Kapal Greenpeace "Rainbow Warrior" hari ini (23/5) menghadang pengriman batu bara pada pembangkit listrik batu bara Pagbilao dalam aksi yang memprotes rencana perluasan pembangkit listrik tersebut di propinsi Guezon,150 kilometer barat daya dari Manila.
Spanduk raksasa bertuliskan
“Quit Coal” (Hentikan penggunaan batu bara) dipasang pada Rainbow Warrior guna
mendorong pemerintah Filipina untuk menghentikan pembangunan dan perluasan
pembangkit listrik batu bara. Sementara para menteri lingkungan hidup G8 –
perkumpulan negara-negara industri terkaya di dunia – bertemu di Jepang guna
mendiskusikan solusi untuk mengatasi masalah perubahan iklim, Greenpeace
menyerukan pada mereka untuk mengikuti jejak Gubernur propinsi Albay, Joey
Sarte Salceda, yang pada hari Rabu lalu telah menyatakan Albay sebagai zona
bebas batu bara: “Kami percaya bahwa batu bara tidak lagi memiliki tempat di
dunia yang sedang dilanda perubahan iklim dan sudah tentu tidak ada tempat bagi
batu bara di Albay,” serunya.
”Para negara G8 harus menyadari bahwa peningkatan penggunaan batu bara bukanlah
merupakan pemecahan atas masalah energi yang sedang kita hadapi. Apabila negara
berkembang seperti Filipina dapat menghentikan penggunaan batu bara maka negara
kaya dan maju seperti mereka yang tergabung di G8 tentu dapat melakukannya tanpa
membangun pembangkit listrik batu bara baru, namun dengan membangun sistem
energi yang bersih dan efisien. Skenario Revolusi Energi Greenpeace menunjukkan
bahwa hal ini dapat dilakukan, (1)” ujar Jasper Inventor, Juru Kampanye Iklim
dan Energi Greenpeace Asia Tenggara.
Membakar batu bara merupakan satu-satunya sumber emisi CO2 terbesar dan menjadi
penyebab pemanasan global. Filipina sebagai negara kepulauan dengan lebih dari
7,000 pulau kecil sangat rentan terhadap risiko iklim saat ini serta perubahan
iklim di masa mendatang. (2) Perubahan pola iklim berarti akan ada lebih banyak
bencana angin topan, longsor serta kekeringan. Kenaikan permukaan air laut
mengancam pulau-pulau yang terletak dekat dengan permukaan air laut. Tahun lalu
LSM Germanwatch mengidentifikasi Filipina sebagai negara yang akan terkena
dampak perubahan iklim yang paling parah. (3)
Filipina memiliki kelebihan
kapasitas pembangkitan listrik sebesar 54% namun alih-alih melakukan investasi
untuk menyelesaikan masalah dalam jaringan yang menyebabkan terbuangnya
kapasitas tersebut, pihak pemerintah malah mengajukan pembangunan pembangkit
listrik batu bara baru dan perluasan pembangkit listrik yang sudah ada.
”Pemerintah Filipina seharusnya melihat deklarasi Albay sebagai seruan mendesak
untuk mengambil tindakan mengatasi ancaman perubahan iklim. Kita tidak dapat meneruskan
ketergantungan kita terhadap batu bara lantaran harga pasarannya yang terus meningkat
serta dampak lingkungan yang terkait dengan penggunaan batu bara. Penggunaan
batu bara akan memperburuk ketahanan energi kita. Filipina seharusnya
mengirimkan pesan keras kepada negara-negara ASEAN untuk melakukan penghentian
penggunaan batu bara secara bertahap . Greenpeace juga menyerukan negara
berkembang untuk menyediakan bantuan pada negara-negara berkembang seperti
Filipina dalam upayanya memerangi perubahan iklim,” ujar Jasper Inventor.
The Rainbow Warrior memimpin kampanye “Quit Coal” yang dilancarkan Greenpeace
di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. Tur kapal ini bermaksud untuk memajukan
solusi dalam menghentikan perubahan iklim – sebuah revolusi energi yang jauh
dari penggunaan batu bara yang membawa dampak merusak serta pergeseran besar
kea rah penggunaan sumber-sumber energi terbarukan.
Other contacts: Beau Baconguis, Manajer Kampanye, Greenpeace Asia Tenggara, +63 91 7803 6077
Lea Guerero, Juru Kampanye Media di atas kapal “The Rainbow Warrior”, +63 91 6374 4969
Beth Herzfeld, Penghubung Media, Greenpeace Internasional, +44 (0) 7717 802 891
VVPR info: Desk Foto Internasional + 44 (0) 7801 615 889
Desk Video Internasional +31 646 16 2015
Notes: 1) Skenario Revolusi Energi Greenpeacedapat dilihat di http://www.energyblueprint.info
(2) Hasil penelitian Dr. Leoncio Amadore, ahli meteorology ternama Filipina, menunjukkan bahwa kepulauan Filipina sudah banyak dilanda kejadian iklim ekstrim. Laporannya yang bertajuk ‘Krisis atau Peluang: Dampak-dampak Perubahan Iklim di Filipina,’ mengindikasikan bahwa dari tahun 1975 sampai dengan 2002, bencana angina topan menjadi semakin intensif dan telah menyebabkan rata-rata 593 kematian serta perkiraan kerugian harta benda sebesar 4.5 milyar Pose Filipina (sekitar US$ 83 juta), termasuk kerugian pada pertanian yang berkisar 3 milar peso (sekitar US$ 55 juta).
(3) Germanwatch: Global Climate Risk Index 2008, http://www.germanwatch.org/ccpi.htm