Greenpeace: listrik murah dan rendah karbon bagi warga Indonesia

Siaran Pers - 27 Nopember, 2007
Indonesia dapat menghasilkan lebih dari 60 persen dari pasokan listriknya dari sumber-sumber energi terbarukan pada tahun 2050 sehingga ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor dapat berkurang dan dapat menyediakan listrik yang lebih murah, demikian menurut laporan terbaru hasil kerja sama Greenpeace, Engineering Center Universitas Indonesia dan Dewan Energi Terbarukan Eropa.

Indonesia dapat menghasilkan lebih dari 60 persen dari pasokan listriknya dari sumber-sumber energi terbarukan pada tahun 2050 sehingga ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor dapat berkurang dan dapat menyediakan listrik yang lebih murah, demikian menurut laporan terbaru hasil kerja sama Greenpeace, Engineering Center Universitas Indonesia dan Dewan Energi Terbarukan Eropa.

Laporan ini juga menyerukan agar Pemerintah Indonesia mencoba pilihan yang rendah karbon di bidang energi menjelang diadakannya konferensi PBB tentang perubahan iklim di Bali.

 

Laporan bertajuk [R]evolusi Energi atau Energy [R]evolution ini, pandangan mengenai energi berkelanjutan di Indonesia,  menawarkan gabungan antara teknologi energi terbarukan dan efisiensi energi sebagai cara yang bersih dan hemat menuju energi yang aman, yang berdampak minimal terhadap sistem iklim. Laporan ini menyokong suatu kondisi yang bebas dari fluktuasi pasar bahan bakar fosil yang tidak stabil dan juga akan bahaya energi nuklir.

 

Indonesia sudah menjadi negara mengimpor minyak sementara dan produki gas-nya menurun. Maka inilah saat yang tepat untuk melihat pada peningkatan penggunaan energi alternatif sehingga Indonesia dapat menyediakan listrik yang murah yang berasal dari sumber-sumber yang ramah lingkungan kepada rakyatnya,” kata Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara, Emmy Hafild.

 

“Skenario bagi Indonesia yang dianalisa dalam laporan Energy [R]evolution tidak hanya cocok dengan target-target penurunan CO2 secara global tapi juga membantu untuk meringankan tekanan ekonomi terhadap masyarakat. Meningkatnya efisiensi energi dan bergesernya penyediaan energi ke sumber-sumber energi terbarukan, dalam jangka panjang akan mengurangi pengeluaran untuk biaya listrik sampai sebesar 30 persen,” kata Sven Teske, ahli energi terbarukan dari Greepeace Internasional yang juga turut menyusun laporan ini.

 

Untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak dalam menghasilkan listrik yang mengakibatkan naiknya pemakaian listrik rumah tangga, pengembangan sumber-sumber energi terbarukan menjadi makin penting, demikian menurut laporan ini. Dengan begitu, pemakaian energi panas bumi (geothermal) untuk menghasilkan listrik mendapat perhatian lebih. Dukungan terhadap sumber-sumber energi terbarukan secara hukum berada dalam wewenang Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

 

“Penting bagi Pemerintah Indonesia untuk segera membuat kebijakan yang jelas dalam investasi dan rancangan pendanaan untuk merintis industri energi terbarukan. Menyusun kembali kerangka aturan akan sangat mendorong pemakaian energi terbarukan di rumah-rumah tangga, industri dan penyediaan listrik. Pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan serta pengalihan ilmu pengetahuan serta teknologi menjadi keharusan, ditambah dengan peningkatan sarana dan industri lainnya yang terkait degan pengembangan sektor energi terbarukan,” kata Bayu Indrawan dari Engineering Center Universitas Indonesia.

Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim pada tanggal 3-16 Desember 2007, di mana pemerintah-pemerintah di dunia akan menyetujui cara-cara menekan emisi gas rumah kaca demi menghentikan dampak buruk akibat perubahan iklim. Saat ini, kapal Greenpeace, Rainbow Warrior, tengah berada di Indonesia untuk membawa pesan tentang pentingnya bertindak untuk iklim, dimulai dengan suatu revolusi energi global.

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen yang bekerja untuk mengubah sikap dan perilaku, demi melindungi dan melestarikan lingkungan hidup dan mengusung perdamaian

Other contacts: Informasi Lebih lanjut, hubungi: Sven Teske, Juru Kampanye Energi Greenpeace Internasional, + 316 2129 6894. Bayu Indrawan, Koordinator Data Mining, Energy and Power, Engineering Center Universitas Indonesia, +62 819 483 1323. Chris Nusatya, Media Campaigner, Greenpeace SEA-Indonesia, +62 812 107 8050 Di atas kapal Rainbow Warrior: Arthur Jones Dionio, Communications Manager, Greenpeace SEA, +6281317870154 or +6681 4451398. Nomor telepon Rainbow Warrior, +31 653 464 289

Notes: report link : http://www.energyblueprint.info/484.0.html