Tantangan ini dikeluarkan pada saat peluncuran kampanye Energi
Bersih di Indonesia. Peluncuran kampanye ini berupa pameran
berjudul "Clean Energy [R]evolution" di Taman Ismail Marzuki,
Jakarta. Pameran ini dibuka oleh Menteri Negera Lingkungan Hidup,
Rachmat Witoelar; yang pada awal minggu ini memperingatkan bahwa
Indonesia akan menerima dampak yang sangat buruk akibat perubahan
iklim. Indonesia juga akan menjadi tuan rumah bagi konferensi PBB
mengenai perubahan iklim yang akan dilaksanakan di Bali bulan
Desember ini.
"Negara ini sendiri harus mengurangi sebanyak mungkin penggunaan
bahan bakar fosil serta praktek-praktek penebangan yang merusak -
yang jika digabungkan menjadikan Indonesia sebagai negara pembuang
emisi gas rumah kaca terbanyak nomor 4 di dunia. Indonesia juga
merupakan salah satu negara yang paling beresiko terkena dampak
perubahan iklim. Oleh karena itu pemerintah harus mengambil
tindakan tegas mengenai isu ini," ungkap Emmy Hafild, Direktur
Eksekutif, Greenpeace Asia Tenggara.
Pameran ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat
umum mengenai bahaya energi kotor - terutama pembangkit listrik
tenaga nuklir dan batubara, dampak dari perubahan iklim, serta
memberikan solusi untuk menerapkan penggunaan energi terbarukan dan
efisiensi energi dalam kehidupan sehari-hari. Pameran ini akan
berkeliling ke Bandung, Semarang, Jepara, Surabaya dan Denpasar
selama enam bulan ke depan.
"Negara kepulauan kita sama seperti negara-negara berkembang
lainnya, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kenaikan
tinggi permukaan laut, kejadian iklim yang ekstrim, banjir dan
kekeringan sudah menyerang kita," jelas Menteri Negara Lingkungan
Hidup Rachmat Witoelar pada saat membuka pameran ini.
"Indonesia akan menjadi tuan rumah bagi Konferensi Tingkat
Tinggi PBB tentang Perubahan Iklim (United Nations Conference on
Climate Change) bulan Desember 2007. Pemerintah Indonesia mewakili
seluruh masyarakat Indonesia dan suara negara-negara berkembang
lainnya siap memimpin gerakan penanggulangan perubahan iklim dalam
lingkup yang lebih luas dengan langkah-langkah konkrit agar
masyarakat dan pembuat kebijakan sadar perlunya rencana aksi segera
untuk menanggulanginya," tambahnya.
Pembukaan pameran ini sejalan dengan dikeluarkannya laporan
terbaru oleh the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)
di Paris. Laporan ini diharapkan dapat mengkonfirmasi bahwa
perubahan iklim akan terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan,
serta akan mempunyai dampak yang sangat berbahaya bagi negaranegara
kepulauan yang rentan seperti Indonesia. "Indonesia mempunyai
pilihan - menjadi bagian dari masalah atau memberikan
solusi untuk menanggulangi krisis iklim. Bukan dengan membangun
pembangkit listrik tenaga nuklir atau batu bara, namun dengan
mendayagunakan potensi energi terbarukan. Greenpeace yakin masih
ada waktu untuk bertindak," jelas Emmy Hafild lebih lanjut.
"Laporan terbaru Greenpeace menunjukkan bahwa masih mungkin
untuk mengurangi emisi gas rumah kaca global hingga 50% pada tahun
2050 melalui pertumbuhan energi terbarukan dan efisiensi energi.
Sangatlah jelas bahwa kita mempunyai sumber dayanya, dan jika kita
bertindak sekarang, kita masih mempunyai waktu. Satu-satunya yang
tidak kita miliki adalah dukungan politis," tambahnya.
Greenpeace adalah organisasi kampanye yang independen, yang
menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk
mengungkap masalah lingkungan hidup, serta mendorong solusi yang
diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai.