Greenpeace mengkonfrontasi Deforestasi di Kebun Kelapa Sawit

Siaran Pers - 22 Oktober, 2007
Greenpeace hari ini membentang spanduk berukuran 10x12 meter yang bertuliskan “Save our forest, save our climate” (Selamatkan hutan, selamatkan iklim) di sisa hutan dekat perkebunan kelapa sawit di Indragiri Hulu, Riau, untuk menunjukkan pengrusakan yang terus terjadi di hutan gambut Indonesia.

Greenpeace hang a 10m x 12m banner ìSave our forest, save our climateî on the remaining forest adjacent to an encroaching oil palm plantation in Indragiri Hulu, Riau Province to shine a spotlight on the ongoing destruction of peatlands forests in Indonesia.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Indonesia Anton Apriyantono melakukan kampanye ”Promosi Minyak Kelapa Sawit Lestari” di Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya. Disebutkan, Anton memproklamasikan bahwa pelestarian lingkungan menjadi pusat dari produksi minyak kelapa sawit di Indonesia di masa mendatang dan perusahaan yang kedapatan merusak hutan lindung akan diproses secara hukum. Namun pada kenyataannya, perusakan terhadap hutan-hutan gambut Sumatera tetap berlanjut.

Aktivitas pembentangan spanduk ini menjadi bagian dari kegiatan “Kamp Pembela Hutan” (Forest Defenders Camp/FDC) yang berlokasi tepat di perbatasan perkebunan kelapa sawit (1). Saat ini, kegiatan lain juga sedang berlangsung di kamp, seperti pelatihan pemadam kebakaran bersama dengan masyarakat di Desa Kuala Cenaku dan Kuala Mulia.

Kegiatan ini bertujuan memberdayakan masyarakat setempat dalam menghadapi kebakaran di hutan dan lahan gambut. FDC sendiri menjadi bagian dari usaha internasional yang dilakukan Greenpeace untuk melindungi sisa hutan di dunia dan perubahan iklim global yang menjadi bahasan negosiasi Kyoto Protokol dalam konperensi UNFCCC di Bali, bulan Desember mendatang.

“Perubahan dari hutan ke perkebunan tidak hanya merusak hutan yang berharga, namun juga menjadikan Indonesia sebagai penyumbang gas rumah kaca secara ketiga terbesar di dunia. Salah satu penyebabnya adalah kerusakan di hutan lahan gambut Kalimantan dan Sumatera, terutama untuk produksi kelapa sawit,” kata Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara Hapsoro.

Lahan gambut tropis, terbentuk dari ribuan tahun di bawah hutan-hutan rawa gambut. Seiring hilangnya hutan rawa maka terbentuklah tumpukan gambut, dan menambah kekayaan karbon dari generasi ke generasi bagi pepohonan. Indonesia mempunyai 22,5 juta hektar lahan gambut atau sekitar 12 persen dari daratannya dan 83 persen dari lahan gambut di Asia Tenggara. Diperkirakan lahan gambut di Asia Tenggara menyimpan 42 miliar ton karbon.

Susanto Kurniawan, Koordinator Jikalahari menyatakan, “Kelapa Sawit yang diproduksi belakangan sangat tidak lestari, karena telah merusak sisa hutan di Riau dan bagian lain di Sumatera, dan juga telah merusak habitat dari sejumlah spesies yang dilindungi. Masyarakat setempat juga telah diusir dari lahan mereka dan sejumlah besar gas telah terlepas.”

Hapsoro menambahkan, “Kerusakan hutan menjadi agenda utama pemerintah Indonesia. Mereka sadar, sorotan Internasional akan mengarah ke Indonesia karena akan menjadi tuan rumah suatu pertemuan besar di dunia yang membahas perubahan iklim dunia. Namun, jika ingin dianggap serius dalam pembahasan internasional tentang perubahan iklim, Indonesia harus banyak melakukan tindakan dari pada hanya bicara, harus berbuat banyak untuk melindungi karbon.”

“Menjelang pertemuan Protokol Kyoto di Bali bulan Desember mendatang, Greenpeace ingin agar pemerintah Indonesia bersungguh-sungguh terhadap moratorium pengalihan hutan lahan gambut dan menjamin tindakan yang efektif untuk melawan kebakaran hutan,” tambah Hapsoro.

Di masa mendatang, pemerintah Indonesia harus bertindak lebih jauh dan bersungguh-sungguh pula dengan moratorium deforestrasi dan industri perkayuan, meninjau-ulang peraturan dan perundangan, tata kelola dan penegakan hukum, serta melaksanakan perencanaan tata guna lahan yang adil dan bertanggung jawab.

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen yang menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap masalah lingkungan hidup dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai

Other contacts: Informasi lebih lanjut dan kontak wawancara: Hapsoro, Forest Campaigner Greenpeace Asia Tenggara (saat ini berada di FDC) +62 813 784 89 700. Susanto Kurniawan, Koordinator Jikalahari (Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau) +62 812 763 1775. I. Christianto Nusatya, Media Campaigner Greenpeace Asia Tenggara +62 21 3101873 / +62 812 107 8050.

VVPR info: Untuk foto dan video tentang aksi Greenpeace, kontak: I. Christianto Nusatya, Media Campaigner Greenpeace Asia Tenggara +62 21 3101873 / +62 812 107 8050.

Notes: (1) Relawan di FDC, berlokasi di desa Kuala Cenaku,Indragiri Hulu, Riau, juga melakukan pengamatan kebakaran hutan,baik di lapangan maupun dari udara dengan menerbangkan paramotor serta melakukan survei kedalaman lahan gambut dan akan meneliti keanekaragaman-hayati di area ini.