Greenpeace: Indonesia harus ambil alih tonggak kepemimpinan gerakan melawan krisis iklim global

Pameran foto membuka kampanye Greenpeace tentang [R]evolusi Energi di Indonesia

Siaran Pers - 2 Februari, 2007
Greenpeace hari ini memberikan tantangan kepada pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah konkrit dalam penanggulangan perubahan iklim dengan mempelopori upaya negara-negara berkembang untuk menerapkan dan mengambil langkah-langkah pencegahan demi melindungi masyarakat dan pembangunan di negara-negara berkembang – yang merupakan kawasan dengan resiko terkena dampak paling buruk akibat perubahan iklim.

Greenpeace hari ini memberikan tantangan kepada pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah konkrit dalam penanggulangan perubahan iklim dengan mempelopori upaya negara-negara berkembang untuk menerapkan dan mengambil langkah-langkah pencegahan demi melindungi masyarakat dan pembangunan di negara-negara berkembang – yang merupakan kawasan dengan resiko terkena dampak paling buruk akibat perubahan iklim.

Greenpeace hari ini memberikan tantangan kepada pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah konkrit dalam penanggulangan perubahan iklim dengan mempelopori upaya negara-negara berkembang untuk menerapkan dan mengambil langkah-langkah pencegahan demi melindungi masyarakat dan pembangunan di negara-negara berkembang – yang merupakan kawasan dengan resiko terkena dampak paling buruk akibat perubahan iklim.

Tantangan ini dikeluarkan pada saat peluncuran kampanye Energi Bersih di Indonesia. Peluncuran kampanye ini berupa pameran berjudul "Clean Energy [R]evolution" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini dibuka oleh Menteri Negera Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar; yang pada awal minggu ini memperingatkan bahwa Indonesia akan menerima dampak yang sangat buruk akibat perubahan iklim. Indonesia juga akan menjadi tuan rumah bagi konferensi PBB mengenai perubahan iklim yang akan dilaksanakan di Bali bulan Desember ini.

"Negara ini sendiri harus mengurangi sebanyak mungkin penggunaan bahan bakar fosil serta praktek-praktek penebangan yang merusak - yang jika digabungkan menjadikan Indonesia sebagai negara pembuang emisi gas rumah kaca terbanyak nomor 4 di dunia. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang paling beresiko terkena dampak perubahan iklim. Oleh karena itu pemerintah harus mengambil tindakan tegas mengenai isu ini," ungkap Emmy Hafild, Direktur Eksekutif, Greenpeace Asia Tenggara.

Pameran ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat umum mengenai bahaya energi kotor - terutama pembangkit listrik tenaga nuklir dan batubara, dampak dari perubahan iklim, serta memberikan solusi untuk menerapkan penggunaan energi terbarukan dan efisiensi energi dalam kehidupan sehari-hari. Pameran ini akan berkeliling ke Bandung, Semarang, Jepara, Surabaya dan Denpasar selama enam bulan ke depan.

"Negara kepulauan kita sama seperti negara-negara berkembang lainnya, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kenaikan tinggi permukaan laut, kejadian iklim yang ekstrim, banjir dan kekeringan sudah menyerang kita," jelas Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar pada saat membuka pameran ini.

"Indonesia akan menjadi tuan rumah bagi Konferensi Tingkat Tinggi PBB tentang Perubahan Iklim (United Nations Conference on Climate Change) bulan Desember 2007. Pemerintah Indonesia mewakili seluruh masyarakat Indonesia dan suara negara-negara berkembang lainnya siap memimpin gerakan penanggulangan perubahan iklim dalam lingkup yang lebih luas dengan langkah-langkah konkrit agar masyarakat dan pembuat kebijakan sadar perlunya rencana aksi segera untuk menanggulanginya," tambahnya.

Pembukaan pameran ini sejalan dengan dikeluarkannya laporan terbaru oleh the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di Paris. Laporan ini diharapkan dapat mengkonfirmasi bahwa perubahan iklim akan terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan, serta akan mempunyai dampak yang sangat berbahaya bagi negaranegara kepulauan yang rentan seperti Indonesia. "Indonesia mempunyai pilihan - menjadi bagian dari masalah atau memberikan

solusi untuk menanggulangi krisis iklim. Bukan dengan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir atau batu bara, namun dengan mendayagunakan potensi energi terbarukan. Greenpeace yakin masih ada waktu untuk bertindak," jelas Emmy Hafild lebih lanjut.

"Laporan terbaru Greenpeace menunjukkan bahwa masih mungkin untuk mengurangi emisi gas rumah kaca global hingga 50% pada tahun 2050 melalui pertumbuhan energi terbarukan dan efisiensi energi. Sangatlah jelas bahwa kita mempunyai sumber dayanya, dan jika kita bertindak sekarang, kita masih mempunyai waktu. Satu-satunya yang tidak kita miliki adalah dukungan politis," tambahnya.

Greenpeace adalah organisasi kampanye yang independen, yang menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap masalah lingkungan hidup, serta mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai.

Other contacts: Nur Hidayati, Climate & Energy Campaigner, Greenpeace Southeast Asia, +62 812 997 2642 Ann Sjamsu, Media Campaigner, +62 855 885 1121