Pagi ini sekitar 200 penduduk lokal
menyelenggarakan upacara selamat datang bagi para aktivis
Greenpeace di lokasi pos yang diberi nama "Kamp Pelindung Iklim
(Climate Defender Camp)", yang dibangun di Semenanjung Kampar,
Sumatra (1) yang keberadaannya sedang terancam. Hutan di Kampar
berada di atas lahan gambut dalam yang menyimpan hingga 2 miliar
ton karbon (2). Merupakan salah satu penyimpan karbon terbesar di
dunia dan tempat yang sangat signifikan dalam pertahanan menghadapi
perubahan iklim global (3).
Banyak hutan yang dahulu
mengelilingi semenanjung telah hancur dan berganti menjadi
perkebunan, sebagian besar adalah akasia dan kelapa sawit, yang
produknya telah diekspor ke seluruh dunia untuk dijadikan bahan
pembuatan coklat, pasta gigi, dan biofuel yang disebut-sebut "ramah
iklim".
"Kami mengambil posisi di garis
depan kehancuran hutan dan iklim untuk memberi tahu para pemimpin
dunia bahwa untuk menghindari bencana iklim mereka harus
menghentikan deforestasi di sini dan sekarang," tegas Bustar
Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara langsung dari
lokasi.
"Pekan lalu para pemimpin ASEAN di
Pertemuan ASEAN Summit ke-15 di Thailand telah mendeklarasikan
komitmen untuk membuat sukses di Kopenhagen. Aksi global melawan
perubahan iklim menuntut komitmen yang sama dari negara maju.
Presiden Barack Obama dan para pemimpin Uni Eropa hanya punya waktu
enam pekan untuk serius menyikapi perubahan iklim dengan
mengeluarkan komitmen mengurangi emisi secara drastis baik dari
penggunaan bahan bakar fosil maupun deforestasi. Artinya mereka
harus menginvestasikan dana yang dibutuhkan untuk menghentikan
perusakan hutan global," imbuh Shailendra Yashwant, Direktur
Kampanye Greenpeace Asia Tenggara.
Mengakhiri deforestasi global
memerlukan investasi negara industri sebesar 30 miliar Euro
(sekitar Rp42 triliun) pertahun untuk program perlindungan hutan,
sekaligus komitmen Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono utuk
mengakhiri perusakan hutan dan lahan gambut di Indonesia.
Secara global, jutaan hektar hutan
dirusak setiap bulannya -atau area hutan seluas lapangan bola
hancur setiap dua detik-menghasilkan emisi CO2 massal, deforestasi
menjadi penyebab utama perubahan iklim. Itu artinya kita akan
menghadapi kepunahan spesies massal, banjir, kekeringan dan
kelaparan kecuali kita bisa berhenti merusak hutan di negara
seperti Indonesia. Emisi dari deforestasi membawa Indonesia menjadi
negara ketiga terbesar penghasil emisi, setelah China dan Amerika
Serikat.
Greenpeace mendesak para pemimpin
negara Uni Eropa, yang akan bertemu di Brussel pada 29 dan 30
Oktober ini, untuk berkomitmen menyetujui kesepakatan adil,
ambisius dan mengikat di Kopenhagen. Untuk berperan menghentikan
deforestasi mereka harus menyediakan uang di meja.
Saat sistem perlindungan hutan
disiapkan, Greenpeace juga meminta Presiden Yudhoyono untuk
membantu iklim mengambil nafas sejenak dengan cara segera melakukan
moratorium (penghentian sementara) penebangan hutan dan lahan
gambut.
Pada pertemuan iklim PBB di Bangkok
baru-baru ini, SBY berjanji akan mengurangi emisi dari Indonesia
hingga 41 persen jika ada dukungan dana internasional.
Other contacts: Di Eropa :
Belinda Fletcher, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Internasional +44 7801 212 991
Matilda Bradshaw, Komunikasi Greenpeace Internasional +31 6 2900 1131
Di Indonesia:
Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara +62 81344666135
Hikmat Soeriatanuwijaya, Media Campaigner - Greenpeace Asia Tenggara +62 818930271
VVPR info: Findi Kenandarti, Asistan Media Campaigner – Greenpeace Asia Tenggara +816 168 1840
Notes: Catatan Editor:
(1) Kementerian Kehutanan Indonesia telah memberi izin konsesi kepada perusahaan pulp and paper untuk menghancurkan area ini.
Untuk Informasi lebih lanjut silahkan lihat:
www.greenpeace.or.id/pembelaiklim
(2) Kalkulasi Greenpeace berdasarkan Wahyunto, S Ritung dan H. Subagjo (2003): “Peta Area Distribusi Lahan Gambut dan Kandungan Karbon di Sumatra, 1990 – 2002, Wetlands International - Indonesia Programme & Wildlife Habitat Canada (WHC). Lihat Juga: Kampar Peninsula as a peat swamp forest conservation priority Briefing for NGO use only by Otto Miettinen, 21 July, 2007 http://www.maanystavat.fi/april/resourcesforkampar2007/Miettinen2007longKamparPeninsula.pdf
(3) Fred Pearce 2007 Bog Barons, Indonesia’s carbon catastrophe New Scientist, 1 December 2007, issue 2632