Greenpeace hang a 10m x 12m banner ìSave our forest, save our climateî on the remaining forest adjacent to an encroaching oil palm plantation in Indragiri Hulu, Riau Province to shine a spotlight on the ongoing destruction of peatlands forests in Indonesia.
Sebelumnya,
Menteri Pertanian Indonesia Anton Apriyantono melakukan kampanye ”Promosi
Minyak Kelapa Sawit Lestari” di Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya.
Disebutkan, Anton memproklamasikan bahwa pelestarian lingkungan menjadi pusat
dari produksi minyak kelapa sawit di Indonesia di masa mendatang dan
perusahaan yang kedapatan merusak hutan lindung akan diproses secara hukum. Namun
pada kenyataannya, perusakan terhadap hutan-hutan gambut Sumatera tetap
berlanjut.
Aktivitas
pembentangan spanduk ini menjadi bagian dari kegiatan “Kamp Pembela Hutan”
(Forest Defenders Camp/FDC) yang berlokasi tepat di perbatasan perkebunan
kelapa sawit (1). Saat ini, kegiatan lain juga sedang berlangsung di kamp,
seperti pelatihan pemadam kebakaran bersama dengan masyarakat di Desa Kuala
Cenaku dan Kuala Mulia.
Kegiatan
ini bertujuan memberdayakan masyarakat setempat dalam menghadapi kebakaran di hutan
dan lahan gambut. FDC sendiri menjadi bagian dari usaha internasional yang
dilakukan Greenpeace untuk melindungi sisa hutan di dunia dan perubahan iklim
global yang menjadi bahasan negosiasi Kyoto Protokol dalam konperensi UNFCCC di
Bali, bulan Desember mendatang.
“Perubahan
dari hutan ke perkebunan tidak hanya merusak hutan yang berharga, namun juga
menjadikan Indonesia
sebagai penyumbang gas rumah kaca secara ketiga terbesar di dunia. Salah satu
penyebabnya adalah kerusakan di hutan lahan gambut Kalimantan
dan Sumatera, terutama untuk produksi kelapa sawit,” kata Juru Kampanye Hutan
Greenpeace Asia Tenggara Hapsoro.
Lahan
gambut tropis, terbentuk dari ribuan tahun di bawah hutan-hutan rawa gambut.
Seiring hilangnya hutan rawa maka terbentuklah tumpukan gambut, dan menambah
kekayaan karbon dari generasi ke generasi bagi pepohonan. Indonesia mempunyai
22,5 juta hektar lahan gambut atau sekitar 12 persen dari daratannya dan 83
persen dari lahan gambut di Asia Tenggara. Diperkirakan lahan gambut di Asia
Tenggara menyimpan 42 miliar ton karbon.
Susanto
Kurniawan, Koordinator Jikalahari menyatakan, “Kelapa Sawit yang diproduksi
belakangan sangat tidak lestari, karena telah merusak sisa hutan di Riau dan
bagian lain di Sumatera, dan juga telah merusak habitat dari sejumlah spesies
yang dilindungi. Masyarakat setempat juga telah diusir dari lahan mereka dan
sejumlah besar gas telah terlepas.”
Hapsoro
menambahkan, “Kerusakan hutan menjadi agenda utama pemerintah Indonesia.
Mereka sadar, sorotan Internasional akan mengarah ke Indonesia karena akan menjadi tuan
rumah suatu pertemuan besar di dunia yang membahas perubahan iklim dunia.
Namun, jika ingin dianggap serius dalam pembahasan internasional tentang
perubahan iklim, Indonesia
harus banyak melakukan tindakan dari pada hanya bicara, harus berbuat banyak
untuk melindungi karbon.”
“Menjelang
pertemuan Protokol Kyoto di Bali bulan Desember mendatang, Greenpeace ingin
agar pemerintah Indonesia bersungguh-sungguh terhadap moratorium pengalihan
hutan lahan gambut dan menjamin tindakan yang efektif untuk melawan kebakaran
hutan,” tambah Hapsoro.
Di
masa mendatang, pemerintah Indonesia
harus bertindak lebih jauh dan bersungguh-sungguh pula dengan moratorium
deforestrasi dan industri perkayuan, meninjau-ulang peraturan dan perundangan,
tata kelola dan penegakan hukum, serta melaksanakan perencanaan tata guna lahan
yang adil dan bertanggung jawab.
Greenpeace adalah organisasi kampanye independen yang
menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap masalah
lingkungan hidup dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang
hijau dan damai
Other contacts: Informasi lebih lanjut dan kontak wawancara:
Hapsoro, Forest Campaigner Greenpeace Asia Tenggara (saat ini berada di FDC) +62 813 784 89 700.
Susanto Kurniawan, Koordinator Jikalahari (Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau) +62 812 763 1775.
I. Christianto Nusatya, Media Campaigner Greenpeace Asia Tenggara +62 21 3101873 / +62 812 107 8050.
VVPR info: Untuk foto dan video tentang aksi Greenpeace, kontak:
I. Christianto Nusatya, Media Campaigner Greenpeace Asia Tenggara +62 21 3101873 / +62 812 107 8050.
Notes: (1) Relawan di FDC, berlokasi di desa Kuala Cenaku,Indragiri Hulu, Riau, juga melakukan pengamatan kebakaran hutan,baik di lapangan maupun dari udara dengan menerbangkan paramotor serta melakukan survei kedalaman lahan gambut dan akan meneliti keanekaragaman-hayati di area ini.