkan
seluruh energi fosil. Kapasitas dari energi nuklir akan berhenti beroperasi
pada tahun 2030 ketika pembangkit tenaga listrik yang lama di gantikan
pembangkit tenaga listrik yang terbarukan
Analisis dari sisi keuangan ini
menunjukkan bahwa merupakan pilihan yang ekonomis untuk mengurangi ketergantungan
kita terhadap energi fosil terutama batubara dan beralih pada energi terbarukan
yang memiliki kestabilan harga paling tidak untuk 15 tahun. Mengacu pada
kuatnya target dari energi terbarukan dan energi efisiensi di sektor energi
juga memakan biaya tapi kita butuh itu terjadi sekarang